Skip to content

Rekonsiliasi

 

Di dalam 1 Petrus 1:16, firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Rekonsiliasi sejati hanya dapat terwujud jika orang percaya memiliki kekudusan seperti kekudusan Allah. Hal ini berarti bahwa orang percaya harus mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9–10). Jadi, jika kita tidak hidup kudus dan bersih sesuai dengan hakikat Allah, kita tidak dapat mengalami rekonsiliasi dengan benar.

Masalahnya, Tuhan seakan-akan diam. Kita hidup sembarangan, bertindak sesuka hati dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan, seolah-olah Allah tidak terganggu. Gereja pun sering kali tidak mengingatkan umat bahwa itu adalah cara hidup yang salah. Akibatnya, semuanya menjadi serba sandiwara. Dalam Ibrani 12:5–8 dan 12:10 dikatakan bahwa kita harus mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Firman Tuhan menunjukkan bahwa orang percaya yang benar menerima didikan dari Bapa, supaya dari anak yang tidak sah atau anak gampang menjadi anak yang sah (Yun. huios), sehingga dapat mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak.

Itulah sebabnya, dalam 2 Korintus 6:17–18, firman Tuhan mengatakan,
“Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan, demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Kita harus memiliki standar kekudusan Allah. Itulah sebabnya, dalam 1 Tesalonika 4:7–8 dikatakan, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu, siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.”

Dengan sangat jelas, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kita harus memiliki standar kekudusan Allah. Standar ini hanya diberlakukan bagi orang yang menerima Roh Kudus. Jadi, standar hidup orang yang menerima Roh Kudus atau yang dianggap benar adalah memiliki kekudusan seperti Allah. Yesus mati untuk semua orang, untuk seluruh umat manusia, tetapi tidak semua manusia dibenarkan, sebab yang dibenarkan hanyalah mereka yang dibawa kepada Bapa. Walaupun belum benar, mereka dianggap benar. Bapa memberikan Roh Kudus, dan kepada mereka Bapa berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Keluarlah kamu dari antara mereka, jangan menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” Artinya, jika seseorang masih menjamah apa yang najis, Ia tidak dapat menerimanya.

Alkitab juga mengatakan bahwa hanya orang yang suci yang akan melihat Allah, artinya mereka yang diperdamaikan. Oleh sebab itu, betapa jahatnya ajaran yang mengesankan bahwa tanpa usaha, tanpa proses pendewasaan yang benar, dan tanpa pemuridan yang sejati, seseorang dapat memiliki pendamaian yang ideal dengan Allah. Yesus memang mati untuk semua orang, tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan untuk diperdamaikan dengan Allah dalam harmonisasi hubungan yang eksklusif antara Allah sebagai Bapa dan kita, orang percaya, sebagai anak, sesuai dengan rancangan Allah semula.

Inilah yang dimaksud dalam doa yang diucapkan Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:20–21, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Kita dapat berada di dalam persekutuan dengan Bapa. Dalam pendamaian itu, orang percaya dapat tinggal di dalam Bapa. Ini sungguh luar biasa. Sesungguhnya, inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dalam pernyataan-Nya, “Tidak seorang pun sampai kepada Bapa, kecuali melalui Aku.” Ungkapan “sampai kepada Bapa” dalam bahasa aslinya adalah erchomai (Yun. ρχομαι), yang berarti to come into or unto, datang untuk masuk. Banyak orang Kristen memahami pernyataan ini hanya sebatas bahwa di luar Yesus tidak ada keselamatan. Itu benar. Namun, ayat ini bukan sekadar menunjuk bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan, melainkan menunjuk kepada hubungan yang eksklusif.