Skip to content

Beban Bapa

Saudaraku,

Malam itu ketika gembala-gembala dari padang Efrata datang menjumpai Yusuf, Maria dan bayi Yesus serta menceritakan perjumpaan mereka dengan malaikat-malaikat, Maria menyimpan semua itu dalam hati dan merenungkannya (Luk. 2:19).  Alkitab tidak pernah membongkar apa yang direnungkan Maria. Perenungan Maria tentu bukan perenungan manusia biasa. Ia adalah wanita unggul yang teruji rela mempertaruhkan segenap hidupnya untuk kelahiran Messas. Ia memiliki kualitas diri yang hebat. Tentu isi perenungannya pun pasti hebat.

Bila dikaitkan dengan cerita para gembala tentang bala tentara surga yang menjumpai mereka, maka bisa jadi timbul perenungan: “Sedemikian akbarnyakah hal kelahiran Anak Sulungku, sampai penduduk surgawi, sejumlah bala tentara surga turut berperan serta?” Tentu ini bukan sesuatu yang biasa. Ternyata bala tentara surga mengantar Raja di atas segala raja guna menjalankan misi Bapa. Mereka mengantar Majikan Agung mereka menjadi kurban akibat pemberontakan manusia. Penugasan ini adalah penugasan yang menentukan nasib alam semesta.

Lebih dari segala kesemarakaan Natal yang kita rayakan, kita harus memahami beban Tuhan terhadap dunia yang berada di ambang kebinasaan. Kita juga hendaknya mau berperan serta dalam menyelesaikan misi Bapa yang diemban oleh Tuhan Yesus Kristus. Sekarang kita belajar menatap Bayi Yesus bukan sekedar sebagai bayi lemah tak berdaya. Bukan pula sekadar kado istimewa Allah Bapa kepada manusia demi kasih-Nya supaya manusia memperoleh berkat keselamatan.  Kita harus memandang bayi Yesus sebagai sosok pahlawan yang menjadi teladan kita.

Tuhan Yesus adalah Pribadi lemah lembut yang berkenan mengajarkan kepada kita apa yang dilakukan-Nya. Ia bukan saja memberi berkat keselamatan, berkat jasmani dari makan minum sampai kesehatan, namun Ia juga mengajarkan cara hidup-Nya. Inilah kehebatan Tuhan dan Juru Selamat kita. Tuhan mau mengubah kita, dari manusia yang tidak bermutu, menjadi seorang yang bermutu di dalam pemandangan mata Tuhan. Ia berkenan terus menyertai kita dengan sabarnya agar kita mencapai tingkat-tingkat kedewasaan yang menggembirakan hati Bapa.

Kasih Tuhan belum lengkap kita terima kalau kita belum terbentuk sekepribadian dengan Tuhan. Kalau kita belum menjadi anak-anak Bapa yang mengerti beban Bapa, maka kasih karunia yang Bapa sediakan belum lengkap bagi kita.  Seperti dengan sabarnya Allah Bapa menuntun umat Israel dari Mesir ke Kanaan, walau mereka keras kepala dan sering memberontak, demikian pula dengan kesabaran Bapa menuntun kita dari cara hidup anak-anak kegelapan ke dalam kehidupan anak-anak Allah yang menjadi terang. Ia tetap setia sampai masa tua kita. 

Teriring salam dan doa,

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

 

Kalau kita belum menjadi anak-anak Bapa yang mengerti beban Bapa, maka kasih karunia yang Bapa sediakan belum lengkap bagi kita.