Skip to content

Menghadapi Risiko Pengampunan dengan Hikmat

 

Pengampunan selalu memiliki risiko—risiko bahwa orang yang kita ampuni akan kembali melukai kita dengan luka yang sama. Di satu sisi, risiko ini harus kita terima sebagai bagian dari pengampunan. Tidak menerima risiko yang lahir dari pengampunan menunjukkan bahwa pengampunan kita bersyarat. Padahal, Tuhan mengajarkan kita untuk menunjukkan kasih yang tak bersyarat, pertama-tama kepada Tuhan dan selanjutnya juga kepada sesama manusia. Salah satu wujud kasih tak bersyarat itu ialah ketika kita berani menerima risiko yang lahir dari keputusan untuk mengampuni seseorang.

Akan tetapi, pemikiran seperti ini tentu memunculkan pertanyaan tentang bagaimana dengan diri kita sendiri. Misalnya, jika seseorang pernah menipu hingga menghabiskan uang kita, lalu ia datang dan meminta ampun, apakah kita harus mengampuni dan tetap memercayakan kembali uang kita kepadanya seperti sebelumnya? Apakah kita harus terus menerima risiko, bahkan rela mengalami kerugian secara terus-menerus, lalu kembali mengampuni?

Tentu jawabannya adalah tidak. Di satu sisi, risiko pengampunan memang tidak dapat ditolak. Selalu ada kemungkinan bahwa orang yang telah kita ampuni kembali melukai kita. Orang yang pernah menipu kita, bisa saja menipu kita lagi meskipun telah dimaafkan. Namun, menerima risiko ini bukan berarti kita memasrahkan diri untuk terus-menerus menanggung risiko yang sama. Risiko pengampunan harus kita sambut dengan satu tangan, sementara tangan yang lain mempersiapkan antisipasi dengan hikmat.

Kita tidak boleh mengabaikan tanggung jawab untuk memelihara kepercayaan Tuhan melalui uang, aset, atau kepemilikan pribadi lainnya yang dipercayakan kepada kita untuk dimanfaatkan demi kepentingan pelayanan kepada-Nya. Tidak terkecuali hati dan pikiran kita, yang juga harus diarahkan untuk bekerja bagi Kerajaan-Nya. Jika seseorang terus mengalami kerugian secara materiil maupun immateriil karena kurang hikmat dalam menghadapi orang-orang yang culas atau tidak peduli terhadap perasaan sesama, pada akhirnya ia dapat kehilangan kesempatan untuk melayani Tuhan dengan sumber daya yang tersedia.

Terhadap orang-orang yang culas dan tidak peduli terhadap sesama, kita perlu bersikap hikmat tanpa meninggalkan prinsip kasih yang tak bersyarat. Firman Tuhan berkata, “Sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat. 10:16). Pernyataan Matius ini memberi kita petunjuk bahwa seseorang dapat tetap memiliki hati yang tulus dalam mengasihi, sambil tetap berjaga-jaga. Keduanya tidak saling bertentangan, seolah-olah ketika seseorang mengantisipasi kerugian yang mungkin terjadi—baik materiil maupun immateriil—ia berarti tidak mengasihi atau bersikap perhitungan.

Menjadi tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular merupakan kesediaan orang Kristen untuk menghidupi kasih tak bersyarat yang bersedia menerima risiko apa pun, tetapi sekaligus diimbangi dengan hikmat. Menariknya, Matius menggunakan kata tulus yang sangat terasosiasi dengan motif dasar hati, sedangkan kata cerdik lebih berkaitan dengan bagaimana sebuah tindakan dipertimbangkan dan dilaksanakan berdasarkan motif tersebut. Hal ini memberi petunjuk bahwa motif dasar hati kita terhadap orang yang pernah melukai kita tidak boleh berubah. Motif dasar hati kita harus tetap kasih.

Namun, bagaimana kita merealisasikan kasih itu kepada setiap orang perlu dipertimbangkan dan dijalankan dengan kecerdikan. Kembali ke contoh orang yang pernah menipu kita secara materiil: dosanya harus kita ampuni, dan perasaan kita kepadanya perlu diusahakan tetap penuh kasih sebagaimana sebelum masalah itu terjadi. Akan tetapi, cara kita mengasihinya tidak lagi dengan memercayakan uang kita kepadanya. Jika ia membutuhkan pinjaman, bisa jadi kita menolaknya dan menawarkan solusi lain yang lebih baik. Menolak meminjamkan uang tidak berarti hati kita masih membencinya, melainkan merupakan upaya menjaga kepercayaan Tuhan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Inilah makna menjadi tulus seperti merpati dan cerdik seperti ular. Memang harus diakui bahwa dalam kondisi tertentu, situasi bisa jauh lebih kompleks dan tidak sesederhana contoh di atas. Oleh karena itu, kita memerlukan pimpinan Roh Kudus untuk memberi hikmat tentang bagaimana merealisasikan kasih kepada orang yang pernah melukai kita tanpa kehilangan dua sisi penting ini: ketulusan dan kecerdikan.