Skip to content

Kekudusan Aktif

 

Status baru yang diterima manusia melalui karya penebusan Kristus menempatkan manusia bukan lagi sebagai pemberontak, melainkan sebagai anak. Menurut Ibrani 12, sebagai anak, tetapi anak gampang (Yun. nothos). Status inilah yang justru membuka ruang bagi Allah Bapa untuk mendidik mereka yang mengaku dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Pemilik kehidupan. Tujuan didikan ilahi ini jelas, yaitu supaya mereka dapat mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:5–10).

Di dalam pengudusan, terdapat dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Pertama, pengudusan sebagai perubahan status—dari pemberontak menjadi anak. Kedua, pengudusan sebagai pemberian potensi atau kemungkinan bagi manusia untuk benar-benar berkeadaan seperti Bapa. Aspek kedua inilah yang menuntut respons aktif dari manusia. Tanpa respons tersebut, seseorang akan tetap berada pada tahap nothos, tidak pernah bertumbuh menjadi huios (Yun), yakni anak yang sah dan dewasa. Perubahan dari nothos ke huios bukan proses otomatis, melainkan melibatkan ketaatan dan perjuangan pribadi setiap individu.

Pengudusan tidak berhenti pada sekadar perubahan status, melainkan harus berlanjut menjadi proses nyata di mana setiap langkah hidup orang yang telah dikuduskan sungguh-sungguh memancarkan kekudusan. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan hal ini. Dalam 1 Tesalonika 4:7 tertulis, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” Sejalan dengan itu, 1 Petrus 1:16 menegaskan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Perintah-perintah ini tidak ditujukan kepada orang-orang di luar iman, melainkan kepada orang-orang percaya. Dengan demikian, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kekudusan yang aktif.

Kekudusan aktif adalah respons manusia atas anugerah Kristus yang terwujud melalui kesediaan melepas karakter dosa, sehingga ia tidak hanya diampuni dari masa lalu tetapi juga dimampukan untuk tidak terus jatuh dalam dosa yang sama. Kekudusan aktif bukan sekadar mengurus kesalahan yang telah terjadi, melainkan mengupayakan supaya kemungkinan untuk berbuat dosa kembali semakin disempitkan. Inilah yang dimaksud dengan anugerah yang bertanggung jawab. Orang yang menerima pengampunan Allah tidak lagi hidup sembarangan, melainkan menyerahkan diri untuk diperbaiki oleh Tuhan.

Perbaikan yang Tuhan kerjakan bukanlah perbaikan dangkal, melainkan pemulihan gambar Allah yang telah rusak oleh dosa. Proses ini mengarahkan manusia kembali kepada rancangan semula Allah. Ketika seseorang mengalami pengudusan aktif, hidupnya menjadi berbeda. Kekudusan menjadikannya terpisah, bukan dalam arti eksklusif secara sosial, melainkan berbeda secara moral dan rohani. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mereka yang dikuduskan memiliki arah hidup yang tidak sama dengan mereka yang tidak menerima keselamatan di dalam Kristus. Proyeksi akhirnya adalah kesempurnaan seperti Bapa di surga.

Karena itu, pengampunan tanpa proses pengudusan akan mereduksi karya Allah secara fatal, karena memperlakukan-Nya seolah hanya sebagai ‘pembersih dosa’ dan mengabaikan peran-Nya sebagai Bapa yang mendidik anak-anak-Nya. Pandangan seperti ini sangat berbahaya. Seorang pencuri yang hanya dimaafkan tanpa dididik untuk berhenti mencuri tidak akan berubah; ia justru akan semakin merajalela dalam kejahatannya. Demikian pula orang percaya yang hanya mengandalkan pengampunan tanpa kesediaan untuk berubah akan tetap hidup dalam pola dosa yang sama.

Jika orang percaya Perjanjian Baru hanya menerima pengampunan tanpa dididik untuk menjadi sempurna dan dipulihkan kepada rancangan Allah semula, maka tidak ada perbedaan mendasar dengan kesalehan Perjanjian Lama. Padahal, Injil memanggil manusia bukan hanya untuk diampuni, tetapi untuk dipulihkan sepenuhnya dan memperoleh kembali kemuliaan Allah yang telah hilang. Perubahan status dari pemberontak menjadi anak harus berlanjut sampai seseorang benar-benar hidup dalam kekudusan seperti Bapa.

Itulah sebabnya Rasul Petrus mengingatkan dalam 1 Petrus 1:17 bahwa jika kita memanggil Allah sebagai Bapa, kita harus hidup dalam ketakutan yang kudus selama menumpang di dunia ini. Hidup sebagai anak Allah menuntut sikap hormat, tunduk, dan taat kepada kehendak Bapa. Model Anak yang sepenuhnya menyukakan hati Bapa adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Karena itu, proyeksi keselamatan adalah supaya orang percaya menjadi serupa dengan Kristus (Rm. 8:28–29).

Jika seseorang menolak proses untuk menjadi serupa dengan Kristus, maka sesungguhnya ia menolak tujuan pengampunan itu sendiri. Pengampunan diberikan bukan untuk membiarkan manusia tetap seperti sebelumnya, melainkan agar ia dapat masuk ke dalam proses perubahan yang mempersiapkannya untuk dimuliakan bersama-sama dengan Kristus. Kekudusan aktif, dengan demikian, bukan pilihan tambahan dalam kehidupan Kristen, melainkan esensi dari keselamatan itu sendiri.