Tuhan jarang sekali memberitahukan kapan seseorang akan dipanggil-Nya pulang. Hal ini paralel dengan fakta bahwa tidak seorang pun mengetahui hari kedatangan Tuhan untuk mengakhiri sejarah dunia ini—yang banyak orang sebut sebagai hari kiamat (Mat. 24:36; Kis. 1:7). Jika manusia mengetahui hari kematiannya atau hari kedatangan Tuhan, mereka justru akan berjaga-jaga dengan sikap yang tidak benar. Berjaga-jaga karena diancam kematian atau karena takut menghadapi kiamat adalah sikap berjaga-jaga yang keliru. Ini merupakan sikap yang tidak natural dan tidak proporsional. Orang yang berjaga-jaga dengan cara demikian tidak memiliki pertobatan yang sejati.
Pertobatan adalah perubahan pikiran. Jika seseorang bertobat hanya karena takut akan kematian atau kiamat—bukan karena perubahan pikiran—maka itu bukan pertobatan yang benar. Pertobatan yang hanya berupa berhenti dari dosa tertentu, khususnya pelanggaran moral umum, bukanlah pertobatan Kristiani yang dikehendaki Allah. Kata pertobatan berasal dari metanoia (Yun.), yang berarti perubahan pikiran. Ini menandakan suatu proses panjang dalam perjalanan hidup.
Jadi, pertobatan dalam bentuk berhenti dari perbuatan yang melanggar norma umum tidak berakar pada perubahan pikiran yang fundamental. Padahal, Tuhan menghendaki perubahan cara berpikir yang mendasar (Rm. 12:1–2). Pertobatan yang benar adalah pertobatan yang berlangsung terus-menerus setiap hari sehingga seseorang dapat memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Berhenti dari perbuatan yang melanggar norma belum merupakan pembaruan hati untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus.
Sikap berjaga-jaga yang keliru tidak akan membangun cinta kepada Tuhan yang tulus. Cinta kepada Tuhan yang dibangun karena rasa takut mati atau takut menghadapi kiamat bukanlah cinta yang sejati. Cinta kepada Tuhan harus dibangun di atas dasar pengenalan akan Tuhan. Pengenalan ini muncul melalui pergumulan dan perjuangan panjang—baik melalui belajar kebenaran Alkitab maupun melalui pengalaman konkret setiap hari. Cinta kepada Tuhan yang muncul sesaat karena takut mati atau takut menghadapi hari kiamat adalah cinta palsu, cinta yang dipaksakan. Tuhan tidak dapat menikmati cinta semacam ini. Orang yang benar-benar mengasihi Tuhan akan digarap oleh Tuhan melalui segala peristiwa yang ia dengar, lihat, dan alami. Dalam hal ini, cinta kepada Tuhan merupakan syarat utama—bahkan satu-satunya—untuk mengalami penggarapan Tuhan dalam proses pendewasaan hidup.
Sikap berjaga-jaga yang salah tidak akan mendorong seseorang bertumbuh, sebab berjaga-jaga hanya karena takut mati atau takut menghadapi kiamat tidak mengarahkan seseorang kepada kedewasaan rohani atau pencapaian target yang Tuhan kehendaki. Sikap berjaga-jaga yang benar adalah langkah-langkah bertumbuh menjadi dewasa atau sempurna seperti Kristus. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa setiap hari Tuhan menyediakan berkat rohani untuk menumbuhkan kedewasaan kita. Tuhan bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia (Rm. 8:28).
Orang yang berpikir akan bertobat dan sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus di masa tuanya adalah orang yang pasti tidak mengalami proses pendewasaan. Mereka membuang kesempatan-kesempatan berharga yang Tuhan sediakan untuk membentuk kedewasaan dan kesempurnaan hidup mereka. Pada dasarnya, mereka adalah orang-orang yang tidak bersedia diselamatkan. Kiranya komitmen kita untuk mengasihi Dia membuat kita sungguh-sungguh memperbarui gaya hidup kita yang selama ini ceroboh.