Skip to content

Hidup Nyaman

 

Ada dua hal yang penulis perkarakan atau pertanyakan dalam perjumpaan dengan Tuhan. Yang pertama, mengapa orang-orang Kristen pada gereja mula-mula begitu setia kepada Tuhan, begitu kokoh dalam mempertahankan iman? Sekalipun mereka mengalami aniaya yang sangat hebat dan Tuhan seakan-akan tidak hadir—di tengah penderitaan mereka Tuhan tidak membela—mereka tetap taat dan setia. Tentu saja mereka menjerit, berseru, dan berdoa, tetapi Tuhan seolah-olah tidak membela. Ternyata jawabannya ialah karena mereka memercayai Tuhan Yesus sepenuhnya; mereka memercayai semua yang diajarkan dan semua yang dikatakan oleh Tuhan Yesus.

Kedua, mengapa pada hari ini banyak orang Kristen atau komunitas Kristen tidak berjalan di dalam kebenaran sesuai Injil? Jawabannya ialah karena sejak dahulu memang hanya sedikit orang yang terpilih. Buktinya, dari ratusan ribu bahkan jutaan bangsa Israel, hanya segelintir orang yang setia mengikut Tuhan. Bahkan, jika kita melihat sejarah gereja dari tujuh jemaat yang menerima surat dalam kitab Wahyu, kini gereja-gereja itu telah menjadi reruntuhan. Jadi, walaupun hari ini terkesan banyak orang Kristen, sesungguhnya orang Kristen yang sejati itu sangat sedikit. Orang Kristen yang menaruh percaya kepada Tuhan Yesus, dan karena kepercayaannya itu rela mengorbankan apa pun.

Penderitaan dan aniaya yang dialami oleh orang-orang Kristen pada gereja mula-mula sesungguhnya merupakan bentuk pembelaan Tuhan atas mereka. Jika pada masa kini banyak lagu rohani yang menyatakan bahwa Tuhan pasti memberi kemenangan, Tuhan mendengar doa dan memberi pertolongan, Tuhan memedulikan dan tidak membuat kecewa, pemahaman seperti itu keliru. Tuhan Yesus yang sejati tidak demikian. Pembelaan Tuhan tidak membuat hidup kita nyaman di bumi. Justru pembelaan Tuhan membuat hidup kita tidak nyaman di bumi. Bahkan, jika diungkapkan dengan bahasa yang lebih lugas, kekristenan itu menyusahkan karena membawa kita kepada salib.

Tidak ada salib yang enak, tidak ada salib yang nyaman. Salib selalu berbicara tentang penderitaan. Karena itu, betapa berbahayanya orang yang hidup dalam kenyamanan, dan betapa berbahayanya orang yang menginginkan kenyamanan di bumi. Jika seseorang tidak memiliki masalah yang berat, kondisi ekonomi baik, dan kesehatan berjalan dengan lancar, maka sesungguhnya ia harus memikul tanggung jawab rohani. Tidak ada seorang Kristen pun yang boleh hidup tanpa salib. Setiap orang harus menemukan salibnya masing-masing dan memandangnya sebagai berkat. Namun, dari sekian juta orang Kristen, berapa banyak yang berani memikul salib? Mungkin mereka tidak mengalami aniaya secara fisik, tetapi mereka tetap harus menemukan salibnya. Perjuangan yang pertama ialah mengikuti jejak Tuhan Yesus; itu pasti. Perjuangan yang kedua ialah bagaimana ia menolong orang lain agar juga dapat memiliki karakter Kristus di dalam hidupnya.

Dalam kehidupan orang percaya, Tuhan menjanjikan sesuatu yang luar biasa, yaitu berjalan di dalam terang. Yohanes 1:4 menyatakan, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Selama ini banyak orang Kristen yang salah memahami, atau hanya memahami secara dangkal, makna “berjalan di dalam terang”. Pengalaman berjalan di dalam terang pasti dialami oleh orang Kristen yang hidupnya benar. Gereja mula-mula yang menghadapi aniaya yang begitu berat pasti mengalami hidup berjalan di dalam terang ini. Penderitaan fisik, kemiskinan, aniaya, atau keadaan sulit apa pun tidak menutup kemungkinan seseorang berjalan di dalam terang.

Masalahnya, banyak orang Kristen merasa sudah hidup berjalan di dalam terang hanya karena tidak melakukan pelanggaran moral, rajin beribadah, atau bahkan terlibat dalam pelayanan. Biasanya orang seperti ini merasa dirinya sudah layak masuk surga. Karena pengertian yang keliru ini, banyak orang Kristen tidak berusaha bertumbuh untuk mencapai keadaan yang sungguh-sungguh mengalami hidup di dalam terang. Jangan berpikir bahwa karena Yesus telah mati di kayu salib dan salib itu menebus dosa-dosa kita, maka semuanya sudah selesai.

Yesus memberikan hidup bukan hanya dengan menyerahkan hidup-Nya di kayu salib, tetapi juga supaya hidup-Nya dikenakan oleh kita. Orang yang tidak mengenakan hidup-Nya sesungguhnya adalah orang yang belum menerima dan belum mengalami keselamatan. Salah satu keteladanan hidup-Nya yang harus kita ikuti ialah ketaatan dan kesetiaan-Nya kepada Bapa di surga.