Skip to content

Pertemuan antara Anugerah, Kesempatan, dan Risiko

 

Seseorang yang diampuni memiliki tujuan yang jelas, yakni beroleh kesempatan untuk memperbaiki diri dan keadaannya. Dalam 1 Korintus 15:34a dikatakan, “Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!” Ada korelasi antara pengampunan dan kesempatan untuk menjadi lebih baik. Namun, perlu ditegaskan terlebih dahulu bahwa bukan karena kita berbuat baik maka kita diampuni oleh Allah. Sebaliknya, sebelum perbuatan baik itu kita tunjukkan, Allah telah terlebih dahulu memberi rahmat-Nya untuk mengampuni kita. Ini berarti bahwa pengampunan, pertama-tama, adalah anugerah Allah bagi manusia. Sebaik apa pun manusia bertingkah laku di kemudian hari, seandainya Allah tidak membuka diri-Nya untuk diperdamaikan dengan kita, sia-sialah semua perbuatan baik tersebut. Jadi, dengan mengatakan bahwa pengampunan memiliki tujuan yang jelas, sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengutamakan perbuatan baik dan menghilangkan unsur anugerah dari pengampunan Allah.

Allah yang bermurah hati mengampuni kita menghendaki adanya perubahan dalam diri kita. Dari sisi manusia, ini adalah kesempatan besar yang perlu direspons dengan sungguh-sungguh. Seseorang yang tidak merespons pengampunan Allah secara memadai dengan mengubah dirinya dalam kesempatan ini sama dengan menganggap murah kasih karunia Allah. Seharusnya, ketika kita sadar bahwa kita telah diampuni, kita mulai memperkarakan hidup kita dengan serius. Sebab, mungkin saja kesempatan ini dapat berakhir kapan saja. Oleh karena itu, tidak ada respons yang lebih tepat untuk menanggapi anugerah Allah selain bertobat setiap saat. Pengampunan adalah kesempatan.

Namun, dari sisi Allah, pengampunan tidak hanya merupakan anugerah, melainkan juga risiko yang diambil oleh Allah sendiri. Risiko di sini berarti bahwa tidak ada jaminan bahwa ketika Allah memberi pengampunan-Nya, manusia akan meresponsnya dengan benar. Selalu ada kemungkinan bahwa manusia tetap membelakangi Allah dan terus jatuh bangun tanpa henti dalam kesalahan yang sama. Alih-alih memikirkan risiko itu, Allah tetap membuka pintu pengampunan-Nya bagi kita. Di sini kita dapat menghayati betapa dahsyatnya kebesaran hati Allah. Meski tidak ada alasan yang cukup untuk mengampuni, Ia tetap memilih setia, sekalipun kita tidak setia. Oleh karena itu, pengampunan tidak hanya berbicara tentang anugerah dan kesempatan, tetapi juga risiko. Pengampunan adalah perjumpaan dari tiga simpang besar, yakni anugerah, kesempatan, dan risiko.

Kebenaran ini memberi implikasi yang kuat bagi pengampunan yang kita tumpahkan kepada sesama. Dengan memahami bahwa pengampunan adalah anugerah, kesempatan, sekaligus risiko, ketika kita mengampuni seseorang, kita sadar bahwa selalu ada kemungkinan kita akan dilukai kembali oleh orang yang sama melalui kesalahan yang sama. Kendati kemungkinan itu niscaya, kita tetap perlu memberi kesempatan kepada orang tersebut. Mengapa? Karena kita telah terlebih dahulu diberi kesempatan yang besar dalam anugerah Allah. Dengan kata lain, apa yang telah kita terima dari Allah wajib kita limpahkan juga kepada orang lain.

Membaca kebenaran ini seperti menaruh bara api di atas kepala kita sendiri. Di satu sisi kita tahu bahwa ini benar, tetapi di sisi lain hal ini sangat sulit dan bahkan dapat menghanguskan kita. Namun, tidak ada pilihan lain. Bukankah hidup kita seharusnya serupa dengan-Nya? Jika demikian, hidup dalam pengampunan yang merengkuh ketiga sisi ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari. Mengampuni berarti selalu menempatkan diri kita dalam posisi yang rapuh. Kita dapat dikhianati kembali kapan saja. Tidak ada jaminan bahwa orang yang kita ampuni akan berubah. Namun, inilah hakikat pengampunan: pertemuan antara anugerah (kemurahan hati kita), kesempatan (kesediaan membuka hati), dan risiko (ketiadaan jaminan).

Tanpa salah satu dari ketiganya, pengampunan yang sejati tidak akan terjadi. Oleh karena itu, marilah kita menyadari hari ini bahwa ketika mengampuni seseorang, harapan kita hanya satu, yakni mengekspresikan ketiganya dalam tuntunan Roh Allah. Jangan sampai kita hanya dikuasai oleh ego, sehingga kita ingin memberi pengampunan, tetapi tidak bersedia membuka kesempatan agar hubungan dipulihkan seperti sediakala dan menerima risiko bahwa kita dapat dilukai kembali.