Ujian yang paling berat adalah ketika Tuhan bersikap seakan-akan tidak peduli terhadap kita. Ketika kita berada dalam bahaya, ancaman, kesakitan, penderitaan, kesulitan ekonomi, difitnah, diperlakukan tidak adil, dan sebagainya — Tuhan tampak tidak hadir. Ia seperti meninggalkan kita dan tidak menyatakan kuasa-Nya. Padahal, justru di saat seperti itulah Tuhan hendak menyatakan kemuliaan-Nya.
Inilah yang dialami oleh keluarga Lazarus. Mereka telah mengirim kabar bahwa orang yang dikasihi Tuhan — Lazarus — sedang sakit (Yoh. 11:3). Mereka adalah orang-orang yang sangat dekat dengan Tuhan (Luk. 10:38-42). Namun ketika menerima berita dari sahabat-sahabat-Nya itu, Tuhan Yesus tidak segera merespons. Ia sengaja menunda keberangkatan-Nya ke rumah mereka (Yoh. 11:4-6), sampai akhirnya Lazarus mati.
Tak heran jika kemudian Marta menyalahkan Tuhan Yesus (Yoh. 11:21, 32). Marta datang menyongsong Tuhan, tetapi Maria justru tinggal di rumah. Padahal selama ini Maria dikenal sebagai sosok yang paling antusias duduk diam di kaki Tuhan. Sangat mungkin Maria begitu kecewa dan juga menyalahkan Tuhan (Yoh. 11:32). Seakan-akan Tuhan tidak berperasaan. Ia membiarkan Marta dan Maria, yang selama ini begitu mengasihi-Nya, menerima “balasan” yang mengecewakan. Saat mereka butuh penghiburan, Tuhan Yesus datang terlambat. Malah justru orang lainlah yang datang lebih dahulu untuk menghibur Marta dan Maria (Yoh. 11:19).
Sikap Tuhan ini berlawanan dengan budaya kekristenan populer yang mengagungkan bukti kasih Tuhan lewat berkat, pertolongan, atau mukjizat. Umumnya orang mengukur nilai dirinya — bahkan nilai Tuhan — berdasarkan kepeduliaan Tuhan padanya lewat seberapa besar mukjizat dan kuasa yang dialami. Namun pengalaman Marta dan Maria menunjukkan hal yang berbeda. Meski pada akhirnya mereka menyaksikan kemuliaan Allah, sebelumnya mereka harus melewati ketegangan batin, kekecewaan, bahkan mungkin rasa malu. Demikian pula dalam masa aniaya, orang Kristen tidak melihat pembelaan Tuhan secara nyata, tetapi mereka tetap percaya. Di tengah situasi itu mereka justru belajar untuk percaya (Yoh. 11:15).
Setiap orang percaya akan menghadapi situasi sulit — saat berada di lembah kekelaman. Ketika kita tidak melihat sedikit pun tanda pertolongan Tuhan, kita tidak boleh kecewa atau bersungut-sungut. Inilah ranjau yang sangat berbahaya. Banyak orang Israel gagal masuk tanah Kanaan karena bersungut-sungut (1Kor. 10:10-11). Padahal, semua itu dimaksudkan sebagai pelajaran berharga untuk mengenal dan memercayai Elohim Yahweh.
Saat dicobai oleh Iblis agar meragukan kasih, pemeliharaan, dan penyertaan Bapa, Tuhan Yesus menegaskan bahwa kita tidak boleh mencobai Allah. Maka ketika kita tidak merasakan hadirat Tuhan, tidak mengalami mukjizat-Nya, atau bahkan tidak menerima penyataan melalui mimpi, penglihatan, atau sarana lain, kita jangan merasa bukan orang yang istimewa di mata Tuhan. Sayangnya, banyak orang dalam kondisi seperti itu justru mencari pendeta sebagai perantara untuk menemukan Tuhan. Mereka menjadi mangsa empuk para pendeta palsu yang mengaku sebagai mediator antara Allah dan manusia. Padahal kita hanya memiliki satu perantara, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Justru ketika kita merasa tidak dipedulikan oleh Tuhan, saat itulah kita belajar untuk percaya walau tidak melihat. Kita harus proaktif mencari dan menemukan Tuhan. Dalam keadaan seperti itu, urat-urat iman kita yang murni mulai terbentuk. Sebaliknya, hidup yang serba nyaman tidak membangun iman yang sejati (1Ptr. 1:6-8). Tuhan Yesus sendiri pernah merasa ditinggalkan oleh Bapa, tetapi Ia tetap percaya. Demikian pula iman kita harus seperti iman Kristus — iman yang tidak bersyarat (unconditional faith). Aku percaya walau, bukan aku percaya kalau. Aku percaya walau keadaanku sangat berat dan seakan-akan Tuhan tidak peduli padaku.