Skip to content

Perasaan yang Dikuduskan

Saudaraku,

Setiap hari seseorang harus memeriksa diri apakah sudah mencapai level yang dikehendaki oleh Allah atau belum, sebab kalau Tuhan memberikan satu hari yang baru berarti Tuhan memiliki rancangan agar kita terus mengalami peningkatan pertumbuhan kedewasaan yang progresif. Perumpamaan mengenai pokok anggur dalam Yohanes 15:1-7 mengisyaratkan dengan jelas bahwa Tuhan menuntut agar carang dari pokok anggur harus berbuah. Jika tidak, harus dikerat.  Hal ini yang seharusnya menjadi hal paling penting untuk diperkarakan setiap hari, bukan hal lain. Namun sayang sekali banyak orang menggantikan hal yang demikian penting ini dengan banyak perkara yang tidak membawa akibat positif di kekekalan.

Mereka tidak membiasakan menyediakan waktu mempertanggungjawabkan setiap lembar harinya di hadapan Tuhan sebab mereka merasa tidak perlu melakukan hal itu. Mereka merasa bahwa waktu yang tersedia dengan segala berkat fasilitas adalah miliknya sendiri. Inilah orang-orang yang tergolong pemberontak. Mereka adalah orang-orang yang memang tidak bersedia diungsikan ke dunia akan datang yang lebih baik. Biasanya orang-orang seperti ini tidak memiliki target rohani. Target mereka adalah target-target duniawi. Orang-orang seperti ini akan pulang ke rumah abadi dalam kemiskinan seperti orang kaya dalam Lukas 12:14-21. Pastilah orang seperti ini tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Surga.

Orang kaya dalam Lukas 12:14-21 setiap hari tenggelam oleh ambisinya memiliki kekayaan lebih besar. Ia juga hanya mencari kesenangan bagi dirinya sendiri, hal mana dilakukan pula oleh orang kaya dalam Lukas 16:19, ia setiap hari selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Orang-orang ini tidak waspada bahwa setiap saat nyawanya bisa tercabut. Semua kekayaan yang dimiliki harus dilepaskannya. Mereka pulang ke kekekalan dalam kemiskinan yang tidak dapat tertolong lagi. Penyesalannya digambarkan Alkitab sebagai ratap tangis dan kertak gigi.

Ketika seseorang menghadap Tuhan guna mempertanggungjawabkan hidupnya setiap hari, maka banyak perbaikan yang Tuhan akan lakukan. Selalu saja ada kesalahan atau kekurangan yang harus dibenahi. Selama kita masih hidup di dunia, Tuhan berkenan menggarap kita selama kita menyediakan diri untuk digarap. Oleh sebab itu selama masih ada kesempatan untuk berubah kita harus terus berubah menuju kesempurnaan.

Saudaraku,

Dalam Efesus 1:4 tertulis bahwa orang yang dipilih juga ditentukan untuk menjadi anak-anak-Nya. Hal ini menunjuk bahwa orang-orang yang dipilih adalah orang-orang yang tidak hanya dikehendaki untuk menjadi orang-orang baik, tetapi harus menjadi seorang yang berkualitas anak-anak Allah. Dalam hal ini menjadi anak-anak Allah bukan sekadar status yang diakui oleh manusia atau diakui sendiri, melainkan keberadaan sebagai anak-anak Allah yang harus teruji melalui segala pengalaman hidup di perjalanan waktu hidup. Oleh sebab itu setiap orang percaya harus mengerti tanggung jawabnya untuk hidup kudus dan tidak bercacat sebagai anak-anak Allah.

Jadi, kata “ditentukan” dalam Efesus 1:4 mengandung dekrit bahwa orang percaya bukan hanya menjadi orang beragama yang santun, namun menjadi sempurna seperti Bapa. Jika jemaat Efesus tidak mau tunduk kepada kedaulatan Allah, yaitu hidup tidak bercacat dan tidak bercela, maka Tuhan mengancam dengan ancaman yang keras. Kepada jemaat di Efesus tersebut Tuhan berkata tegas, “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat” (Why. 2:5).

Surat Efesus ditulis oleh Paulus pada masa Paulus masih hidup, sedangkan kitab Wahyu ditulis pada waktu Yohanes dibuang di pulau Patmos, pada waktu mana Yohanes masih hidup. Jadi sangat keliru kalau jemaat Efesus atau ada orang-orang tertentu sudah dipilih dan ditentukan oleh Tuhan untuk selamat, dan mereka tidak mungkin bisa menghindar dari pemilihan dan penentuan Tuhan tersebut.  Kenyataan yang ditemukan dalam kitab Wahyu adalah ternyata jemaat Efesus diperingatkan bahwa mereka bisa meninggalkan kesetian yang sejati kepada Kristus. Allah menentukan agar jemaat Efesus (seperti semua orang percaya lainnya) untuk menjadi anak-anak Allah dengan keadaan hidup tidak bercacat dan tidak bercela, tetapi jemaat atau manusianya bisa menolak untuk itu. Sebagai konsekuensinya Tuhan mengancam akan “mengambil kaki dian.”

Teriring salam dan doa,

Pdt. Dr. Erastus Sabdono

Kalau Tuhan memberikan satu hari yang baru berarti Tuhan memiliki rancangan agar kita terus mengalami peningkatan pertumbuhan kedewasaan yang progresif