Skip to content

Kepentingan Kerajaan Surga

 

Kepentingan Kerajaan Surga itu adalah Diri Allah Bapa, yang menciptakan dan memiliki segala sesuatu. Intinya sederhana: menyenangkan perasaan Bapa. Tidak perlu dibuat muluk-muluk. Kesukaan Allah Bapa adalah ketika kehendak-Nya dilakukan dan dipenuhi dalam hidup setiap individu. Kehidupan ini memang diadakan hanya untuk kesenangan dan kepuasan hati Allah Bapa.

Maka seharusnya kita berkata, “Aku bersedia menerima fakta ini, bahwa kehidupan yang Engkau ciptakan dan miliki ini adalah untuk kesenangan dan kepuasan-Mu, ya Bapa.” Melakukan kehendak Bapa, seperti yang termuat dalam Doa Bapa Kami, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga,” berarti hidupku senantiasa menerjemahkan keinginan-Mu dalam seluruh keberadaanku.

Manusia tidak mungkin tidak memiliki keinginan. Tetapi berbahagialah orang yang keinginannya adalah mengerti keinginan Allah dan menerjemahkannya dalam hidupnya. Sesungguhnya, orang yang ditebus oleh darah Yesus bukan lagi hidup untuk keinginannya sendiri, melainkan menjadi pelaksana kehendak Tuhan. Jadi, bukan konsep “aku punya keinginan, lalu kusesuaikan dengan kehendak Allah supaya tidak bertentangan. Kalau sesuai, Engkau berkati.” Bukan itu. Seharusnya adalah, “Aku meletakkan semua keinginanku, lalu aku melihat apa yang Engkau kehendaki untuk kulakukan.” Artinya, kita tidak lagi memiliki keinginan sendiri. Kalaupun ada keinginan, semuanya harus selaras dengan kehendak Allah yang wajib kita lakukan. Maka firman Tuhan berkata, “Baik kamu makan atau minum, atau apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

Faktanya, kebanyakan orang justru sibuk meminta Tuhan memberkati ini dan itu. Itu adalah ciri orang yang masih memiliki dirinya sendiri. Mungkin ia tidak melakukan hal yang secara moral salah, tidak mendukakan hati Tuhan, tetapi juga tidak memuaskan hati-Nya. Hidup yang tidak diarahkan untuk kesenangan dan kepuasan hati Allah adalah kesesatan. Itu berarti seseorang masih berada di pihak Iblis atau tertawan dalam kuasa gelap.

Itulah sebabnya kekristenan sejati adalah hubungan dengan Allah yang sungguh-sungguh terwujud, dialami, dan nyata, sehingga orang percaya dapat mengerti perasaan Allah dan melakukannya. Untuk menyukakan hati Allah, seseorang harus memahami dan melakukan kehendak-Nya. Barulah ia dapat dengan jujur berkata, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Itulah isi dan maksud sejati dari perdamaian dengan Allah. Yesus mati menebus kita untuk mengubah kita dari kodrat dosa kepada kodrat ilahi, dan modelnya adalah Yesus sendiri. Hanya model kehidupan seperti inilah yang memuaskan hati Allah. Yesus menjadi Tuhan demi kemuliaan Allah Bapa, bukan demi kemuliaan-Nya sendiri. Maka betapa besar kekecewaan Allah jika Tuhan Yesus telah menebus kita, tetapi kita tidak hidup untuk memuaskan hati Bapa. Untuk apa kita ditebus dan diperdamaikan?

Jika dibahasakan secara lugas, seakan-akan Yesus berkata, “Aku telah membeli engkau dengan darah-Ku. Aku menyediakan pendamaian dengan darah-Ku. Tetapi engkau tidak berdamai dengan Allah. Engkau malah berdamai dengan dunia. Itu mengecewakan.” Jika kita tidak berubah, kita tidak akan berani berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus kelak, karena kita telah mengecewakan-Nya. Kita harus berubah. Sebagai sekutu Allah, kita tidak boleh dikuasai oleh percintaan dunia. Orang yang masih tertarik kepada dunia tidak mungkin dapat bersekutu dengan Allah. Sebaliknya, orang yang benar-benar menjadi sekutu Allah tidak lagi dikuasai oleh percintaan dunia. Dan pada akhirnya kita memahami bahwa kehendak Allah adalah keselamatan jiwa-jiwa (1 Tim. 2:4; 2 Ptr. 3:9), sebab Ia tidak menghendaki seorang pun binasa.

Orang percaya yang sejati peduli terhadap keselamatan jiwa orang lain. Bukan sekadar menambah anggota gereja, melainkan mengusahakan agar orang lain hidup berkenan kepada Allah, sehingga jumlah orang yang menyukakan hati Allah bertambah. Kalau hanya menambah anggota gereja, pendeta yang senang, organisasi yang bangga. Tetapi Kerajaan Allah tidak sedang dibangun dengan statistik. Kita harus mempertaruhkan segenap hidup kita. Yang pertama, hidup kita sendiri harus berkenan kepada Allah. Baru setelah itu kita mengusahakan agar orang lain juga menjadi pribadi-pribadi yang memuaskan hati Allah. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Jadi, mari kita berubah.