Saudaraku,
Hidup yang Tuhan berikan ini sangat berharga, tetapi pada kenyataannya banyak orang yang tidak menghargai hidup dengan benar. Hal ini disebabkan karena mereka salah dalam menanggapi Tuhan. Pada umumnya, mereka berurusan dengan Tuhan hanya karena hendak menjadikan Tuhan sebagai perlidungan bagi masalah hidup di dunia ini. Mereka hanya hendak menjadikan Tuhan sebagai kontributor utama untuk membantu menjalani kehidupan dengan segala kesulitannya. Dengan bertuhan, mereka berkeyakinan dan merasa bahwa hidup ini bisa dijalani dengan lebih menyenangkan menurut versinya. Mereka berkeyakinan bahwa dengan bergereja, maka Tuhan akan memberikan kemudahan-kemudahan dalam menyelesaikan berbagai masalah kehidupan, dari soal ekonomi, kesehatan sampai masalah sorga dan neraka. Ini adalah sikap yang sebenarnya tidak dewasa.
Kalau sikap ini ada dalam kehidupan orang Kristen yang baru atau masih kanak-kanak rohani, bisa dimengerti, tetapi kalau sudah bertahun-tahun menjadi orang Kristen masih memiliki sikap seperti ini, berarti tidak menghormati Tuhan dan tidak pernah dewasa. Sikap ini sebenarnya sikap yang menuduh Tuhan sebagai Pribadi yang mempersulit kehidupan manusia. Tuhan dianggap sebagai Pribadi yang memancing orang atau memaksa orang datang kepada-Nya dengan ancaman kesulitan hidup. Jika benar demikian, allah macam apa Dia? Yang benar tidaklah demikian. Kehidupan ini memang sudah sulit karena manusia yang menjadi penyebabnya (Adam berdosa). Kalau kita mengerti kebenaran, kita menerima kesulitan yang ada dan berjuang untuk dapat menanggulangi hidup dengan penuh tanggung jawab.
Dalam pergumulan menghadapi berbagai persoalan hidup, kita menjadi dewasa mental sebagai fondasi bangunan kedewasaan rohani. Kesulitan hidup juga membuat kita dapat menghayati bahwa bumi ini bukan rumah kita, sehingga kita berpengharapan bumi lain yang lebih baik. Kita harus percaya bahwa Tuhan tidak memberikan kesulitan melampaui kekuatan kita. Jadi kita tidak perlu bersungut-sungut dan tidak minta pertolongan Tuhan atas apa yang menjadi tanggung jawab kita. Sebagai anak-anak Tuhan, Tuhan pasti menopang kita bila ada persoalan yang melampaui kekuatan kita.
Hidup menjadi tidak bernilai ketika seseorang menghabiskan umur hidupnya hanya untuk membangun monumennya sendiri. Monumennya sendiri artinya hanya menjalani hidup sesuai dengan kesenangannya sendiri di bumi ini sehingga tidak berusaha bagaimana menjadi anak-anak Allah, yaitu memiliki kedaulatan tak terbatas atas moralnya untuk dapat hidup sesuai dengan moral Tuhan. Tanpa usaha ini, maka seseorang berarti menyia-nyiakan hidupnya, sehingga ia akan kembali kekekalan dalam kemiskinan abadi (Luk. 12:19-20).
Teriring salam dan doa,
Pdt. Dr. Erastus Sabdono
Hidup menjadi tidak bernilai ketika seseorang menghabiskan umur hidupnya hanya untuk membangun monumennya sendiri.