Skip to content

3 Ciri

 

Perlu kita ketahui bahwa ketika Surat Korintus ditulis, belum ada pembagian pasal dan ayat. Seluruhnya merupakan satu tulisan yang runtut. Oleh sebab itu, kita tidak boleh membaca satu ayat secara terlepas dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Pembagian pasal dan ayat baru ditambahkan kemudian. Maka, keberkenanan kepada Allah harus dilihat dari keseluruhan pasal 5. Jika kita memerhatikan 2 Korintus 5 secara utuh, kita akan menemukan ciri-ciri kehidupan orang yang berkenan kepada Allah.

Pertama, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela (ay. 9–10).

Kedua, kehidupan yang merindukan perjumpaan dengan Tuhan (ay. 1–7). Paulus mengatakan bahwa jika ia boleh memilih, ia ingin melepaskan tubuh ini dan bertemu dengan Tuhan. Ia menyatakan bahwa perjalanan hidupnya bukan karena melihat, melainkan karena percaya. Ia tidak terikat pada hal-hal yang kelihatan, melainkan pada hal-hal yang tidak kelihatan. Dalam 2 Korintus 4, pasal sebelumnya, Paulus mengatakan, “Kami tidak memerhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan. Sebab yang kelihatan itu sementara, sedangkan yang tidak kelihatan itu kekal.”

Ketiga, kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah sebagai utusan Kristus, yaitu untuk memberitakan berita pendamaian (ay. 14–15). Jika Yesus telah mati untuk kita semua, maka kita semua telah mati. Dan jika kita hidup, kita hidup bagi Dia yang telah mati untuk kita. Inilah kehidupan orang Kristen yang sungguh-sungguh mengalami keadaan sebagai ciptaan yang baru (2 Kor. 5:17).

Jika seseorang tidak memiliki ketiga ciri ini, berarti ia belum menjadi Kristen sejati. Ia mungkin beragama Kristen, tetapi belum menjadi Kristen, sebab Kristen berarti serupa dengan Kristus. Kehidupan yang tidak bercela, kesadaran bahwa dunia ini bukan rumah kita sehingga merindukan perjumpaan dengan Tuhan, serta kehidupan yang sepenuhnya diabdikan kepada Allah—itulah tanda orang percaya yang sejati. Jika kita tidak hidup sepenuhnya bagi Allah, maka kita tidak termasuk dalam perhitungan Allah, sekalipun kita seorang pendeta, aktivis gereja, ketua sinode, atau siapa pun. Jika ketiga ciri ini tidak ada, maka kita bukan orang yang diperhitungkan Allah.

Paulus memiliki ketiga ciri tersebut: kesucian hidup, kerinduan untuk berjumpa dengan Tuhan, dan pengabdian total kepada Tuhan. Karena itulah ia dapat berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Dalam hal ini, kehidupan Paulus menjadi model orang percaya yang benar-benar telah mengalami perdamaian dengan Allah. Namun, banyak orang Kristen, termasuk para teolog, merasa sudah memiliki perdamaian dengan Allah hanya karena memiliki bangunan berpikir atau sistematika teologi mengenai perdamaian tersebut.

Padahal, perdamaian dengan Allah dibangun di atas dasar perilaku dan keadaan moral batiniah yang berkenan kepada Allah, sesuai dengan ciri-ciri yang telah disebutkan: kesucian hidup, fokus pada perjumpaan dengan Tuhan, dan pengabdian sepenuh hati kepada Allah. Selama bertahun-tahun, banyak orang Kristen hidup dalam keadaan tidak berdamai dengan Allah secara proporsional. Memang, ketika seseorang baru menjadi Kristen, ia tidak langsung dituntut untuk hidup suci, sempurna, sepenuhnya bagi Allah, dan merindukan Kerajaan Surga. Hal itu membutuhkan proses.

Namun, jika seseorang telah berusia lanjut secara biologis—misalnya berusia 60 tahun—dan telah mengikut Yesus selama 40 tahun, seharusnya ia telah menunjukkan pertumbuhan rohani yang nyata dan semakin berkenan kepada Allah. Jika tidak, dan ia tidak sungguh-sungguh memerhatikan kualitas hidupnya karena sudah terbiasa dengan pola hidup yang salah, maka pola yang salah itu akan dianggap sebagai standar normal. Inilah yang disebut kenormalan yang menyimpang.

Hal yang sama terjadi ketika Kekristenan menjadi agama negara pada zaman Kekaisaran Roma. Ketika orang Kristen tidak lagi mengalami aniaya, banyak yang mulai hidup dalam kenyamanan rohani yang menyimpang. Hari ini pun banyak orang Kristen hidup dalam kenormalan yang menyimpang. Dulu, ketika Kekristenan berada di bawah aniaya, kehidupan orang percaya justru normal di mata Allah. Namun, ketika Kekristenan menjadi nyaman, justru banyak yang hidup tidak normal di hadapan Allah.