Bapak/Ibu/Saudaraku sekalian yang kekasih,
Memiliki hati yang bersih haruslah kita yang mengupayakannya. Hati yang bersih tidak diupayakan oleh Tuhan, tidak diupayakan oleh Roh Kudus, kitalah yang mengupayakan dan Roh Kudus yang menolong. Jadi kalau orang memang tidak berniat dan tidak berminat memiliki hati yang bersih, dia tidak akan pernah memiliki hati yang bersih. Hati yang bersih, pure, bersih, dan ini merupakan usaha yang harus kita lakukan terus-menerus. Hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan dendam, tidak memuat kebencian, dan merasa puas dengan apa yang telah menjadi bagiannya. Tidak memiliki pikiran kotor, pikiran najis, pikiran zina, pikiran cabul, yang tidak mengupayakan kesulitan, penderitaan, perasaan malu orang lain. Hati yang motivasinya adalah kemuliaan Tuhan.
Hati seperti ini tidak mungkin membuahkan perbuatan yang melukai orang. Tidak mungkin mengucapkan kata, kalimat yang melukai orang. Tidak mungkin mengucapkan kata, kalimat yang menyerang orang, mempermalukan orang, menelanjangi orang agar orang dipermalukan sebagaimana yang dilakukan oleh anak-anak Iblis, senang mem-bully orang, senang mencabik-cabik nama baik orang, puas kalau orang malu. Yang dari pernyataannya dia ingin diakui sebagai pintar, cerdas, hebat. Motivasi-motivasi seperti ini adalah motivasi dari hati-hati yang kotor.
Pelayanan dilakukan dengan motif untuk kesukaan hati Tuhan yang berasal dari hati yang bersih, yang tujuannya demi keselamatan jiwa-jiwa sehingga ia tidak memusingkan upah, bagian, ucapan terima kasih orang pun tidak diharapkan. Yang penting, bagaimana dia dapat menyelesaikan pekerjaan yang Allah percayakan dan menyenangkan hati Tuhan, menyelamatkan jiwa-jiwa. Ini hati yang bersih. Hati yang bersih harus kita upayakan, karenanya setiap kali ada niat-niat yang tidak Tuhan kehendaki, kita harus buang segera, jangan sampai beranak-pinak menjadi besar dan kuat, akhirnya bisa menguasai hidup.
Untuk memiliki hati yang bersih, maka kita harus rajin membersihkan. Misalnya, Saudara membuang perasaan benci, belum tentu berhenti memiliki kebencian. Satu kasus Saudara bisa memenangkan, membuang kebencian, tetapi bisa muncul lagi. Nah, di sini dibutuhkan, dituntut kesungguhan kita untuk mencabut semua akar-akar dosa di dalam diri kita. Dan tahukah Saudara, siapa yang bisa membantu kita dapat melakukannya? Hanya Tuhan, melalui Roh Kudus. Tapi seperti yang saya kemukakan tadi, kita harus punya niat, kita sendiri harus punya tekat, bahwa kita mau memiliki hati yang bersih, tekat kita harus kuat, baru kita terus merajut kesucian, merajut hati yang bersih.
Roh Kudus akan menerangi pikiran kita sehingga kita bisa melihat hal-hal yang menajiskan kita, Roh Kudus akan memberi kita perasaan kudus-Nya sehingga kalau kita memiliki hati yang tidak bersih, kita merasa tidak sejahtera, ada sesuatu yang salah. Orang yang hatinya bersih adalah orang yang diurapi Roh Kudus karena Roh Kudus tidak bisa tinggal di hati orang-orang yang tidak bersih. Kalau kita mau menjadi hamba Tuhan yang diurapi Roh Kudus, disertai dengan kuasa, khotbah-khotbah Saudara benar-benar akan mengubah orang lain, maka miliki hati yang bersih! Upayakan, jangan kita diam. Kita harus mengupayakannya. Jangan merasa puas, puas diri, merasa orang baik, jangan!
Kita harus selalu mencurigai kalau-kalau masih ada, hal-hal yang menajiskan hati kita. Kita harus selalu memeriksa diri dan mohon Roh Kudus menerangi hati kita. Waktu kita berkata, “It’s okay, saya ampuni dia” sejatinya belum tentu kita mengampuninya dengan benar; mulut kita mengampuni, hati kita mungkin tidak. Tidak bermaksud sombong, tapi sombong, karena membuang kesombongan itu tidak mudah. Ini yang terjadi dalam hidup kita. Hari ini mungkin kita berhasil tidak sombong karena satu dan lain hal, tapi di kesempatan lain, kesempatan yang berbeda, kita masih bisa sombong. Kalau kita merasa puas dengan keberhasilan dan kita rendah hati kemarin, wah bahaya hari ini kita tidak rendah hati lagi. Atau godaan yang kita alami kemarin lebih kecil sehingga kita bisa mengatasinya, sekarang lebih besar. Kesombongan itu dibenci Tuhan. Orang yang memiliki kesombongan, orang yang Allah tolak, Allah membenci. Dalam teks aslinya antitasetai, αντίθετος. Orang yang sombong itu dibenci Tuhan, orang yang congkak itu ditolak Tuhan.
Saudaraku sekalian,
Dengan pesan nasihat Tuhan ini kita mau serius sungguh-sungguh menggarap hati kita, dari menit ke menit, dari jam ke jam, kita membiasakan diri membersihkan hati dari hal-hal yang kotor. Contoh lain, misalnya kita, disakiti orang, dikhianati, disakiti, dilukai, ya kita mengampuni, It’s okay, ya kita bisa lupa, benar. Tapi di lain waktu, ketika bertemu orang itu atau diingatkan atau teringat orang tersebut, bisa bara kebencian itu menyala lagi. Rasanya kemarin kita padam, tapi sekarang menyala lagi. Ada satu slogan pemadam kebakaran, “pantang pulang sebelum padam.” Jadi sebelum padam jangan kita merasa puas kita sudah menyelesaikan hati kita. Banyak dosa kita. Hari ini bisa membuang pikiran cabul, lain waktu bisa muncul lagi.
Kalau kita tidak tekun, kita tidak pernah sungguh-sungguh memiliki hati yang bersih. Ketekunan harus diusahakan terus-menerus sampai mencapai suatu level di mana tidak ada noda di dalam hati kita. Bukan hanya tidak ada noda, tidak bisa ada noda. Hati kita bersih. Jika ada sesuatu yang kotor mau masuk, dengan sendirinya menolak. Inilah keadaan kesucian yang benar. Inilah firman Tuhan untuk kita sekalian. Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, demikian firman Tuhan.
Salam dan doa,
Pdt. Dr. Erastus Sabdono
Hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan dendam, tidak memuat kebencian, dan merasa puas dengan apa yang telah menjadi bagiannya.