Skip to content

Ketekunan dan Kesetiaan

 

Kalau kita membaca Alkitab, jelas dikatakan bahwa dunia di mana kita hidup ini semakin jahat. Lebih banyak orang jahat daripada orang baik. Lebih banyak orang yang sebenarnya ateis (tidak percaya Tuhan) daripada orang yang percaya. Walaupun mulutnya mengatakan percaya dan beragama, tetapi pada dasarnya mereka mengingkari hakikat ibadah. Sehingga secara praktis sebenarnya mereka tidak percaya Tuhan (ateis praktis). Dalam situasi dunia seperti ini, seperti yang dikatakan dalam 2 Timotius 3:1-5, Tuhan seakan-akan mati, Tuhan seakan-akan tidak ada. Ditambah lagi dengan kenyataan adanya rohaniwan-rohaniwan yang berada dalam kelompok atau komunitas Kristen melakukan pelanggaran-pelanggaran moral, pelayanan dijadikan ajang mencari uang. 

Hal-hal ini yang membuat manusia menjadi skeptis, menjadi tidak bergairah, curiga, tidak percaya kalau Allah itu benar-benar nyata. Ditambah lagi dengan berbagai persoalan hidup yang mendera, yang menekan hidup. Dan inilah yang membuat tidak mudah memilih percaya dengan benar kepada Allah dan mengikut Dia dengan benar. Kemudian ketika kita mau mengikut Tuhan, Tuhan seakan-akan tidak peduli, seakan-akan tidak respons, bahkan seakan-akan tidak ada. Persoalan-persoalan yang kita hadapi masih tetap tidak ada jalan keluar dan kebutuhan-kebutuhan kita masih saja tidak terpenuhi.

Belum lagi kalau kita ditindas orang, dibully, ditekan, lalu Tuhan seakan-akan tidak membela sehingga membuat kita lemah. Lalu mulai ada kesimpulan, mengikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh maupun asal-asalan, itu sama saja. Kita sudah berdoa, ikut Doa Pagi walau masih mengantuk, ikut Doa Malam walau badan terasa lelah, namun tidak ada perubahan dalam hidup, kadang-kadang Tuhan juga seperti tidak ada. Sesungguhnya pada saat  seperti inilah dibutuhkan yang namanya ketekunan! Dan di dalam ketekunan harus ada kesetiaan!

Jadi, ketika Alkitab berkata, “Kejahatan manusia bertambah-tambah,” itu menyingkapkan sebuah realitas yang gelap — sebuah zaman fasik, di mana manusia kehilangan rasa takut akan Tuhan, hukum-hukum-Nya diabaikan, dan atmosfer kehidupan diracuni oleh semangat ateisme yang semakin kuat dan merajalela. Tapi kita harus bertahan, seperti yang dikatakan dalam 2 Timotius 3:1, “pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar, …” Lalu ayat yang ke 5, “secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, atau beragama, tetapi pada hakikatnya mereka memungkiri kekuatannya.” Jadi kekuatan ibadah itu sebenarnya adalah persekutuan dengan Allah yang menghasilkan kesucian hidup dan hati yang tidak melekat, tidak terikat dengan dunia. Dan untuk itu dibutuhkan ketekunan!

Tidak dapat dipungkiri, pasti ada orang-orang yang kemudian menjadi rontok, tidak tekun lagi. Ini yang kita khawatirkan, dimana irama, gelora, api, semangat kita menjadi pudar, dan mungkin tidak akan pernah menyala lagi. Mestinya begitu kita bersemangat mencari Tuhan, kita tekun, terus tekun, dan sampai akhirnya tidak pernah menjadi pudar. Ibarat mesin itu jalan terus sampai tidak pernah bisa berhenti. Kalau baru melangkah, baru mulai bisa saja menjadi lemah; memang step by step. Banyak hal yang Tuhan akan berikan kepada kita ketika kita bertekun di dalam Tuhan. Sehingga ibarat mesin itu jalannya makin lancar, makin lancar, dan kita tidak bisa balik lagi ke dunia. 

Kita harus memilih untuk percaya kepada Tuhan dan mengikut jalan Tuhan. Walaupun ini tidak populer, tidak disukai orang, tetapi kita harus memilih ini. Kita harus benar-benar bisa mengalami Tuhan secara pribadi. Mungkin tidak perlu diceritakan kepada orang lain, tidak perlu disaksikan kepada orang lain, tetapi kita harus mengalami Tuhan yang hidup. Dan pengalaman dengan Allah yang hidup itu, bagaimanapun nanti akan terpancar lewat hidup kita.