Skip to content

Mengikatkan Diri 

 

Dalam 1 Korintus 6:17, firman Tuhan mengatakan bahwa barangsiapa mengikatkan dirinya pada Tuhan menjadi satu roh dengan Dia. Kata mengikatkan diri dalam teks aslinya adalah kollōmenos (Yun. κολλμενος), dari akar kata kollaō (κολλω). Kata ini, selain berarti mengikat, juga dapat berarti melekatkan (Inggris: to glue) atau menempelkan secara permanen. Bagaimana implikasi konkretnya jika seseorang mengikatkan diri kepada Tuhan? Ini adalah persoalan penting yang jauh lebih penting daripada hal apa pun, sebab orang Kristen yang gagal mengikatkan diri kepada Tuhan adalah orang yang gagal mengenali dan memiliki keselamatannya. Keselamatan adalah karya Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, termasuk agar manusia dapat terikat dengan Dia. Harus dipahami bahwa bagaimana pun, manusia adalah makhluk yang pasti terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang. Persoalannya adalah: sesuatu itu apa, atau pribadi itu siapa.

Janganlah seseorang merasa telah mengikatkan diri kepada Tuhan hanya karena setia pergi ke gereja. Mengikatkan diri kepada Tuhan berarti selalu berada dalam ketergantungan kepada Tuhan; menyadari bahwa hidup ini tidak dapat dijalani tanpa persekutuan yang benar dengan Tuhan. Persekutuan berarti sejalan dalam pikiran dan perasaan dengan seseorang, sehingga menjadi satu dalam tujuan dan cita-cita. Dengan demikian, persekutuan dengan Tuhan menjadi satu-satunya tujuan hidupnya di bumi ini. Masalah keuangan, kesehatan, status ekonomi dan sosial, pendidikan, dan hal-hal lainnya bukanlah masalah utama. Tanpa persekutuan dengan Tuhan berarti tanpa kehidupan. Gaya hidup seperti ini sangat berbeda dari gaya hidup manusia pada umumnya, yang terbawa oleh berbagai persoalan fana dunia ini sehingga menganggap remeh hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Mereka hidup hanya untuk kesenangan diri dengan memanfaatkan sarana dunia ini. Tetapi orang yang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan tidak akan melakukan sesuatu di luar kehendak dan rencana Tuhan; Tuhanlah yang menjadi kebahagiaannya.

Satu roh berarti satu gairah, satu hasrat, satu cita-cita, dan satu tujuan hidup. Ini berarti syarat untuk dapat terikat dengan Tuhan adalah mengenal Tuhan dan seluruh kebenaran-Nya. Melalui pengenalan itu kita dapat mengerti kehendak dan rencana-Nya. Seseorang tidak akan memiliki gairah yang sama dengan Tuhan tanpa mengenal kehendak dan rencana-Nya. Karena itu, kita harus berupaya memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus. Sesungguhnya, berusaha memiliki pikiran dan perasaan Kristus adalah usaha untuk mengikatkan diri kepada Tuhan.

Orang yang terikat dengan Tuhan akan selalu merasa kesepian tanpa menghayati kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Ia selalu merindukan kebersamaan dengan Tuhan di mana pun ia berada. Itu berarti tidak ada kegiatan yang dapat ia nikmati tanpa Tuhan turut menikmatinya. Oleh sebab itu, dalam melakukan sesuatu harus dipertanyakan terlebih dahulu apakah Tuhan berkenan atau tidak. Orang yang terikat dengan Tuhan selalu ingin dinikmati oleh Tuhan dan menikmati Tuhan. Ia akan berusaha melakukan segala sesuatu bagi kepentingan Tuhan dan tidak akan menyakiti hati-Nya. Jika ia berbuat kesalahan, ia akan sangat berduka karena hatinya terluka; baginya melukai hati Tuhan sama seperti melukai dirinya sendiri. Pada titik inilah seseorang baru dapat dikatakan sebagai kekasih Tuhan. Orang-orang seperti ini layak disebut sebagai mempelai Tuhan. Jadikan keterikatan dengan Tuhan sebagai komitmen kita pada tahun yang baru ini.