Banyak orang Kristen mengalami pergumulan: setelah bertahun-tahun menjadi orang percaya, mereka merasa selalu gagal menyenangkan hati Allah. Bertahun-tahun mereka merindukan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela—kehidupan yang sempurna—tetapi tetap merasa gagal. Sampai pada titik di mana kita mulai agak putus asa dan bertanya, “Apakah mungkin saya dapat mencapai kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela (mencapai kesempurnaan)?” Setelah sekian puluh tahun jatuh-bangun, kita menemukan satu formula kehidupan yang mulai mengubah hidup. Walaupun tentu semuanya masih harus terus berproses. Berangkat dari pemahaman mengenai kehidupan orang Kristen pada abad pertama, kita melihat bagaimana Tuhan memisahkan orang-orang percaya dari Yudaisme (agama Yahudi).
Jika kita membaca Kisah Para Rasul, kita mendapati bahwa Yohanes dan Petrus masih pergi ke Bait Allah, mengikuti ibadah orang-orang Yahudi. Namun Tuhan memisahkan umat-Nya melalui para imam kepala dan tokoh-tokoh agama Yahudi yang menangkap orang Kristen dan membunuh mereka dengan rajam batu (seperti yang dialami Stefanus). Salah satu tokoh yang memimpin tindakan itu adalah Saulus, yang dengan semena-mena menangkap dan membunuh orang Kristen. Kemudian Saulus bertobat, dan namanya diubah menjadi Paulus.
Di sisi lain, orang percaya juga dipisahkan dari dunia secara drastis melalui aniaya yang dilakukan oleh Kekaisaran Roma. Gereja dipisahkan dari dunia; gereja tidak mendapat akses sekecil apa pun untuk menikmati hidup. Orang-orang Kristen dipancung, dibakar hidup-hidup, dimasukkan ke dalam belanga panas sampai mati, atau dilemparkan ke dalam kandang binatang buas untuk menjadi santapan. Di kota Roma terdapat Koloseum, yang masih menjadi saksi sejarah sampai hari ini atas fakta tersebut.
Namun, melalui aniaya-aniaya itu orang percaya terpisah dari dunia. Kita percaya, memahami, dan mulai mengalami bahwa format ini menjadi format penting yang dapat menjadi pola atau landasan hidup orang percaya sepanjang zaman. Pola ini tidak pernah Tuhan ubah. Pada dasarnya, orang percaya harus dipisahkan dari dunia. Landasan kebenaran ini bukan hanya berasal dari sisi historis, melainkan juga dari Alkitab: bagaimana kita membangun hidup kekristenan yang benar untuk mencapai kehidupan yang semakin tidak bercacat dan tidak bercela, semakin sempurna, sehingga berkenan kepada Allah.
Dalam 1 Korintus 6:19–20 tertulis bahwa Tuhan telah membeli kita dengan harga yang lunas. Tuhan tidak membayar secara bertahap atau mengangsur, melainkan tunai. Ini berarti, dalam satu kali pembayaran, secara de jure (secara hukum), Tuhan Yesus telah memiliki kita; kita sudah menjadi milik Allah. Karena itu kita mengerti mengapa dalam Kolose 3:3 firman Tuhan menyatakan, “Kamu sudah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Kita mati bagi diri sendiri, mati bagi dunia, dan hidup untuk Allah. Berangkat dari konsep ini, kita harus berani bersikap bahwa kita adalah milik Allah, yang tidak lagi dimiliki dunia atau diri kita sendiri. Dulu kita sering berpikir bahwa Allah menoleransi sikap kita, seolah-olah kita dapat dimiliki Allah secara bertahap. Biasanya kita menyebutnya sebagai “proses.”
Pendewasaan, perubahan, dan kesempurnaan memang harus melalui proses—ini mutlak dan tidak bisa terjadi secara mendadak. Namun, komitmen untuk dimiliki Allah tidak melalui proses. Itu adalah komitmen satu kali untuk selamanya. Kita mungkin tidak bermaksud mengkhianati Tuhan, tetapi sering kali kita berpikir bahwa seiring pendewasaan rohani dan perjalanan waktu, kita akan menyerahkan hidup kita secara bertahap, sampai akhirnya nanti 100% dimiliki Allah. Sejatinya, itu tidak akan pernah terjadi. Di situlah letak kesalahannya.
Kita harus menerima kenyataan bahwa kita telah dibeli dengan harga yang lunas. Maka kita harus berani berkata, “Aku serahkan hidupku menjadi milik-Mu. Dunia bukan rumahku; aku mau pulang ke surga. Aku mau hidup suci, tidak bercacat, tidak bercela. Aku hidup hanya untuk melayani Engkau dan mengabdi kepada-Mu. Segenap hidupku adalah milik-Mu.” Komitmen itu tidak boleh setengah-setengah atau bertahap. Harus utuh sejak awal. Selanjutnya, proses pendewasaanlah yang membuat kita mampu memenuhinya. Tetapi komitmen harus lebih dahulu dinyatakan.