Komitmen adalah fondasi dari setiap hubungan, termasuk hubungan manusia dengan Allah. Ketika Tuhan Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu” (Mat. 22:37), Ia menegaskan bahwa hubungan kita dengan Allah menuntut totalitas. Komitmen kepada Allah bukan sekadar aktivitas religius atau tradisi rohani; komitmen adalah orientasi hidup, penyerahan diri secara total kepada Tuhan sebagai pusat dan tujuan utama kita. Tanpa komitmen yang benar kepada Allah, segala bentuk pelayanan, moralitas, dan aktivitas rohani tidak akan memiliki makna yang mendalam.
Sering kali orang Kristen mengalami kebingungan rohani, kelelahan batin, kehilangan arah dalam mengiring Tuhan, bahkan kehilangan sukacita dalam pelayanan—bukan karena mereka tidak rajin atau tidak berdoa, melainkan karena komitmen utama mereka bergeser. Fokus hidup yang semula diarahkan kepada Allah perlahan-lahan digantikan oleh ambisi pribadi, rutinitas gerejawi, atau tekanan hidup sehari-hari. Mazmur 37:5 berkata, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.” Ayat ini menegaskan bahwa komitmen kepada Allah harus diwujudkan melalui penyerahan hidup yang nyata.
Penyerahan hidup bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan yang disertai tindakan. Ketika seseorang menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, itu berarti ia mempercayakan seluruh aspek hidupnya—masa depan, pekerjaan, keluarga, hubungan, keuangan, bahkan pergumulan batinnya—ke dalam tangan Tuhan. Tanpa penyerahan, komitmen akan mudah goyah ketika badai dan masa-masa sulit melanda. Tetapi dengan menyerahkan hidup kepada Tuhan, seseorang memperoleh kekuatan untuk tetap taat dan setia sekalipun keadaan hidup berubah-ubah.
Komitmen kepada Allah juga berarti menjadikan kehendak Tuhan sebagai ukuran utama dalam pengambilan keputusan. Banyak orang Kristen berkata bahwa mereka mengasihi Tuhan, tetapi ketika dihadapkan pada pilihan hidup, mereka lebih memilih kenyamanan daripada ketaatan. Komitmen kepada Allah mengajar kita berkata seperti pemazmur, “Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku!” (Mzm. 143:10). Artinya, komitmen bukan hanya tentang apa yang ingin kita lakukan untuk Tuhan, tetapi tentang apa yang Tuhan kehendaki kita lakukan dalam hidup ini.
Selain itu, komitmen kepada Allah memerlukan konsistensi. Komitmen bukan keputusan satu kali, melainkan keputusan yang diperbarui setiap hari. Itulah sebabnya Yesus berkata dalam Lukas 9:23, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku.” Ungkapan “setiap hari” menunjukkan bahwa komitmen rohani bukan momen sesaat, tetapi perjalanan panjang yang menuntut disiplin dan pengorbanan.
Komitmen juga menuntut kesetiaan ketika Allah tidak bekerja seperti yang kita harapkan. Banyak orang mulai meragukan Tuhan ketika doa mereka tidak dijawab, ketika hidup tidak berjalan mulus, atau ketika mengalami kekecewaan. Namun, komitmen sejati kepada Allah tidak ditentukan oleh kondisi, melainkan oleh hubungan yang tidak tergoyahkan. Seperti Ayub berkata, “Sekalipun Ia membunuh aku, namun aku akan berharap kepada-Nya” (Ayb. 13:15). Itulah suara dari hati yang berkomitmen.
Salah satu tantangan terbesar dalam komitmen kepada Allah adalah godaan untuk membagi kesetiaan. Banyak orang ingin setia kepada Tuhan, tetapi pada saat yang sama mempertahankan keinginan duniawi yang bertentangan dengan firman-Nya. Yesus berkata, “Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.” Komitmen kepada Allah menuntut eksklusivitas: tidak ada ilah lain, tidak ada kepentingan lain, dan tidak ada ambisi lain yang boleh mengambil tempat utama dalam hidup kita.
Pada akhirnya, komitmen kepada Allah selalu menghasilkan transformasi. Orang yang sungguh-sungguh menyerahkan hidupnya kepada Tuhan akan mengalami perubahan karakter, pembaruan pikiran, dan arah hidup yang semakin jelas. Komitmen kepada Allah menjadi fondasi bagi semua komitmen lain dalam hidup kita: komitmen kepada keluarga, gereja, pekerjaan, pelayanan, dan sesama.
Karena itu, mari kita renungkan bersama: Apakah Allah masih menjadi pusat dari seluruh keputusan hidup saya? Apakah ada area yang belum saya serahkan sepenuhnya kepada-Nya? Apakah komitmen saya kepada Allah hanya muncul saat saya membutuhkan Dia, atau hadir dalam setiap musim hidup saya? Marilah kita terus memperbarui komitmen kita kepada Bapa, Elohim, Yahweh.