Bapak/Ibu/Saudaraku sekalian yang kekasih,
Tuhan memperhatikan hidup kita, bukan hanya masalah-masalah besar, namun juga masalah-masalah kecil. Allah Maha Besar, tetapi Allah yang Maha Teliti, Maha Detil. Ini yang sering tidak disadari oleh banyak orang. Menganggap masalah-masalah kecil itu tidak diurusi oleh Tuhan. Masalah-masalah kecil, sekecil apa pun, kalau itu menimbulkan reaksi, menyentuh perasaan Allah, tentu itu bukan masalah kecil lagi. Maka,
Pertama, sekecil apa pun masalah tersebut, kalau menyentuh perasaan Allah, apakah itu menyenangkan atau mendukakan, itu menjadi masalah besar. Kita harus belajar untuk teliti dan detail dalam perkara-perkara kecil, perkara-perkara sederhana, perkara-perkara remeh yang itu bisa menimbulkan reaksi Tuhan, sebab itu bisa menyentuh perasaan Tuhan, bisa menyenangkan atau mendukakan-Nya.
Kedua, perkara kecil dapat membangun perkara yang besar dan menjadi sangat besar. Sebagai contoh, misalnya kalau kita gampang kesal, jengkel. Kesal dan jengkel untuk hal-hal kecil, nanti akan terbangun menjadi kekesalan, kejengkelan untuk perkara besar. Kekesalan, kejengkelan yang berkembang menjadi perkara besar dan akhirnya menjadi persungutan yang membuat kita kehilangan damai sejahtera dan melanggar kehendak Allah, yaitu tidak bersukacita dalam segala hal. Jujur kita kadang-kadang gagal. Aduh ampun, kita kesal, kita jengkel, kalau kawan kita melakukan hal-hal yang menurut kita bodoh. Bodoh, membahayakan bagi pekerjaan yang ada pada kita, mengganggu, tidak berkualitas, menghambat.
Tidak salah kita marah, tapi kalau Alkitab berkata, “jangan sampai matahari terbenam” itu artinya kita harus segera mengelolanya. Kadang-kadang kita bisa berkata, “Tuhan kenapa Kau taruh orang seperti ini di sampingku?” Tetapi Tuhan ternyata mengajar kita karena kita masih belum detail, masih belum teliti untuk hal-hal kecil. Sebab kalau kita tidak mengalami hal ini, kita tidak belajar setia dalam perkara-perkara kecil. Dan kalau kita tidak setia dalam perkara kecil, maka kita juga tidak setia dalam perkara besar. Luar biasa!
Belum lagi kalau kita mulai ngomel mengucapkan kata-kata yang tidak patut, itu mencemari, mengotori kesucian kita. Benih-benih kekesalan, kemarahan itu akan menjadi perasaan liar di dalam jiwa kita. Itu soal kekesalan, sama dengan penggunaan uang. Aduh, kita juga sering gagal, kita kurang peka terhadap kehendak Allah. Akhirnya apa yang terjadi? Kemiskinan, utang. Uang yang tidak perlu kita belanjakan untuk hal-hal yang mestinya tidak perlu kita beli, kita beli. Dan banyak orang menjadi bodoh. Soal seks di gadget bisa muncul gambar-gambar yang tidak perlu. Oh ini soal kecil, kita cuma sekilas lihat. Sekilas lihat, Iblis menaruh benih dan benih itu kalau berkembang menjadi dosa besar.
Soal kejujuran, perkataan kita. Saya sering memberikan ilustrasi, kalau seseorang terlambat, mestinya dia berkata, “Maaf saya terlambat, saya lalai,” dan lain-lain. Itu yang jujur! Tapi kadang-kadang berkata, “Maaf, aku tadi terjebak macet.” Padahal tidak macet. Waktu ditelepon, “Di mana ya, ini kita sudah kumpul nih, you di mana?” “Dikit lagi.” Padahal baru keluar dari rumah. Itu bohong!! Kadang kita jumpai orang yang bohong. Kita bantu anak sekolah, tapi uang tidak dibayarkan. Lalu suatu hari, waktu harus bayar uang sekolah, dia minta tolong dan berkata, “Tolong saya lagi ada kebutuhan, sakit.” Tapi uang itu sebenarnya mau digunakan untuk uang sekolah, karena anaknya tidak boleh ikut ujian, misalnya.
Saudaraku sekalian,
Mari kita mulai hari ini belajar detail, karena Allah detil. Karena Allah juga sungguh-sungguh setia dalam segala perkara. Dalam perkara kecil, perkara besar, Allah setia. Allah mau kita bersih dan kudus dalam segala hal. Dari perkara kecil kita belajar setia, maka kita akan membangun kesucian yang sempurna. Dengan perkara kecil kita setia, tidak akan ada perkara besar yang dengannya kita tidak setia. Dari perkara kecil dan detil, dari masalah-masalah remeh yang biasa dianggap tidak penting, kita kudus, maka kita bisa kudus dalam segala perkara. Ayo, kita belajar. Inilah pesan dan nasihat Tuhan untuk kita yang kita harus turuti.
Tuhan Yesus memberkati,
Pdt. Dr. Erastus Sabdono
Sekecil apa pun masalah tersebut, kalau menyentuh perasaan Allah apakah itu menyenangkan atau mendukakan maka itu menjadi masalah besar.