Saudaraku,
Menyenangkan hati Tuhan adalah harta abadi yang tidak akan pernah bisa diambil oleh siapa pun. Tidak keliru kalau hal ini bisa dikatakan sebagai “harta surgawi,” sebab Tuhan tidak akan memperkenan orang yang tidak menyukakan hati-Nya masuk ke dalam Kerajaan-Nya. Orang kaya dalam Lukas 12:16-21, menggambarkan orang yang hidup hanya untuk kesukaan sendiri. Ia sibuk dengan segala cita-cita dan keinginannya tanpa mau mengerti bagaimana seharusnya menyenangkan hati Tuhan. Akhirnya ia mati dalam keadaan tidak kaya di hadapan Tuhan (Luk. 12:20-21). Hal ini sejajar dengan yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 16:19-31. Dalam fragmen tersebut Tuhan Yesus menunjukkan nasib orang kaya yang tidak menyukakan hati Tuhan di kekekalan. Oleh karena ia membiarkan Lazarus mati dalam penderitaan di depan matanya, maka tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Surga (Mat. 25:41-46).
Walaupun Tuhan memberi kesempatan untuk mengumpulkan harta di surga, tetapi banyak orang mengabaikannya. Mereka lebih suka mengumpulkan harta di dunia, yaitu memuaskan diri sendiri dengan segala keinginan dan cita-citanya sehingga tidak memedulikan sesamanya. Padahal Tuhan memberi waktu yang terbatas di bumi ini untuk menunjukkan atau membuktikan bahwa mereka mengasihi Tuhan dengan berusaha menyenangkan hati-Nya. Orang yang gagal menyenangkan hati Tuhan berarti gagal menjadi anak-anak Allah. Sebab anak-anak Allah ditandai dengan kehidupan menyukakan hati-Nya. Inilah harta surgawi yang harus dikumpulkan melalui proses dalam perjalanan waktu.
Proses, maksudnya adalah adanya tahapan-tahapan perubahan dari sikap hati menyukakan hati sendiri kepada menyukakan hati Tuhan. Sikap hati menyukakan diri sendiri ini tidak mudah diubah, karena sudah berakar lama, belasan bahkan puluhan tahun. Pertumbuhan memiliki sikap menyukakan Bapa sama dengan pertumbuhan kedewasaan rohani, yaitu memiliki pikiran dan perasaan Kristus; yang kesukaan-Nya melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Jadi, menumbuhkan sikap hati menyukakan Tuhan sama dengan menumbuhkan kedewasan rohani agar kita layak menjadi anak-anak Allah. Untuk ini seseorang harus menyediakan diri tanpa batas. Namun waktu yang tersedia sangat terbatas, dan ini adalah modal yang Tuhan berikan guna menjadi anak-anak Allah yang sah. Kalau kita menyia-nyiakan kesempatan ini, maka kita tidak akan memiliki kesempatan di dunia lain.
Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono
Orang yang gagal menyenangkan hati Tuhan berarti gagal menjadi anak-anak Allah.