Skip to content

Hidup dalam Kepastian

 

Setiap manusia mendambakan kepastian. Kepastian yang umumnya diharapkan adalah keadaan hidup yang baik menurut ukuran manusia: tubuh yang sehat, rumah tangga yang utuh dan harmonis, ekonomi yang mapan, serta situasi hidup yang aman dan menyenangkan. Demi memperoleh kepastian seperti ini, manusia berjuang keras, berusaha menghindari sakit penyakit, bencana, kemiskinan, kegagalan, dan ketidakamanan. Seluruh energi dicurahkan agar hidup berjalan sesuai harapan dan target yang telah ditetapkan.

Dalam kesadaran akan keterbatasan dirinya, manusia lalu mencari kekuatan di luar dirinya. Di sinilah agama—dalam pengertian umum—menjadi sarana untuk memperoleh kepastian. Apa pun sebutannya—dewa, allah, atau kekuatan lain—semuanya berfungsi sebagai sandaran agar hari esok terasa lebih aman. Manusia belajar dari pengalaman bahwa banyak peristiwa terjadi di luar prediksi dan perhitungan. Masa depan tidak dapat ditembus sepenuhnya. Karena itu, manusia ingin mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Kebutuhan inilah yang melahirkan praktik-praktik peramalan, perdukunan, dan bentuk pencarian kepastian lainnya.

Namun orang percaya perlu memahami satu kebenaran mendasar: dunia ini adalah dunia yang telah jatuh. Tidak ada satu pun kepastian sejati di dalamnya. Satu-satunya kepastian di dunia ini justru adalah ketidakpastian. Mengapa demikian? Karena dunia ini bukan dunia yang dirancang, dikehendaki, dan diingini Allah sejak semula. Allah yang Mahabijaksana tidak menciptakan dunia dengan sistem yang rusak seperti sekarang.

Memang ada sebagian orang yang tampak “beruntung”—orang kaya, bangsawan, atau mereka yang hidup di masa dan tempat tanpa perang dan bencana—sehingga seolah-olah dunia ini dapat menjadi seperti Firdaus. Namun keadaan semacam itu jarang dan bersifat sementara. Ironisnya, justru kondisi yang nyaman ini dapat menjadi jebakan yang berbahaya, karena membuat manusia merasa tidak membutuhkan Tuhan. Ketika manusia merasa cukup, aman, dan berdaya, ia berhenti membenahi diri. Padahal kehidupan yang sejati bukanlah kehidupan sekarang, melainkan kehidupan yang akan datang.

Inilah sebabnya Yesus berkata bahwa orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga. Bukan karena kekayaan itu sendiri, melainkan karena kekuatan—uang, relasi, kuasa—membuat manusia merasa tidak memerlukan Tuhan. Mazmur 73 menggambarkan realitas ini dengan tajam. Orang fasik tampak senang, sehat, dan bertambah harta, seolah-olah hidup mereka aman selamanya. Namun pemazmur juga menyadari bahwa semua itu berakhir secara tiba-tiba. Mereka ditempatkan di “tempat-tempat licin”, dan dalam sekejap lenyap seperti mimpi yang buyar saat orang terbangun.

Jika demikian, keadaan hidup yang tidak pasti menurut ukuran dunia bukanlah sesuatu yang buruk. Justru ketidakpastian itu dapat menjadi anugerah, karena memelihara kesadaran akan kekekalan. Orang yang tidak hanyut dalam kesenangan dunia lebih mudah diarahkan kepada Kerajaan Allah. Namun hal ini tidak berarti manusia boleh hidup ceroboh atau tidak bertanggung jawab. Ketidakpastian bukan alasan untuk kelalaian, melainkan panggilan untuk bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.