Saudaraku,
Memang bila ditinjau secara moral umum, manusia bukanlah makhluk yang rusak total atau rusak mutlak atau apa pun istilahnya seperti yang banyak dideskripsikan oleh beberapa teolog dimana mereka memandang semua manusia sudah rusak sama sekali. Ibarat barang, manusia sudah menjadi sampah yang tidak bernilai sama sekali. Pandangan tersebut hanya untuk membela pandangan bahwa manusia dengan keadaannya sebagai makhluk yang berdosa tidak mampu sama sekali merespons anugerah Allah. Jadi, keselamatan manusia sepenuhnya tergantung pada Allah. Banyak manusia yang dipandang tidak layak menerima keselamatan. Selanjutnya, mereka berkeyakinan bahwa keselamatan hanya disediakan bagi orang-orang tertentu saja. Padahal, pengertian keselamatan itu sendiri belum dibedah dengan jujur dan mendalam.
Jika semua manusia sudah rusak total atau rusak mutlak atau apa pun istilahnya dan tidak bisa diperbaiki, itu berarti semua manusia yang hidup pada zaman sebelum Tuhan Yesus pasti masuk neraka; termasuk di dalamnya Henokh, Ayub, Abraham, dan beberapa tokoh lainnya. Akan tetapi pada kenyataannya, ada orang-orang di Perjanjian Lama yang dinilai Tuhan sebagai sahabat-Nya dan pantas menjadi sahabat-Nya. Henokh bergaul dengan Allah sampai ia diangkat oleh Allah. Ayub dikatakan seorang yang saleh di mata Allah, Abraham adalah sahabat Allah, dan lain sebagainya.
Memang bila ditinjau dari standar kesucian Tuhan, semua kebaikan yang dicapai oleh manusia jauh dari standar tersebut. Oleh sebab itu, standar hidup umat Perjanjian Lama, sesaleh apa pun, tidak bisa menjadi standar hidup orang percaya yang harus sempurna seperti Bapa. Orang-orang saleh di Perjanjian Lama bisa menjadi umat Allah dan walaupun sebagian dari mereka bisa menjadi kekasih-kekasih dan sahabat Allah, mereka tidak bisa menjadi umat Tuhan yang mencapai standar kesucian seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Kalau di dunia yang akan datang mereka diperkenankan masuk “surga,” mereka tidak akan menduduki pemerintahan bersama-sama dengan Kristus. Mereka hanya akan menjadi anggota masyarakat bersama dengan banyak orang dari segala suku bangsa atau menjadi sahabat Tuhan. Di dunia ini, sesungguhnya mereka belum mencapai tata laksana kehidupan yang dikehendaki oleh Allah.
Jika ditinjau dari Injil, manusia yang tidak mencapai standar tata laksana hidup seperti yang dikehendaki oleh Allah adalah manusia yang dinilai gagal. “Gagal” di sini bukan berarti manusia menjadi biadab seperti hewan, tetapi manusia berkeadaan tidak menjadi persis seperti yang Allah Bapa kehendaki. Standar hidup yang benar atau tepat seperti yang Allah kehendaki adalah kehidupan yang diperagakan oleh Tuhan Yesus. Kehidupan Tuhan Yesus adalah kehidupan dalam ketaatan yang tidak bersyarat kepada Allah Bapa, penghormatan yang sempurna kepada Bapa, dan kasih cinta-Nya yang sangat mendalam kepada Allah Bapa tanpa batas. Kurang dari standar hidup tersebut berarti manusia gagal menjadi corpus delicti. Gagal menjadi corpus delicti maksudnya adalah bahwa manusia tidak bisa membuktikan bahwa Iblis bersalah.
Sebenarnya, Iblis sebagai makhluk ciptaan dirancang untuk hidup dalam tata laksana kehidupan dengan standar Allah. Namun, Iblis membuat tata laksana kehidupan sendiri. Itu adalah pemberontakan. Tuhan Yesus memperagakan kehidupan dalam tata laksana sesuai standar Allah. Seharusnya, Iblis bersikap seperti yang Tuhan Yesus peragakan. Akan tetapi, Iblis memilih jalannya sendiri. Namun, Iblis tidak dapat dihukum sebelum dibuktikan kesalahannya, yaitu ketidaktaatan pada Sang Pencipta. Pembuktiannya adalah bila ada pribadi yang menunjukkan bagaimana seharusnya makhluk ciptaan hidup di hadapan Allah Bapa sebagai Penciptanya.
Manusia (Adam) yang seharusnya bisa membuktikan kesalahan Iblis telah gagal, karena manusia tidak menampilkan tata laksana kehidupan yang Allah Bapa inginkan. Manusia pertama gagal mencapai target tersebut. Kerusakan tersebut menempatkan manusia sebagai makhluk yang gagal memuaskan hati Bapa, walaupun manusia masih bisa memiliki moral yang baik tidak seperti hewan. Manusia mengecewakan Allah karena tidak memuaskan keinginan-Nya. Kehidupan yang dimiliki manusia menjadi tidak ideal. Tuhan Yesus sebagai Adam terakhir memperagakan tata laksana kehidupan yang benar.
Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono
Standar hidup yang benar seperti yang Allah kehendaki adalah kehidupan yang diperagakan oleh Tuhan Yesus.