Skip to content

Perzinaan Rohani

 

Dalam Ibrani 12:16–17, firman Tuhan menyampaikan peringatan yang sangat keras dan seharusnya membuat kita gentar: “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” Ketika seseorang lebih mencintai dunia daripada Tuhan, sesungguhnya ia sedang melakukan perzinaan rohani. Itu adalah ketidaksetiaan. Ironisnya, banyak orang Kristen hidup seperti Esau: mengejar kesenangan dunia dan tidak berusaha bertumbuh untuk mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Akibatnya, mereka menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga untuk berdamai dengan Allah dalam standar perdamaian yang benar dan seimbang—Allah kudus, maka kita pun harus kudus. Kita memang tidak mungkin menyamai Allah, tetapi yang dimaksud adalah memiliki kecerdasan rohani dan kepekaan, sehingga segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Ketika seseorang masih belum dewasa dan baru mengenal Kekristenan, ia sering datang kepada Tuhan hanya karena mukjizat, berkat jasmani, atau pertolongan dari berbagai masalah hidup. Namun, ketika seseorang telah dewasa secara rohani, ia tidak lagi berpusat pada masalah-masalah pribadinya. Ia mulai bertanya, “Apa yang harus kulakukan bagi Tuhan?” Pada tahap ini, persoalan utamanya bukan lagi makan dan minum, melainkan jiwa-jiwa yang harus diselamatkan. Ia hidup sebagai utusan Kristus yang membawa berita pendamaian kepada orang lain. Tetapi jika seseorang tetap sibuk dengan urusan jasmani, ia sedang mendukakan Roh Kudus, bahkan dapat memadamkan Roh Kudus, hingga akhirnya menghujat Roh Kudus.

Ingatlah, Allah tidak selalu menolerir kelemahan dan kesalahan, sebab pada titik tertentu mereka yang seharusnya dewasa tetapi tetap tidak dewasa akan ‘dipukul’ Tuhan. Jika ada hamba Tuhan yang dipermalukan oleh suatu keadaan, hampir pasti ia telah menerima peringatan berkali-kali, tetapi tidak mau mendengar. Akhirnya, ia “ditelanjangi” di depan umum. Padahal, jika ia mau berubah, Tuhan pasti mengampuni, melupakan, dan membereskan segalanya. Mungkin ada di antara kita yang masih hidup dalam dosa. Tolong jangan merasa aman-aman saja. Jangan menunggu sampai dipermalukan Tuhan. Akan ada perhitungannya.

Sering kali orang merasa hidupnya baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak. Semua akan diperhitungkan pada waktunya. Sebaliknya, jika hari ini kita berjuang bagi pekerjaan Tuhan, menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah, kita akan menuai keindahan pada waktunya. Dunia semakin fasik dan memiliki kuasa yang besar untuk merusak kehidupan banyak orang. Karena itu, firman Tuhan mengingatkan dalam Efesus 5:15–17: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”

Marilah kita meninggalkan percintaan dunia. Ini tidak membuat kita menjadi orang aneh. Justru ketika kita berani meninggalkan dunia, manisnya persekutuan dengan Tuhan akan terasa jauh lebih manis. Apa pun yang kita miliki akan menjadi cukup dan memuaskan. Biarlah kita mengakhiri perjalanan hidup ini dengan satu kerinduan saja, yaitu merindukan Tuhan. Inilah doa kita: “Tuhan, aku tidak mau merindukan apa pun. Jika aku boleh meminta, aku hanya ingin merindukan Engkau. Aku tahu, jika aku merindukan yang lain, aku sedang mengkhianati Engkau. Tuhan, ketika aku meninggal dunia, aku mohon Engkau mengutus malaikat-Mu yang kudus untuk menjemputku, bersama dengan orang-orang yang kukasihi.” Betapa indahnya hidup yang demikian.