Skip to content

Perlindungan Tuhan

 

Pernahkah manusia merenungkan sebuah kemungkinan yang nyaris mustahil: seandainya tidak ada Allah yang menciptakan langit dan bumi, tidak ada Tuhan yang memelihara jagat raya dan seluruh makhluk hidup, namun segala sesuatu tetap berjalan dengan baik dan tertib? Sebuah tatanan yang stabil, harmonis, bahkan sempurna—tanpa Pribadi ilahi di baliknya. Ironisnya, meskipun secara logis hal itu tidak masuk akal, sebagian besar manusia menjalani hidup seolah-olah Tuhan memang tidak ada.

Banyak orang mengaku beragama, bahkan mengaku percaya kepada Allah, namun sikap hidupnya tidak mencerminkan pengakuan tersebut. Hidup dijalani tanpa kesadaran bahwa ada Pribadi yang menciptakan, memiliki, dan berdaulat atas segala sesuatu. Dunia yang telah jatuh dalam kejahatan turut membentuk pola hidup demikian, sehingga standar kekudusan menjadi semakin rendah. Tidak mengherankan jika hanya sedikit orang percaya yang sungguh-sungguh mengejar hidup kudus, apalagi sempurna. Padahal dalam kesaksian Perjanjian Lama, tokoh-tokoh seperti Yosua, Samuel, dan Yusuf telah menunjukkan kualitas hidup yang sangat tinggi dalam ketaatan kepada Allah—menurut ukuran zaman mereka.

Orang percaya pada masa kini sesungguhnya dipanggil lebih jauh lagi, bukan sekadar hidup baik, tetapi hidup menuju kesempurnaan. Pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi berarti mengakui bahwa Ia adalah Pribadi yang hidup, memiliki kehendak dan rencana. Ia bukan sekadar konsep religius, melainkan Elohim Yahweh yang berdaulat. Manusia memang tidak memiliki pilihan untuk dilahirkan atau tidak, apalagi memilih kondisi kelahirannya. Namun manusia diberi kebebasan untuk memilih: apakah ia akan hidup menurut kehendak dan rencana Allah, atau menurut kehendak dan rencananya sendiri.

Seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa, bumi akan tetap berada dalam tatanan yang baik dan sempurna. Dalam kondisi demikian, manusia tidak perlu mencari perlindungan secara khusus, sebab seluruh sistem kehidupan telah aman, tanpa pemberontakan dan tanpa benih dosa. Namun kenyataannya berbeda. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat kebutuhan akan perlindungan Tuhan menjadi mutlak. Bukan karena tatanan ciptaan Allah rusak—sebab tatanan itu tetap baik dan sempurna—melainkan karena hadirnya oknum jahat yang berusaha merusak manusia dan menyeretnya ke dalam kegelapan. Dalam realitas inilah manusia membutuhkan perlindungan ilahi.

Sayangnya, Banyak orang merasa memiliki hak penuh atas kehendaknya sendiri seolah Tuhan tidak eksis, dan jikapun mereka percaya, pengakuan itu sering kali tidak selaras dengan sikap yang pantas bagi Tuhan. Situasi ini diperparah oleh praktik keagamaan yang keliru, ketika gereja menjanjikan bahwa Tuhan pasti akan memenuhi setiap permintaan manusia. Orang-orang yang bermasalah diundang, didoakan, dan diberi harapan instan, seolah-olah perlindungan Tuhan bekerja tanpa tatanan. Padahal pendekatan seperti ini justru merusak pemahaman akan keadilan dan keteraturan ilahi.

Seharusnya gereja mengajarkan bukan sekadar bagaimana meminta perlindungan Tuhan, melainkan bagaimana hidup secara pantas untuk berada di bawah perlindungan-Nya. Perlindungan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis, melainkan berkaitan erat dengan sikap hidup manusia di hadapan-Nya.

Pertama, manusia harus mengakui bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah milik Tuhan. Hidup, waktu, uang, harta, dan seluruh sumber daya bukan milik pribadi, melainkan titipan Allah. Ketika seseorang sungguh menyadari bahwa dirinya hanyalah pengelola, bukan pemilik, ia hidup dalam sikap tunduk dan bertanggung jawab. Dalam kondisi seperti ini, perlindungan Tuhan menjadi wajar, sebab yang dilindungi adalah milik-Nya sendiri. Bahkan jika sesuatu harus diambil atau hilang, hati tetap tenang karena semuanya berada dalam kedaulatan Tuhan.

Kedua, perlindungan Tuhan tidak meniadakan tanggung jawab manusia untuk melindungi dirinya sendiri. Tatanan ilahi bekerja melalui prinsip sebab-akibat. Seseorang yang malas belajar, tidak mengembangkan potensi, dan mengabaikan tanggung jawab hidup tidak dapat menyalahkan Tuhan ketika menuai kemiskinan atau kegagalan. Apa yang ditabur, itulah yang dituai. Prinsip ini merupakan bagian dari tatanan Allah yang tidak pernah dibatalkan.

Ketiga, manusia dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam proyek Allah. Hidup ini berlangsung dalam semesta yang memiliki tujuan ilahi. Allah tidak menciptakan manusia tanpa maksud. Karena itu, dalam rentang hidup yang terbatas—entah tujuh puluh tahun atau lebih—manusia dipanggil untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Hidup yang berada di dalam rencana Allah adalah hidup yang paling aman, sebab berada tepat di pusat kehendak-Nya.