Skip to content

MENYENANGKAN HATI TUHAN

Saudaraku,

Tidak ada hal yang lebih mulia, agung dan membahagiakan dari menyenangkan hati Tuhan. Ini adalah “nilai lebih” atau nilai satu-satunya yang dimiliki manusia lebih dari segala keberadaan yang lain, sebab memang manusia diciptakan hanya untuk melakukan kehendak dan rencana Penciptanya. Manusia bisa memiliki segala kelebihan, tetapi kalau ia tidak menyukakan hati Tuhan, semuanya menjadi sia-sia. Manusia tidak berhak hidup untuk siapapun, bahkan tidak juga untuk dirinya sendiri, kecuali untuk Penciptanya. Jika tidak demikian, maka ciptaan tersebut patut hanya menjadi sampah. Ini adalah hukum yang mutlak, tidak bisa dikurangi setitik pun.

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Rm. 11:36). Tuhan akan membuang semua orang yang tidak mengenal siapa diri-Nya dan yang tidak mengakui secara benar hak dan kehormatan Tuhan sebagai Pencipta. Tuhan berhak untuk bertindak demikian sebab Dia adalah Penguasa yang berdaulat tanpa batas. Kita harus bersyukur dan sungguh-sungguh menghargai kesempatan tidak ternilai menjadi manusia, sebab kalau kita menjadi binatang kita tidak akan pernah memiliki kesempatan menyenangkan hati Tuhan. Hanya manusia yang memiliki keberadaan seperti Allah sendiri (Yun. imago Dei). Manusia juga berpotensi untuk dapat menyenangkan hati-Nya dengan melakukan segala sesuatu yang Tuhan kehendaki dan Tuhan rencanakan untuk kita lakukan dengan tepat. Inilah kehormatan dan kebesaran kita sebagai manusia gambar Allah yang juga merupakan mahkota ciptaan Allah.

Terkait dengan hal ini, kita harus menyadari betapa hebat dan sungguh luar biasa diperkenan menyenangkan hati Tuhan, sebab hal ini sama dengan bisa membuat irama atau gerakan di hati Tuhan. Siapa yang bisa mengerakkan kalau bukan manusia yang adalah anak-anak-Nya? Jadi, kalau kita menyiakan-nyiakan kesempatan ini, sebaiknya kita tidak pernah menjadi manusia atau tidak pernah ada. Hal ini akan dimengerti lengkap tatkala seseorang terbuang dari hadirat Allah selamanya menjadi sampah abadi. Ia pasti akan menyesali mengapa dirinya pernah ada di bumi ini. Penyesalan selalu datang belakangan. Oleh sebab itu selagi masih ada kesempatan untuk bertobat, maka hendaknya kita segera berbalik kepada Tuhan. Mulai sekarang kita harus sungguh-sungguh memikirkan serius dan mengusahakan untuk memiliki kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan.

 

Teriring salam dan doa,

Dr. Erastus Sabdono

Manusia tidak berhak hidup untuk siapapun,