Skip to content

Konsekuensi Kesetiaan

 

Kesetiaan selalu memiliki dua konsekuensi ketika dijalani. Pertama, dalam kesetiaan tidak ada jaminan bahwa kesetiaan yang sama akan berbalik kepada kita. Hal ini sejajar dengan konsekuensi dalam pengampunan. Mengampuni seseorang tidak berarti bahwa orang tersebut pasti berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, mengampuni berarti menerima bahwa seseorang pernah melukai kita, lalu kita memutuskan untuk berdamai dengan luka itu, sekalipun tanpa jaminan bahwa luka tersebut tidak akan terbuka kembali.

Kedua, ketika seseorang setia, ia akan diperhadapkan dengan cobaan yang menguji kesetiaan itu. Cobaan tersebut dapat berupa konsekuensi pertama yang telah disebutkan, yaitu ketika orang yang kepadanya kita setia justru tidak setia. Ketika hal ini terjadi, sering kali seseorang mulai berpikir ulang untuk tetap setia. Pada umumnya, manusia memang akan berhenti setia ketika tidak menerima kesetiaan yang serupa dari pihak lain.

Konsekuensi kesetiaan tersebut berlaku dalam hubungan antarmanusia. Lalu bagaimana dengan kesetiaan dalam hubungan antara Allah dan manusia? Dari pihak Allah, sepenuhnya Allah menanggung konsekuensi yang sama. Allah yang setia tidak selalu diimbangi oleh kesetiaan manusia. Firman Tuhan melalui Paulus mengatakan, “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2 Timotius 2:13). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah yang setia berhadapan dengan manusia yang tidak setia. Kesetiaan Allah tidak secara otomatis menjadikan manusia setia. Oleh karena itu, sangat tidak tepat jika ada yang mengatakan bahwa keselamatan manusia telah ditentukan secara mutlak sejak semula tanpa keterlibatan tanggapan manusia.

Selain konsekuensi pertama, Allah juga mengalami konsekuensi kedua, yaitu cobaan terhadap kesetiaan-Nya. Namun, dalam integritas-Nya yang sempurna, Allah memilih untuk tetap setia. Berulang kali dalam Perjanjian Lama dinyatakan bahwa Allah menyesal (Kejadian 6:7), Allah berduka (Yesaya 63:10), dan Allah dikhianati oleh pemberontakan manusia (Habakuk 1:13). Ungkapan-ungkapan ini, meskipun tentu tidak sepenuhnya sejajar dengan pengalaman manusia, merupakan gambaran yang jujur tentang hati Allah ketika kesetiaan-Nya dikhianati. Allah tidak berpura-pura berduka atas pengkhianatan manusia.

Bagaimana dari pihak manusia? Dalam relasinya dengan Allah, dua konsekuensi kesetiaan tersebut bisa dialami, tetapi bisa juga tidak dialami. Hal ini bergantung pada cara seseorang memandang Allah. Jika seseorang menaruh kecurigaan terhadap Allah, maka ketika ia sungguh-sungguh melayani dan setia sebagai orang Kristen, tetapi tidak memperoleh pertolongan Allah dalam masalah besar, ia akan merasa bahwa Allah tidak membalas kesetiaannya. Ia memandang Allah telah meninggalkannya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika banyak orang Kristen mulai meragukan Allah ketika menghadapi persoalan berat. Pada titik inilah kesetiaannya diuji oleh dirinya sendiri.

Sebaliknya, hal ini tidak berlaku bagi orang yang tulus kepada Allah. Orang yang menaruh kesetiaan dengan ketulusan tidak akan merasa dikhianati ketika Allah seolah-olah diam di tengah penderitaannya. Ia justru memandang penderitaan tersebut sebagai kesempatan untuk mengalami Allah. Karena itu, dua konsekuensi kesetiaan di atas tidak berlaku baginya. Sebab Allah adalah setia. Bahkan sebelum kita menunjukkan kesetiaan, Allah telah lebih dahulu setia. Lebih dari itu, kita sesungguhnya “dikepung” oleh kesetiaan-Nya. Allah tidak mungkin tidak setia. Jika dalam ketidaksetiaan kita saja Ia tetap setia, terlebih lagi ketika kita setia kepada-Nya.

Dengan demikian, masalah terbesar bukanlah kesetiaan Allah. Pihak yang paling berisiko dalam relasi ini justru adalah Allah, sebab manusialah yang dapat tidak setia. Dari pihak manusia, tidak ada risiko ketika menaruh kesetiaan kepada Allah, sebab Ia pasti setia. Pertanyaan terpentingnya ialah: apakah kita bersedia dengan tulus, tanpa kecurigaan, menaruh kesetiaan kepada-Nya? Apakah kita bersedia merugi secara duniawi demi setia kepada Allah? Satu-satunya yang dapat mencobai dan menghentikan kesetiaan kita hanyalah diri kita sendiri. Oleh karena itu, musuh sesungguhnya dalam menaruh kesetiaan kepada Allah bukanlah keraguan apakah Allah akan setia atau tidak. Musuh yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri, yang kerap mencurigai Allah ketika agenda pribadi kita tidak terpenuhi.