Skip to content

Pengampunan Bukan Hak Kita

 

Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat ungkapan-ungkapan yang terdengar wajar dan rasional, bahkan sering kali kita ucapkan tanpa banyak pertimbangan. Kalimat seperti, “Saya bisa mengampuni, tetapi yang itu sudah keterlaluan,” atau “Ada batasnya juga memberi pengampunan,” terdengar manusiawi dan masuk akal. Namun justru di situlah persoalannya. Kalimat-kalimat tersebut menyimpan asumsi teologis yang jarang disadari, tetapi sangat mendasar.

Tanpa disadari, ungkapan-ungkapan itu menempatkan manusia sebagai “pemilik pengampunan”. Pengampunan seolah-olah berada dalam genggaman tangan manusia, sehingga manusia merasa berhak menentukan siapa yang layak menerima pengampunan dan sejauh mana pengampunan itu diberikan. Sebelum melangkah lebih jauh dalam membahas pengampunan terhadap sesama, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dengan jujur adalah: siapakah manusia sebenarnya di hadapan Allah?

Rasul Paulus memberikan jawaban yang tegas dalam Roma 3:23–24. Ia menyatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, tetapi dibenarkan dengan cuma-cuma oleh kasih karunia melalui Kristus Yesus. Pernyataan ini tidak menyisakan ruang untuk pengecualian. Tidak ada hierarki rohani, tidak ada tingkat kelayakan, dan tidak ada posisi istimewa. Semua manusia—tanpa terkecuali—berdiri pada posisi yang sama: bersalah dan membutuhkan anugerah.

Dalam pemikiran Paulus, dosa bukan sekadar pelanggaran moral atau hukum. Dosa adalah kegagalan eksistensial, sebuah kondisi di mana manusia kehilangan arah, makna, dan tujuan hidup yang sejati. Manusia gagal menjadi pribadi seperti yang Allah kehendaki. Namun justru pada titik kegagalan total inilah Injil berbicara tentang anugerah: pembenaran yang diberikan Allah secara cuma-cuma. Jika keselamatan dimulai dari anugerah yang tidak diperjualbelikan, maka pengampunan tidak pernah dimulai dari pertanyaan tentang siapa yang pantas menerimanya.

Masalahnya, anugerah yang diterima manusia sering kali tidak mengubah kerangka berpikirnya. Pengampunan Allah diterima dan dinikmati, tetapi pada saat yang sama manusia masih ingin menguasai pengampunan itu—mengatur distribusinya, menetapkan batasnya, dan menentukan siapa yang layak atau tidak layak menerimanya. Anugerah yang seharusnya membebaskan manusia dari posisi hakim justru digunakan untuk mengukuhkan posisi tersebut. Manusia yang telah diampuni berubah menjadi hakim bagi sesamanya.

Dalam konteks inilah pertanyaan Petrus kepada Yesus menjadi sangat relevan. Ia bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kali?” (Mat. 18:21). Pertanyaan ini tidak lahir dari niat jahat. Sebaliknya, pertanyaan tersebut mencerminkan religiositas yang tinggi. Dalam tradisi Yahudi, mengampuni tiga kali sudah dianggap sangat saleh. Petrus menaikkan standar itu menjadi tujuh kali—angka simbolik yang melambangkan kesempurnaan. Namun di balik niat baik itu tersembunyi satu persoalan mendasar: Petrus masih ingin mengendalikan pengampunan. Ia tidak bertanya bagaimana mengampuni dengan benar, melainkan kapan kewajibannya selesai.

Jawaban Yesus mengguncang seluruh logika tersebut. “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:22). Yesus tidak sedang menawarkan angka baru, melainkan meruntuhkan seluruh cara berpikir yang berbasis perhitungan. Selama pengampunan masih dapat dihitung, ia belum menjadi Injil, melainkan sekadar etika moral. Dengan sengaja Yesus membalik logika dunia—yang hidup dalam spiral balas dendam tanpa batas—menjadi spiral pengampunan tanpa batas. Kerajaan Allah tidak beroperasi dengan aritmatika dosa, melainkan dengan anugerah.

Yesus kemudian menegaskan kebenaran ini melalui perumpamaan tentang seorang hamba yang berutang dalam jumlah yang mustahil dilunasi seumur hidupnya. Sang raja menghapus seluruh utang itu tanpa syarat. Namun hamba tersebut justru menolak mengampuni sesamanya yang berutang dalam jumlah yang sangat kecil. Ironisnya, ia baru saja keluar dari ruang pengampunan, tetapi segera memperlihatkan wajah seorang algojo. Murka raja bukan terutama karena dosa lama hamba itu, melainkan karena pengampunan yang dinikmati secara egois dan tidak diteruskan kepada sesama.

Pada titik inilah Injil mengarahkan manusia untuk berhenti membicarakan orang lain dan mulai bercermin pada dirinya sendiri. Siapakah manusia sehingga merasa berhak menentukan siapa yang layak diampuni dan siapa yang tidak? Manusia bukan pemilik pengampunan, bukan pengelolanya, dan bukan pula distributornya. Manusia hanyalah orang-orang yang hidup karena pengampunan yang sejatinya tidak pernah layak mereka terima.

Pengampunan tidak berarti membenarkan kejahatan atau meniadakan luka. Pengampunan berarti menyerahkan kembali hak untuk menghakimi ke dalam tangan Allah. Injil tidak pernah bertanya apakah orang lain pantas diampuni. Injil justru bertanya apakah manusia bersedia hidup konsisten dengan anugerah yang telah ia terima.