Skip to content

Memahami Perasaan-Nya

 

Pertanyaan penting yang harus kita kemukakan dan pergumulkan saat ini adalah: apakah kita sungguh-sungguh telah diperdamaikan dengan Allah? Betapa mengerikannya jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan belum diperdamaikan dengan Allah, sementara ia merasa sudah berdamai dengan Allah. Sejujurnya, sebagian dari kita belum berdamai dengan Allah. Jangan kita berpikir bahwa nanti masih ada waktu untuk berdamai. Justru seharusnya kita berpikir bahwa nanti mungkin tidak ada waktu lagi untuk berdamai. Menunda bisa berarti menolak; delay bisa berarti cancel. Allah yang kita kenal bukanlah Allah yang tidak memberi peringatan. Ia memberi peringatan, tetapi sering kali manusia tidak mau mendengarkannya.

Di sekitar kita ada banyak orang jahat yang memaksakan kehendak, ideologi, dan keyakinan mereka sendiri, sehingga membahayakan stabilitas hidup orang lain. Ada orang-orang yang kehilangan nalar sehat, bahkan memiliki moral kebencian yang sangat berbahaya bagi kehidupan bersama. Semua itu menjadi sinyal atau isyarat bagi kita betapa tidak nyamannya hidup di bumi ini. Hidup yang sesungguhnya adalah hidup yang akan datang, di langit baru dan bumi baru. Kita sedang mempersiapkan diri untuk tinggal di sana. Karena itu, marilah kita mulai berkemas-kemas untuk pulang. Tidak perlu menunggu sampai tua, sebab kematian tidak pernah mengenal usia.

Betapa mengerikannya jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan belum diperdamaikan dengan Allah, sementara ia merasa dirinya sudah dikenal oleh Allah dan sudah berdamai dengan-Nya, padahal belum. Allah yang ia pahami bukanlah Allah yang ia alami. Allah hanya dinalar, bukan dialami.

Karena itu, jangan hanya menalar Allah, dimana Allah dikenal namun tidak dialami. Allah yang hanya dikenal melalui nalar adalah Allah dalam fantasi—Allah yang ditemukan dalam buku perpustakaan atau karya jurnal ilmiah dalam lingkup teologi. Ironisnya, korbannya sangat besar. Banyak jemaat akhirnya tidak bersentuhan dengan Allah, sebab yang berkhotbah pun hanya menalar Allah. Orang-orang Kristen yang ber-Tuhan secara fantasi tidak merasakan atau tidak mengenal perasaan Allah secara nyata, melainkan hanya merasakan perasaan Allah secara fantasi. Itu adalah allah yang mati.

Kecenderungan orang-orang seperti ini adalah menyalahkan dan menyesatkan orang lain, sebab dengan cara itu mereka ingin menunjukkan bahwa merekalah yang paling benar. Biasanya, orang-orang seperti ini gemar berdebat hanya untuk membela doktrin, sekaligus meninggikan diri.

Sebaliknya, orang yang rendah hati dan sudah “berisi” biasanya tidak mengangkat diri. Jangan sampai kita terjebak ke dalam sikap seperti itu, sebab godaannya sangat besar. Jika seorang teolog terjebak di situ, maka jemaat yang mendengar khotbahnya atau membaca tulisannya—baik di buku maupun di media sosial—akan ikut “terpenjara” dalam nuansa Allah dalam fantasi tersebut. Allah dalam fantasi adalah allah yang mati dan tidak nyata, sehingga perasaan-Nya tidak sungguh-sungguh dirasakan. Mereka seolah-olah menghidupkan Allah dalam fantasi mereka, dan menganggap Allah yang mereka nalar sebagai Allah yang benar. Dengan uraian yang tampak argumentatif dan sistematis, mereka merasa telah menemukan dan sedang berurusan dengan Allah yang benar. Padahal, semuanya bersifat semu.

Banyak teolog dan orang-orang terpelajar memiliki Allah model seperti itu. Mereka mungkin sangat cakap berbicara tentang Allah, tetapi perilaku hidup mereka tidak memancarkan keagungan pribadi Allah. Dari pernyataan-pernyataan mereka, sering kali justru tampak ketidakagungan karakter tersebut. Kita jangan sampai tercemar—terkena ragi dan spirit seperti itu. Kita harus belajar memiliki roh yang lemah lembut, sebab apa pun yang kita lakukan sesungguhnya berkaitan dengan perasaan Allah. Orang yang benar-benar sudah berdamai dengan Allah pasti memahami perasaan-Nya, sehingga dalam segala hal yang ia lakukan, ia menjaga perasaan Allah.

Sesungguhnya, sering kali kita masih bersikap semena-mena. Kita melukai perasaan Tuhan, tetapi merasa tidak bersalah. Terlebih jika seseorang adalah pendeta yang pandai berkhotbah atau beradu argumentasi, ia bisa merasa dirinya benar. Kita juga sering merasa seakan-akan hidup di wilayah netral yang tidak bertuan, padahal ada host, yaitu Tuan Rumah, yang perasaan-Nya harus kita jaga.

Jika seseorang sungguh-sungguh ingin berdamai dengan Allah, maka prinsip hidupnya adalah: “Kepentinganku hanyalah Engkau; aku hidup untuk melayani perasaan-Mu.” Sayangnya, banyak orang merumuskan langkah pendamaian dengan Allah hanya sebatas definisi yang diyakini dan disetujui, yaitu dengan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, lalu merasa sudah berada dalam pendamaian dengan Allah. Padahal, pendamaian atau perdamaian adalah hubungan konkret yang dipulihkan, sesuai dengan rancangan Allah semula.