Sarana perdamaian antara Allah dan manusia hanya melalui Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jalan pendamaian dengan Allah selain melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah satu-satunya anugerah bagi manusia untuk menerima keselamatan, di mana manusia dapat diperdamaikan dengan Allah secara cuma-cuma. Pendamaian ini bukan karena perbuatan baik, bukan karena jasa kita. Itulah sebabnya Paulus menegaskan agar kita tidak memegahkan diri (Ef. 2:8–9), sebab oleh anugerah-Nya kita memperoleh keselamatan dan oleh anugerah-Nya pula kita beroleh pendamaian dengan Allah. Namun, terwujudnya perdamaian dengan Allah secara ideal dan benar—sesuai dengan isi dan maksud pendamaian itu diadakan—tidaklah mudah dan tidak berlangsung secara otomatis. Harus ada perjuangan dari pihak orang percaya untuk mewujudkannya.
Jika kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan Allah, jika karakter kita diubahkan sehingga kita mengenakan kodrat ilahi, maka kita dapat mengimbangi Allah. Tanpa kekudusan, tidak ada perdamaian yang sejati. Tanpa kekudusan, isi dan maksud pendamaian itu tidak terwujud. Dalam hal ini, kita bukan hanya dikuduskan dari perbuatan dosa, melainkan juga harus menjadi pribadi yang berkeadaan kudus dalam karakter. Sejatinya, kita bukan hanya dibenarkan atau dianggap benar, melainkan harus sungguh-sungguh berkeadaan benar. Kerajaan Surga memang diberikan dengan cuma-cuma, bukan karena perbuatan baik manusia. Namun, untuk dapat hidup di dalam Kerajaan Surga, untuk dapat memiliki dan menikmati Kerajaan Surga, seseorang harus mengalami pembaruan hidup dan perubahan kodrat. Harus terjadi perubahan kodrat, dari kodrat dosa menuju kodrat ilahi, atau perubahan karakter menjadi serupa dengan Yesus. Secara manusia hal itu mustahil, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Ketika Alkitab berbicara mengenai ketidakmungkinan dalam Matius 19, yang dimaksud sesungguhnya adalah perubahan karakter. Hal itu berkaitan dengan perubahan kodrat, yaitu bagaimana seseorang memiliki hidup yang kekal atau hidup yang berkualitas. Itulah kodrat ilahi. Melakukan hukum Taurat itu baik. Ketika seseorang bertanya, “Tuhan, apa yang harus kulakukan supaya beroleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab, “Lakukan hukum.” Itu baik. Namun, ketika orang muda yang kaya itu berkata, “Semua itu telah kulakukan sejak masa mudaku. Apa lagi yang kurang?” Yesus menjawab, “Jika engkau mau mencapai kualitas yang lebih tinggi, juallah segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datanglah dan ikutlah Aku.” Artinya, belajarlah dari Yesus, barulah seseorang dapat memiliki dan menikmati hidup yang kekal. Untuk itu, dituntut pengorbanan segenap hidup.
Dalam Lukas 14:33, Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya harus melepaskan diri dari segala miliknya untuk dapat menjadi murid, supaya hidupnya dapat diubahkan. Harga Kerajaan Surga bagi Yesus adalah segenap hidup-Nya. Ia membelinya dan menyediakannya dengan darah-Nya. Ia mengurbankan diri-Nya agar Kerajaan Surga terbuka bagi manusia. Demikian pula bagi orang percaya, untuk dapat menikmati dan memiliki hidup dalam Kerajaan Surga, ia harus menyerahkan segenap hidupnya. Bukan hanya meyakini bahwa Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa dan menyediakan surga, melainkan juga mempertaruhkan segenap hidup untuk mengalami perubahan, agar dapat menikmati dan hidup dalam Kerajaan Surga itu.
Banyak orang Kristen sesungguhnya berada dalam kekeliruan. Mereka merasa cukup dengan meyakini Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, lalu menganggap diri otomatis memiliki Kerajaan Surga. Padahal, harga Kerajaan Surga adalah segenap hidup. Memang, Kerajaan Surga diberikan secara gratis, tetapi yang gratis itu sesungguhnya adalah kesempatan atau potensi untuk memiliki dan mengalami Kerajaan Surga.
Hal ini serupa dengan perkataan Yesus, “Damai sejahtera Kuberikan kepadamu; damai sejahtera yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia.” Damai sejahtera itu diberikan secara cuma-cuma, tetapi untuk dapat mengecap dan menikmati damai sejahtera tersebut, selera dan orientasi hidup kita harus terlebih dahulu diubahkan. Jika Yesus tidak mati di kayu salib, Kerajaan Surga akan tertutup rapat, dan tidak ada seorang pun yang dapat membukanya selain Dia. Sekarang Kerajaan Surga telah dibuka—secara cuma-cuma. Namun, untuk dapat memiliki, menikmati, dan hidup di dalam Kerajaan Surga itu, kita harus mengalami perubahan hidup yang nyata.