Suci bukan hanya berarti tidak berbuat dosa, melainkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Oleh sebab itu, kata “jalan” dalam ucapan Yesus, “Akulah jalan,” harus dipahami dalam dimensi yang lengkap: secara pasif, Yesus menyediakan jalan; secara aktif, kita harus menjalani jalan itu. Yesus adalah jalan itu, dan kita harus mengenakan hidup-Nya. Maka, agar orang percaya sungguh-sungguh memiliki pendamaian dengan Allah, ia harus menginvestasikan seluruh hidupnya tanpa batas. Keaktifan orang percaya dalam menerima penggarapan Allah melalui Roh Kudus di dalam hidupnya demi perubahan kodrat sangatlah penting. Dan itulah isi hidup kita. Jadi, ketika kita menjadi orang percaya, isi hidup kita memang hanya untuk itu. Kita harus berani berkomitmen terlebih dahulu, walaupun kita belum mencapai keadaan yang ideal.
Yang Allah kehendaki adalah agar kita berani berkomitmen untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, meninggalkan percintaan dunia. Komitmen ini merupakan langkah awal yang akan mengawali proses perubahan untuk mengenakan kodrat ilahi atau menjadi serupa dengan Yesus. Yesus sebagai jalan bukan hanya untuk dipercayai atau diakui, melainkan untuk dijalani. Sebab “percaya” adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran. Percaya bukan hanya keyakinan dalam nalar, melainkan tindakan nyata.
Karena itu, perbedaan kita dengan orang non-Kristen bukan hanya pada pengakuan. Mereka tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, sedangkan kita mengakui. Jika hanya sebatas itu, maka hal tersebut tidak memiliki nilai sama sekali. Namun anehnya, banyak orang Kristen merasa itulah nilai utamanya. Pengakuan itu memang bernilai, tetapi itu baru permulaan.
Nilai sejati kita tampak ketika kita beriman dan bertindak. Tindakan kita adalah meneladani hidup Yesus. Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa hidup keagamaan kita harus lebih benar daripada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi; jika tidak, kita tidak akan masuk surga. Artinya, kita harus memiliki moral yang melampaui orang-orang beragama, bahkan melampaui tokoh-tokohnya. Oleh sebab itu, dalam Matius 5:20 dikatakan, you must be perfect—kamu harus sempurna. Sempurna seperti Bapa berarti orang percaya harus mampu bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini sama dengan memiliki keserupaan hakikat dengan Allah, mengenakan kodrat ilahi, dan mengambil bagian dalam kekudusan Allah.
Sempurna seperti Bapa bukan berarti menyamai Bapa. Kapasitas Allah sempurna, sedangkan kapasitas kita tidak. Namun, dalam ranah moral, kita dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, orang percaya dalam karakter dan moralnya menjadi seperti miniatur karakter dan moral Allah. Dan inilah Injil: kodrat ilahi. Jadi, jika kita serupa dengan Yesus, bukan berarti kita sempurna sekelas Yesus. Yesus, Tuhan kita, memiliki kapasitas yang jauh lebih besar dalam segala pergumulan-Nya. Kita memiliki kapasitas yang lebih terbatas. Namun, di dalam kapasitas yang terbatas itu, kita tetap dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah—sebagai miniatur-Nya.
Dengan demikian, orang percaya dalam karakter dan moralnya adalah miniatur dari karakter dan moral Allah. Sesungguhnya, inilah inti Injil. Jika kita memiliki anak yang mirip dengan kita, orang akan berkata, “Ini mirip bapaknya.” Anak itu tidak memiliki kapasitas yang sama dengan orang tuanya, tetapi ia adalah miniaturnya. Demikian pula kita adalah miniatur Allah. Melalui perbuatan kita, orang dapat melihat apakah kita memuliakan Bapa, sebab yang mereka lihat adalah karakter kita. Itulah sebabnya, di dalam Alkitab, jika orang mempertanyakan “siapakah Allah yang benar,” maka jawabannya adalah bangsa Israel; tetapi jika orang bertanya “bagaimana Allah itu benar,” maka lihatlah kelakuan orang Kristen. Jika kelakuan orang Kristen benar, maka ia dapat benar-benar selaras dengan Allah Bapa.
Oleh karena itu, Injil disebut sebagai kuasa Allah yang menyelamatkan. Artinya, kebenaran Injil mampu mengubah cara berpikir seseorang. Perubahan cara berpikir yang terus-menerus akan menghasilkan perubahan kodrat. Jika proses ini berlangsung terus, maka terjadilah persekutuan: kita tinggal di dalam Bapa, dan Bapa tinggal di dalam kita. Allah berkenan dan “nyaman” dengan orang-orang yang perkataannya benar, hatinya bersih, dan tidak menyimpan kejahatan. Jadi, jika kita masih hidup tidak sesuai dengan kesucian Allah, berarti iman atau kepercayaan kita belum benar.
Kesimpulannya, standar hidup yang harus dicapai orang percaya adalah memiliki kodrat ilahi agar dapat hidup dalam keadaan berekonsiliasi dengan Allah. Dan ini harus menjadi pergumulan seumur hidup, yang tidak pernah berhenti sampai kita menutup mata. Untuk itu, orang percaya harus rela meninggalkan dunia dan segala kesenangannya serta berkomitmen untuk hidup dalam kesucian sesuai dengan standar kesucian Allah.
Pertanyaan penting yang harus kita pergumulkan adalah: “Apakah kita saat ini benar-benar sudah berdamai dengan Allah?” Jangan berhenti pada pendamaian secara teori, sebab pendamaian sejati terjadi dalam aplikasi konkret kehidupan. Betapa mengerikannya jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan belum diperdamaikan dengan Allah. Orang percaya yang sungguh-sungguh telah berdamai dengan Allah pasti memahami bahwa standar kesuciannya adalah Allah sendiri. Namun, Tuhan masih memberi kesempatan. Agama Kristen tidak menyelamatkan siapa pun jika orang tersebut tidak hidup di dalam kesucian Allah.