Kasih adalah identitas utama orang percaya. Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jika kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:35). Kasih bukan hanya perasaan, melainkan sebuah komitmen: komitmen untuk menerima, memahami, melayani, dan memberikan diri bagi sesama, termasuk mereka yang sulit dikasihi. Komitmen untuk mengasihi memang tidak mudah, namun itulah tanda nyata bahwa seseorang hidup dalam terang Kristus.
Sering kali kita memandang kasih sebagai emosi yang muncul secara otomatis. Padahal kasih sejati justru terlihat ketika kita memilih untuk tetap mengasihi meskipun sulit melakukannya. Roma 12:9 berkata, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura; jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” Kasih yang sejati memerlukan integritas. Kasih tidak boleh menjadi topeng, melainkan tindakan yang lahir dari hati yang telah diubahkan.
Mengasihi sesama berarti memandang orang lain seperti Tuhan memandang mereka. Setiap orang yang kita temui—baik yang menyenangkan maupun yang menyakiti—adalah ciptaan Allah yang berharga. Mengasihi sesama berarti menyadari bahwa kasih yang kita terima dari Tuhan harus mengalir, bukan berhenti pada diri kita. Ketika kita mengalami pengampunan Tuhan, kita dipanggil untuk mengampuni. Ketika kita menerima kasih karunia-Nya, kita dipanggil untuk memberikan kasih karunia yang sama kepada orang lain.
Namun, mengasihi sesama sering menjadi tantangan besar dalam hidup. Ada orang-orang yang membuat kita frustrasi, menyakiti, atau sulit didekati. Tetapi kasih yang sejati tidak memilih-milih. Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh, mendoakan orang yang menganiaya kita, dan berbuat baik kepada mereka yang tidak membalas. Hal ini mustahil dilakukan dengan kekuatan manusia, tetapi mungkin melalui Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita.
Kasih juga berarti memberi diri. Kasih tidak pasif; kasih aktif bergerak. 1 Yohanes 3:18 berkata, “Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Kasih terlihat dalam aksi: menolong mereka yang membutuhkan, mendoakan mereka yang terluka, hadir bagi mereka yang kesepian, atau memberikan waktu, tenaga, dan perhatian kepada orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita.
Komitmen untuk mengasihi juga berarti menjaga relasi. Konflik adalah bagian dari hidup. Namun, orang yang berkomitmen untuk mengasihi tidak lari dari konflik. Mereka memilih berdialog, mengampuni, dan memperbaiki hubungan. Mereka menolak kepahitan dan dendam. Mereka memilih jalan rekonsiliasi. Kasih memulihkan apa yang rusak dan mengembalikan apa yang hilang.
Mengasihi juga berarti rendah hati. Banyak konflik timbul karena kesombongan dan keinginan untuk menang sendiri. Namun kasih mengajar kita untuk merendahkan diri dan memikirkan kepentingan orang lain (Flp. 2:3–4). Kasih membuat kita mau meminta maaf ketika salah dan mengakui kesalahan tanpa membenarkan diri.
Selain itu, kasih juga berarti sabar. Kasih tidak menuntut perubahan instan dari orang lain. Kasih memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh. Sama seperti Tuhan sabar terhadap kita, kita pun dipanggil untuk sabar terhadap sesama: pasangan, anak, rekan pelayanan, rekan kerja, atau teman yang sedang dalam proses pemulihan.
Puncak dari komitmen mengasihi adalah kasih yang berkorban. Yesus berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Kasih yang sejati memberi, bukan mengambil. Kasih mengorbankan ego, waktu, kenyamanan, bahkan hak pribadi demi kebaikan orang lain.
Hari ini, marilah kita merenungkan: Apakah saya sungguh-sungguh mengasihi sesama, atau hanya mereka yang mudah dikasihi? Adakah hubungan yang perlu saya pulihkan? Apakah saya memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh? Apakah kasih saya terlihat dalam tindakan?
Mari kita terus membangun komitmen untuk mengasihi sesama, sehingga identitas kita sebagai murid Kristus nyata dalam dunia ini. Amin.