Skip to content

Komitmen dalam Kesetiaan di Tengah Pencobaan

 

Kesetiaan adalah salah satu kualitas rohani yang paling indah, tetapi juga paling sulit dijaga. Tidak sulit menjadi setia ketika hidup berjalan mulus, doa dijawab cepat, dan keadaan mendukung. Namun, kesetiaan sejati diuji ketika kita menghadapi pencobaan, tekanan, dan pergumulan hidup. Yakobus 1:12 berkata, “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan.” Ayat ini menunjukkan bahwa ada berkat besar di balik kesetiaan yang diuji.

Kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam Daniel 3 adalah contoh luar biasa tentang kesetiaan di tengah pencobaan. Mereka menghadapi ancaman nyata, yakni dibakar hidup-hidup dalam perapian yang menyala-nyala. Mereka bisa saja memilih kompromi kecil demi menyelamatkan diri. Namun, mereka berkata dengan tegas bahwa sekalipun Allah tidak menyelamatkan mereka, mereka tetap tidak akan menyembah ilah lain. Inilah kesetiaan sejati, kesetiaan yang dibangun dari hubungan dengan Allah.

Kesetiaan dalam pencobaan dimulai dengan keyakinan bahwa Allah tetap baik sekalipun keadaan tidak baik. Ketika hidup terasa sulit, kita sering bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini?” Namun, orang yang setia percaya bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28). Kesetiaan berarti mempercayai karakter Allah bahkan ketika kita tidak mengerti jalan-Nya.

Pencobaan menguji apakah komitmen kita kepada Tuhan hanya sebatas berkat atau benar-benar berakar dalam iman. Banyak orang meninggalkan Tuhan ketika doa tidak dijawab atau ketika mengalami kekecewaan. Namun, kesetiaan mengajar kita bahwa iman bukanlah kontrak yang menjamin hidup bebas masalah. Iman adalah hubungan yang memilih untuk tetap melekat kepada Allah dalam segala keadaan.

Kesetiaan juga memerlukan ketekunan dan komitmen yang kuat. Dalam dunia yang serba instan, ketekunan sering dianggap kuno. Banyak orang cepat menyerah dalam pergumulan rohani, pelayanan, atau relasi. Padahal, kesetiaan berarti tetap bertahan, tetap mengandalkan Tuhan, dan tetap melakukan yang benar meski tidak segera melihat hasilnya. Ketekunan adalah buah dari orang yang percaya bahwa Tuhan bekerja di dalam proses, bahkan ketika proses itu menyakitkan.

Dalam pencobaan, kita juga diuji apakah kita tetap hidup dalam kekudusan. Tekanan sering menjadi alasan seseorang jatuh dalam dosa: stres membuat orang mencari pelarian, kesepian membuat orang masuk ke relasi yang salah, kekurangan membuat orang berkompromi. Namun, kesetiaan berarti tetap menjaga hati, pikiran, dan tindakan agar berkenan kepada Tuhan meski tekanan datang dari segala arah.

Selain itu, kesetiaan juga terlihat dari cara kita menggunakan penderitaan sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Orang yang setia tidak hanya bertahan; mereka juga bertumbuh. Mereka belajar dari setiap pencobaan: kesabaran, kerendahan hati, penyerahan diri, atau kepekaan rohani. Mereka tidak membiarkan pencobaan menghancurkan iman, melainkan justru memperdalamnya.

Kesetiaan juga berhubungan dengan pengharapan. Orang yang setia tetap berharap kepada Tuhan sekalipun situasi tampak gelap. Ibrani 10:23 berkata, “Marilah kita berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia yang menjanjikannya setia.” Kesetiaan kita berdiri di atas kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah. Tuhan menuntut kita tetap tinggal di dalam Dia. Kesetiaan bukan tentang kemampuan manusia, melainkan tentang ketergantungan kepada Allah. Ketika kita lemah, kasih karunia-Nya menjadi sempurna. Ketika kita tidak sanggup bertahan, Roh Kudus memberi kekuatan.

Renungkan hari ini: Apakah saya tetap setia kepada Tuhan ketika hidup sulit? Apakah kesetiaan saya bergantung pada jawaban doa? Apakah saya melihat pencobaan sebagai alat pembentukan Allah? Apakah saya menjaga kekudusan di tengah tekanan?