Saudaraku,
Tata laksana kehidupan yang dirancang Allah Bapa untuk dikenakan manusia hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang hidup pada zaman Perjanjian Baru, sebab Terang itu datang pada zaman penggenapan. Dalam Dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia. Hidup di sini adalah tata laksana kehidupan yang dikehendaki oleh Allah. Di dalam diri Tuhan Yesus, ada tata laksana kehidupan yang Allah Bapa kehendaki dan Tuhan Yesus memperagakannya dengan sangat sempurna. Terang itu menunjuk potensi untuk mengerti kehendak Allah, yaitu segala hal yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. “Berjalan dalam terang” berarti memahami tata laksana kehidupan. Kehidupan bangsa Israel adalah peta kehidupan manusia pada umumnya, yang belum mengenal terang.
Tata laksana kehidupan mereka adalah kehidupan beragama seperti yang diterapkan oleh agama-agama samawi lainnya, walaupun tentu saja kualitas agama Yahudi jauh lebih tinggi. Kalau tata laksana kehidupan cukup dengan aturan agama, Tuhan Yesus tidak perlu datang sebagai Terang. Tuhan Yesus datang membawa terang agar manusia dapat menyelenggarakan hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Prinsip kita sebagai anak Tuhan adalah “Tuhan adalah hukumku.” Orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup seperti yang Tuhan Yesus peragakan, bukan berdasarkan tokoh saleh dalam Perjanjian Lama. Prinsip hidup Tuhan Yesus adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Inilah tata laksana kehidupan yang ideal yang dikehendaki oleh Allah.
Tata laksana kehidupan ideal ini adalah kehidupan yang dalam segala geraknya memuliakan Allah. Kehidupan yang memuliakan Allah adalah kehidupan yang diperagakan oleh Tuhan Yesus. Kehidupan yang memuliakan Allah itu bukan terletak pada nyanyian, bukan pada liturgi atau misa, melainkan pada melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Berkenaan dengan ini tata cara liturgi atau ritual agama apa pun bentuknya justru bisa berpotensi menyesatkan (kalau dipahami keliru), sebab seakan-akan bisa menggantikan ruangan untuk mempermuliakan Tuhan. Pujian, sanjungan dan penyembahan dengan gerak dan mulut bagi Tuhan justru menjijikkan kalau tidak disertai tindakan setiap hari yang membuat orang lain diberkati. “Diberkati” artinya membuat seseorang mengenal Allah yang benar dan bisa berperilaku baik.
Malang sekali, banyak orang Kristen merasa bahwa ia sudah melaksanakan tata laksana hidup yang benar karena sudah menghiasi hidupnya dengan pergi ke gereja. Apalagi kalau sudah mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja, mereka merasa bahwa mereka telah memiliki standar hidup yang diinginkan oleh Tuhan. Padahal mereka sedang tersesat oleh gambar diri yang salah. Mereka merasa sudah melayani Tuhan sebagai hamba Tuhan, diakui masyarakat sebagai hamba Tuhan atau wakil Tuhan dan memiliki kegiatan yang dikategorikan sebagai “imam” bagi umat Tuhan. Padahal, tata laksana hidup yang benar bukan ditandai dengan jabatan dan kegiatan lahiriah, melainkan dengan sikap batiniah. Sikap batiniah yang berkenan adalah segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
Betapa konyolnya lagi kalau gereja dan pemberita firman mengesankan bahwa hidup dengan cara ke gereja dan mengambil bagian dalam kegiatan gereja sudah memenuhi standar tata laksana hidup yang Allah kehendaki. Mereka tidak berbicara tegas bahwa sekali pun sudah bergereja dan mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja, tetapi kalau tidak memiliki sikap batiniah seperti Tuhan Yesus, orang tersebut belum memuaskan hati Allah Bapa. Jika hal ini tidak disampaikan dengan tegas, banyak orang akan menganggap bahwa keselamatan itu murahan dan tidak perlu ada usaha serius untuk itu.
Padahal Tuhan Yesus sendiri menyatakan bahwa kita harus berusaha masuk pintu sesak kalau mau selamat. Di bagian lain, jelas sekali Tuhan Yesus mengatakan tidak mudah seseorang bisa masuk surga. Karena kebenaran ini ditutupi, jemaat pun sudah merasa nyaman dan tenang bergereja. Selanjutnya, jemaat didorong untuk mendukung kegiatan gereja, khususnya dalam bidang keuangan. Jemaat hanya dimanfaatkan potensinya untuk kegiatan gereja tanpa mengajarkan bahwa mereka harus sungguh-sungguh berjuang untuk mengenakan kehidupan diperagakan Tuhan Yesus.
Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono
Tata laksana kehidupan ideal adalah kehidupan yang dalam segala geraknya memuliakan Allah.