Skip to content

Kesetiaan dalam Hal-Hal Kecil

 

Kehidupan rohani yang kita jalani terkadang, tanpa kita sadari, mirip seperti mekanisme jam tangan lama. Bukan komponen besar yang membuat jam berhenti, melainkan komponen-komponen kecil yang macet karena debu halus yang dibiarkan menumpuk. Bukan baut besar yang longgar, tetapi baut kecil yang kita anggap tidak penting. Dalam hidup pun demikian: komitmen besar memang terlihat megah, tetapi justru bagian-bagian kecil dari kehidupan sehari-hari yang menentukan apakah komitmen itu bertahan atau, sebaliknya, perlahan melemah. Perkara-perkara kecil yang biasanya kita anggap remeh justru sering kali menjadi penentu arah perjalanan iman kita.

Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Dalam Alkitab tidak tertulis, “Barangsiapa berniat melakukan hal besar…”, melainkan “barangsiapa setia dalam hal kecil…”. Artinya, ukuran sejati komitmen bukan terletak pada niat, bukan pada tekad, bukan pula pada rencana besar yang kita susun, melainkan pada kesetiaan kita dalam hal-hal sederhana yang kita hadapi setiap hari.

Banyak komitmen runtuh bukan karena ketidakmampuan seseorang, melainkan karena hal-hal kecil yang dibiarkan berlalu tanpa diperhatikan. Hubungan retak bukan karena pertengkaran besar, tetapi karena komunikasi yang pelan-pelan merenggang. Pelayanan padam bukan karena tidak mencintai Tuhan, tetapi karena disiplin sederhana—seperti berdoa sebelum melayani—perlahan kita abaikan. Bahkan iman yang dingin sering kali tidak berawal dari serangan rohani yang dahsyat, melainkan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang hilang: satu hari tanpa doa, satu minggu tanpa membaca firman, satu keputusan kecil untuk tidak bersyukur, yang lama-lama menjadi pola hidup.

Kesetiaan dalam hal kecil membutuhkan kerendahan hati. Ada hal-hal yang tampak terlalu sederhana, terlalu kecil, bahkan terlalu sepele untuk dipikirkan. Namun justru di sanalah kita sedang dibentuk. Tuhan menumbuhkan karakter kita melalui hal-hal kecil, bukan hal-hal besar yang hanya terjadi sesekali. Kita tidak menjadi pribadi yang setia karena satu keputusan dramatis, melainkan karena ribuan keputusan kecil yang kita lakukan secara konsisten.

Kesetiaan dalam hal kecil juga mengajarkan kita hidup dengan kesadaran bahwa setiap detail hidup kita penting di hadapan Tuhan. Saat kita mendoakan seseorang tanpa mereka ketahui, setiap kali kita bersyukur atas hal sederhana, ketika kita mengendalikan setiap kata yang terucap dari mulut kita, maupun saat kita memilih mengampuni meskipun punya kekuatan dan kesempatan untuk membalas, semua itu adalah bagian dari komitmen yang sedang dibentuk oleh Tuhan.

Kita cenderung berharap Tuhan mempercayakan kepada kita hal-hal besar: pelayanan yang lebih luas, tanggung jawab yang lebih besar, atau kesempatan yang lebih besar untuk diberkati. Namun Tuhan tidak menilai seperti manusia menilai. Ia melihat sampai ke kedalaman lubuk hati. Ia mempercayakan hal besar kepada orang-orang yang terbukti setia dalam hal kecil, bukan kepada mereka yang hanya berkomitmen secara impulsif atau emosional.

Karena itu, di awal tahun ini, jangan terburu-buru membuat resolusi besar yang terdengar inspiratif, tetapi sulit dipertahankan. Seperti ketika Ia mengutus hamba-Nya, Musa, Allah meminta kita memulai dari apa yang ada di tangan kita (lih. Kel. 4:1–2). Mulailah dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dapat kita lakukan dengan konsisten; dari hal-hal sederhana yang terlihat biasa; dari langkah kecil yang mungkin tidak dilihat siapa pun.

Langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus lambat laun menumbuhkan komitmen yang kokoh. Sama seperti tumbuhan bertumbuh bukan karena satu kali siraman besar, melainkan siraman-siraman kecil setiap hari, demikian pula komitmen kita. Tuhan menghendaki kita menjadi pribadi yang setia pada langkah kecil yang kita tahu harus dilakukan hari ini. Pada akhirnya, kesetiaan dalam hal kecil mengajar kita bahwa Tuhan tidak hanya hadir dalam peristiwa besar hidup kita, tetapi juga dalam momen-momen sederhana yang sering terlewat. Melalui kesetiaan sederhana yang kita lakukan setiap hari, Tuhan sedang membentuk sesuatu yang besar di dalam diri kita.