Orang-orang yang memikul salib sudah tidak lagi memiliki persoalan atau problema, tetapi masalah. Dalam hidup sehari-hari dua hal ini sering disamakan, padahal bisa dibedakan. Persoalan sama dengan problem, dalam bahasa Inggris kata problem juga problem tetapi masalah bisa diterjemahkan concern. Kita harus sadar bahwa Tuhan mendewasakan kita atau membuat kita hidup tidak bercela melalui proses kehidupan setiap hari, yaitu melalui berbagai pengalaman hidup. Kalau kita tahu bahwa kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan dan menyakitkan merupakan cara Tuhan untuk mendewasakan kita, maka kita tidak menganggapnya problem, tetapi sebagai masalah (concern).
Selanjutnya, kita akan berusaha untuk mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Tuhan akan mempertemukan kita dengan banyak Lazarus atau seperti orang yang dikisahkan Tuhan, yaitu orang yang turun dari Yerusalem dirampok dan dipukuli. Para imam dan orang Lewi yang lewat TKP (tempat kejadian perkara) menganggap itu adalah problem (beban), tetapi orang yang memiliki hati melayani memandang itu sebagai masalah/concern (kewajiban). Dalam fragmen yang dikemukakan Tuhan, orang Samaria yang murah hati mengorbankan waktu, tenaga dan uangnya untuk mengurusi orang Yahudi yang menderita tersebut. Orang Samaria itu menganggap hal itu sebagai “concern”nya (Luk. 10:30-35).
Orang yang mempersoalkan kepentingan Tuhan terhadap dirinya akan berusaha mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya. Ia sudah tidak lagi mempersoalkan kepentingan dirinya. Ia tidak lagi merasakan sakit dirinya, tetapi “sakit”-Nya Tuhan. Orang-orang seperti ini barulah dapat melayani Tuhan dengan segenap hati. Tanpa sadar banyak orang menganggap pekerjaan Tuhan — dimana ia harus berkorban bagi sesamanya — sebagai problem sehingga mereka menghindarinya atau ikut mengambil bagian secara ala kadar saja.
Kalau jujur, mereka menganggap bahwa pekerjaan Tuhan itu tidak menguntungkan untuk dirinya sendiri. Tetapi kalau membangun rumah, membeli kendaraan, jalan-jalan ke luar negeri, mengadakan pesta ulang tahun, menyelenggarakan pesta perkawinan dan sebagainya, ia berusaha untuk memberi terbaik yang dimilikinya. Ia rela berjuang untuk hal-hal tersebut karena itu adalah kepentingannya atau “concern”-nya. Baginya semua itu adalah masalah (kewajiban), bukan problem (pengganggu).
Pada dasarnya banyak orang memandang pekerjaan Tuhan atau pengabdian bagi Tuhan sebagai sebuah problem. Memang hal ini tidak dikatakan di mulut, tetapi tindakannya menunjukkan bahwa seseorang memandang pekerjaan Tuhan sebagai problem yang bisa menyusahkan dirinya. Seperti orang kaya di Lukas 16:19-31, ia memandang Lazarus yang datang ke rumahnya adalah problem. Itulah sebabnya ia tidak melakukan apa pun bagi Lazarus yang kelaparan, walaupun hanya memberikan remah-remahnya. Orang-orang seperti ini akan menghindari diri dari berkorban bagi pelayanan pekerjaan Tuhan yang benar. Tentu saja ia tidak ingin banyak Lazarus datang ke rumahnya. Sebab, hal ini akan menjadi masalah besar baginya. Padahal kedatangan Lazarus merupakan jalan keluar orang kaya untuk bisa terhindarkan dari api kekal. Seandainya ia berbuat sesuatu yang baik bagi Lazarus, maka ia akan mendapat tempat di pangkuan Abraham juga.
Kalau pun orang seperti ini mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, mereka memberi hidupnya dengan sangat terbatas. Ironis, tidak sedikit orang yang malah menjadikan pekerjaan Tuhan sebagai sarana mencari keuntungan. Berbeda dengan orang yang menganggap pekerjaan Tuhan adalah masalahnya (concern-nya), pasti akan rela berbuat apa pun tanpa batas, sementara untuk kepentingan diri sendiri tidak dianggap sebagai masalah dan problem sama sekali. Inilah orang-orang yang mempersoalkan kepentingan Tuhan terhadap dirinya, bukan kepentingan dirinya terhadap Tuhan.
Terkait dengan hal ini Paulus mengatakan bahwa baginya hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp. 1:21). Di bagian lain ia berkata, “Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1Kor. 9:18). Tidak heran kalau baginya penjara dan sengsara bukanlah problem, melainkan masalah atau kepentingan demi pekerjaan Tuhan (Kis. 20:22-24).
Ia tidak memedulikan semua penderitaan dan tidak menganggapnya problem, sebab yang hendak dicapai adalah menyelesaikan pelayanan. Juga tidak heran kalau Paulus memandang bahwa penderitaan adalah karunia (Flp. 1:29). Pengorbanan yang dipertaruhkan bagi kepentingan Tuhan adalah kesukaan, sehingga walaupun harus memberikan seluruh hidup dan miliknya, ia tidak merasa memberi. Orang-orang seperti ini memandang pekerjaan Tuhan adalah kehormatan, sehingga ia tidak merasa hidup bahagia tanpa melayani Tuhan.