Sejujurnya, gereja telah mengalami kemerosotan. Sebagaimana Allah tidak segan-segan menghancurkan Bait Allah dan meratakannya dengan tanah, Allah juga tidak segan-segan menyerahkan gereja yang pernah menjadi pusat Kekristenan Timur di sebuah kota besar pada masa Bizantium, yaitu Konstantinopel—yang sekarang dikenal sebagai Istanbul, Turki. Sebab, menjadi Kristen, pergi ke gereja, dan menjalankan berbagai seremonial atau liturgi menjadi sia-sia jika tidak disertai dengan perjumpaan yang nyata dengan Allah.
Harus diakui dengan jujur, banyak teolog Barat yang menjadi dosen seminari, rohaniwan gereja yang cakap secara teologis, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah secara riil. Kemerosotan Kekristenan di masyarakat Barat dan di wilayah Bizantium—Romawi Timur—yang dahulu berpusat di Konstantinopel dan kini menjadi wilayah Turki, adalah peringatan keras yang harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Bayangkan, Turki yang dahulu menjadi pusat gereja Timur, kini nyaris tidak lagi menunjukkan kehidupan gereja yang benar-benar hidup dan berdetak.
Bahkan, jika kita melihat fakta hari ini, kota-kota dari tujuh jemaat yang menerima surat langsung dari Tuhan Yesus—sebagaimana dicatat dalam Kitab Wahyu—kini tinggal puing-puing dan hanya menjadi lokasi wisata Kristen. Tidak sedikit gereja yang telah berubah fungsi, bahkan menjadi rumah ibadah agama lain. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang Kristen telah terjebak dalam kehidupan kekristenan yang palsu, sehingga Allah pun tidak perlu mempertahankan gereja-gereja tersebut. Banyak teolog dan pemimpin jemaat Kristen dengan penuh keterampilan menyelenggarakan liturgi—berdoa, menyanyi, memuji dan menyembah Allah, mengucapkan kredo atau pengakuan iman—namun pada kenyataannya tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup di dalam kehendak-Nya.
Dalam kemerosotan Kekristenan yang telah berlangsung berabad-abad ini, Allah akhirnya hanya menjadi isi pengetahuan yang disebut teologi. Orang merasa puas dengan pengetahuan teologi tersebut, yang pada masa kini bahkan menjadi komoditas di media sosial untuk mengaktualisasi diri, mencari popularitas, uang, atau pengaruh. Orang yang berbicara dengan gaya paling vulgar pun dapat memperoleh banyak pengikut. Nilai Kekristenan menjadi miskin dan memalukan. Tidak sedikit orang yang hanya cakap berdebat dan berapologetika—menjelaskan, membela, atau menyerang iman Kristen terhadap agama lain atau sesama Kristen yang dianggap sesat—namun tidak menunjukkan kesantunan, kelembutan, dan kesopanan sebagai anak-anak Allah yang seharusnya meneladani hidup Yesus.
Sebagai jemaat, kita tidak boleh tertipu oleh orang-orang seperti ini—orang-orang yang sebenarnya tidak pantas didengar. Yang mereka temukan hanyalah ilmu tentang Allah, bukan perjumpaan dengan Allah yang hidup dan nyata. Jika hanya pengetahuan yang dicapai, itu relatif mudah dan tidak membutuhkan pertaruhan hidup. Maka tidak mengherankan jika banyak teolog, pemimpin gereja, bahkan jemaatnya sendiri, tidak mengalami perubahan kodrat. Seseorang bisa saja dewasa secara mental, tetapi tidak mengalami perubahan kodrat menjadi serupa dengan Yesus.
Sesungguhnya, jika seseorang benar-benar menemukan Allah dan mengalami perjumpaan dengan Allah, perubahan pasti terjadi. Target Kekristenan bukan hanya menjadi orang baik, melainkan mengalami perubahan kodrat. Dan perubahan ini harus dialami secara pribadi: ketika seseorang memiliki kegentaran akan Allah yang benar dan proporsional, ketika ia tidak lagi tertarik kepada dunia, ketika setiap kesalahan yang diperbuat memukul batin dengan keras, ketika ada kerinduan untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, ketika semakin disadari bahwa dunia bukanlah rumahnya, dan ketika hati terdorong untuk pulang ke surga. Semua ini harus dialami, bukan sekadar diketahui.
Mempelajari pengetahuan tentang Allah dari berbagai media bukanlah hal yang sulit, dan dapat dilakukan tanpa mempertaruhkan segenap hidup. Tetapi mengikut Yesus untuk mengalami perjumpaan dengan Allah dan hidup di dalam kesucian-Nya menuntut pertaruhan seluruh hidup. Kita harus berkomitmen—meskipun masih jatuh bangun—bahwa kita mau hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kita harus berani meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, tidak terikat pada kekayaan materi dan hiburan dunia ini. Kita harus benar-benar mengambil keputusan untuk berkemas-kemas pulang.