Skip to content

Menulari Sesama dengan Hidup dalam Roh

 

Kita adalah orang yang berutang, bukan untuk hidup menurut daging, melainkan hidup menurut Roh. Hidup menurut Roh berarti melakukan kehendak Allah, menerjemahkan pikiran dan perasaan-Nya dalam perilaku konkret kita setiap hari. Ketika hidup kita selaras dengan Roh, kita mencerminkan kehidupan Yesus yang menampilkan Allah yang tidak kelihatan. Dengan demikian, kita pun dipanggil untuk menerjemahkan kehidupan Yesus dalam tindakan nyata.

Seseorang yang benar-benar hidup menurut Roh akan memiliki beban yang sama seperti hati Allah—bahwa Ia tidak menghendaki seorang pun binasa. Karena itu, kita pun memiliki perasaan berutang untuk menyelamatkan setiap orang yang kita temui, walaupun kita sadar tidak semua orang akan menerima keselamatan tersebut. Namun, jangan sampai ada orang yang menolak keselamatan karena kesalahan atau ketidaksungguhan kita.

Untuk memiliki beban itu, seseorang harus terlebih dahulu hidup dalam kekudusan, tidak terikat dunia, tidak dibahagiakan oleh fasilitas dunia ini. Jika seseorang masih hidup dalam dosa dan kecintaan dunia, ia tidak mungkin sepenanggungan dengan Tuhan dan tidak mungkin memiliki beban keselamatan bagi orang lain. Ciri orang yang belum benar-benar selamat adalah tidak adanya beban untuk keselamatan sesama. Sebaliknya, mereka yang hidup menurut Roh, membangun kesucian, dan merindukan Kerajaan Allah akan siap mempertaruhkan apa pun demi keselamatan jiwa—karena satu jiwa lebih berharga daripada seluruh dunia.

Namun, banyak orang tidak berani menderita bersama Kristus. Mereka tidak memahami mengasihi diri sendiri secara benar, yaitu mengusahakan keselamatan dirinya. Pengasihan diri yang salah adalah egoisme, tetapi mengasihi diri secara benar berarti mengusahakan diri kembali kepada rancangan Allah. Orang yang mengalami transformasi ini akan haus dan lapar akan kebenaran, selalu memandang Yesus sebagai standar, dan berjuang untuk mencapai keserupaan dengan-Nya. Dari pengalaman perubahan itulah ia akan “menulari” orang lain, membawa mereka masuk dalam proses serupa.

Pelayanan gereja sering kali kehilangan fokus karena tidak diarahkan pada perubahan kodrat manusia menjadi serupa Kristus. Padahal, kepenuhan Allah yang memancarkan kemuliaan-Nya harus diperjuangkan, dan mereka yang merasakan perubahan itu akan terus bertumbuh. Hanya manusia yang mulia—yang mengalami perubahan kodrat—yang layak menerima tubuh kemuliaan. Karena itu, setiap anak Tuhan harus merasa berutang untuk menolong orang lain keluar dari kodrat lama menuju kodrat ilahi.

Kita dipanggil untuk menjadi garam dunia, menulari sesama dengan kehidupan yang berbeda. Tidak ada kesenangan dunia—kekayaan, kedudukan, kecantikan, kepopuleran—yang dapat memuaskan. Tetapi menjadi pribadi yang menyukakan hati Allah dan membuat orang lain terjangkit kerinduan akan kekudusan, itulah kemuliaan yang sejati.