Keberkenanan di hadapan Allah adalah sesuatu yang bersifat progresif. Seiring dengan bertambahnya usia biologis—yang ditandai dengan hari ulang tahun—dan seiring dengan perjalanan waktu hidup kekristenan seseorang, ia harus semakin berkenan kepada Allah, atau yang sama artinya, semakin mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Namun, karena merasa sudah diperdamaikan dengan Allah berdasarkan pengertian doktrin di dalam pikirannya, banyak orang Kristen tidak berusaha mengalami perubahan hidup yang semakin berkenan kepada Allah. Inilah orang-orang yang tidak mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12–13). Sementara itu, pengaruh dunia yang fasik membelenggu hidup mereka, sehingga mereka semakin berada dalam keadaan yang tidak berkenan kepada Allah.
Sejujurnya, banyak rohaniwan Kristen, teolog, dan jemaat berada dalam keadaan seperti ini. Jika tidak diingatkan, mereka tidak akan pernah menjadi anggota keluarga Kerajaan, bahkan bukan tidak mungkin meluncur ke api kekal. Mereka merasa sudah berdamai, padahal sesungguhnya belum berdamai secara utuh, lengkap, dan proporsional. Dalam 2 Korintus 5:18 dikatakan, “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.”
Dari pihak Allah, semuanya telah selesai. Allah telah melakukannya. Yesus berkata, tetelestai—“sudah selesai.” Namun, dari pihak manusia, harus ada respons: memberi diri diperdamaikan. Jika kita membaca 2 Korintus 5:20, dikatakan, “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Lalu bagaimana dari pihak kita? Paulus berkata, “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya” (2 Kor. 5:9).
Orang percaya harus mau didewasakan agar dapat menjadi anak-anak Allah yang sah, yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Karena itu, ada perlombaan yang diwajibkan, di mana anak-anak Allah dididik supaya mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Jika kita mau berdamai dengan Allah, hidup kita harus seimbang. Hidup kita harus bersih. Kita tidak lagi berhak hidup untuk diri kita sendiri. Kita harus mati bagi diri kita sendiri, karena Yesus telah mati untuk kita. Dan jika kita hidup, kita hidup bagi Dia yang telah mati untuk kita. Kita juga harus menyadari bahwa rumah kita bukan di bumi, melainkan di Langit Baru dan Bumi Baru (LB3).
Dahulu, sebelum menerima pendamaian dengan Allah melalui kurban Tuhan Yesus, kita berstatus bermusuhan dengan Allah. Keadaan kita kotor dan jahat, sehingga tidak selaras dengan Allah. Namun, Yesus mati di kayu salib dan mengubah status kita, walaupun keadaan kita masih berantakan dan masih jahat. Dibenarkan berarti dianggap benar, meskipun keadaan kita belum benar. Dalam kondisi yang belum benar itu, kita sudah dianggap benar. Ketika baru menjadi Kristen, masih banyak kesalahan dan kejahatan, itu masih ditoleransi karena kita sedang dalam proses. Namun, keadaan itu tidak boleh berlangsung terus-menerus. Harus ada perubahan. Setelah status kita diubah, kitalah yang harus bertanggung jawab untuk mengubah diri kita.
Karena itu, dalam 2 Korintus 6:17–18 dikatakan, “Keluarlah kamu dari antara mereka dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” Banyak orang Kristen merasa sudah didamaikan, lalu hidup seperti manusia lain, tanpa usaha mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Tidak ada usaha untuk mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Akibatnya, hidup mereka rusak. Jika tidak ada yang mengingatkan, mereka tidak akan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan, bahkan tidak menjadi anggota masyarakat Kerajaan. Tidak tertutup kemungkinan mereka binasa. Kita harus sadar: Allah sudah memenuhi bagian-Nya; kitalah yang harus memenuhi bagian kita.
Banyak orang Kristen merasa bahwa perubahan status itu sudah cukup—sudah damai—padahal keadaan hidupnya masih berantakan. Ada teolog yang mengajarkan, “Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik. Tidak apa-apa. Tuhan tidak melihat perbuatan kita; Ia melihat darah Yesus yang membungkus.” Darah Yesus memang membungkus kita pada dimensi pertama, yaitu “dianggap benar.” Namun selanjutnya firman Tuhan berkata, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Itu adalah bagian kita. Jangan berhenti hanya pada tahap pertama, sebab perdamaian itu bersifat progresif—terus berkembang, sampai kita benar-benar berkeadaan selaras dengan Allah.