Skip to content

Komitmen Menjadi Teladan Kudus

 

Ketika warna hidup kita berbeda dari dunia, kita sedang menantang dunia dan bahkan menantang orang Kristen yang masih serupa dunia. Suatu hari, jangan sampai orang berkata, “Mengapa kamu tidak paksa kami ikut?” Kita mungkin tidak punya kedudukan, kekayaan, atau pengaruh, tetapi jika kita mengalami kepenuhan Allah, nilai kita jauh melampaui semua itu. Kita berkejar-kejaran antara dunia yang hendak merenggut kita atau kita yang memilih direnggut Tuhan.

Hidup suci bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak orang berpikir mencari uang lebih sulit daripada hidup suci, padahal Alkitab berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah,” karena memang itulah perkara yang paling sukar. Tuhan tidak berurusan dengan siapa kita di masa lalu, tetapi siapa kita hari ini dan siapa kita akan menjadi. Ia mengampuni dosa-dosa kita, tetapi apakah kita benar-benar memiliki tekad meninggalkannya? Bukan sekadar janji, melainkan komitmen yang diperiksa Tuhan—apakah ada sikap hati kita yang belum pantas?

Manusia boleh memiliki ambisi dan keinginan. Namun setan dapat menggunakan keinginan itu untuk menguasai kita. Karena itu, arahkan ambisi kita kepada puncak kekudusan, puncak kesucian, puncak pengabdian. Mengapa kita tidak berambisi menjadi manusia yang tidak bercela dan menyenangkan hati Tuhan? Daging kita menolak, tetapi kita harus memecahkannya dan menjadi orang saleh. Inilah harta abadi yang tidak akan pernah disesali.

Kita memang belum sempurna, tetapi kita harus berkomitmen menjadi teladan. Lunakkan hati seperti Yesus. Jika kita menjalani proses kekudusan yang benar, kita akan menarik orang lain memasuki proses itu. Gereja harus menjadi tempat yang membunuh kedagingan dan melahirkan manusia baru, bukan sekadar menjalankan aktivitas liturgi.

Mari berubah, supaya hidup kita indah dan menjadi hadiah bagi orang-orang terdekat. Kita punya masa depan sebagai perwira tinggi Kerajaan Surga. Dengan hidup suci, tidak ada orang yang akan memiliki alasan untuk menyalahkan kita pada hari penghakiman. Komitmen ini harus menjadi habit, kemudian habitat—hingga melakukan kehendak Allah bukan lagi kewajiban, tetapi kebutuhan.

Ketika kita telah hidup dalam kekudusan, melihat jiwa-jiwa yang terhilang menjadi “rezeki rohani” kita. Kita mulai bertanya: Bagaimana aku mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan? Siapa yang bisa kubawa kepada-Nya? Dimulai dari keluarga, kerabat, tetangga, teman kantor, dan siapa pun yang Tuhan izinkan kita temui.