Skip to content

Merdeka yang Sesungguhnya

 

Dalam kitab Wahyu disebutkan bahwa orang yang diperkenankan ikut dalam pesta perjamuan Anak Domba Allah adalah mereka yang mengenakan jubah putih, artinya mereka yang tidak mengotori dirinya dengan dosa. Semua kita harus bersungguh-sungguh. Bahkan, kita harus berpikir bahwa lebih baik tidak pernah menjadi manusia, daripada menjadi manusia yang akhirnya ditolak oleh Allah. Ini serius—jangan dianggap ringan. Sebab, sistem pemikiran dunia ini telah merusak cara pikir kita. Setiap kita harus diperbaiki; harus didesain ulang.

Seperti tertulis dalam Roma 12:2, sistem dunia yang merusak pikiran harus digantikan dengan pikiran Tuhan. Harus ada transformasi: perubahan cara berpikir agar kita tidak serupa dengan dunia ini. Dan hal ini bukan pilihan—ini keharusan. Di sini dituntut usaha yang sungguh-sungguh dan kerja serius agar dapat mencapai standar umat pilihan yang Allah kehendaki.

Pernahkah kita merenungkan: kapan istilah “Kristen” pertama kali digunakan? Itu terjadi di Antiokhia (Kisah Para Rasul 11). Yang memberikan label “Kristen” kepada para murid Yesus bukanlah mereka sendiri, tetapi orang-orang di Antiokhia. Mereka melihat bahwa kehidupan dan perilaku para pengikut Kristus sangat menyerupai Yesus. Mereka memperjuangkan kepentingan Yesus Kristus dan rela kehilangan apa pun. Pada masa itu, percaya kepada Tuhan Yesus berarti mempertaruhkan seluruh hidup—harta, keluarga, bahkan nyawa. Kondisi seperti itu membuat mereka berhenti berbuat dosa, seperti yang dikatakan Petrus: “Orang-orang yang mengalami penderitaan badani karena aniaya, berhenti berbuat dosa.”

Dengan demikian, jemaat yang masih baru atau masih “bayi rohani”, ditempatkan dalam kondisi yang keras agar mereka dapat dibentuk menjadi orang-orang saleh. Sebab, standar surga tidak berubah sejak semula hingga dunia berakhir: harus menjadi orang saleh. Maka, Tuhan mengizinkan situasi aniaya itu terjadi, supaya mereka terpisah dari dunia dan terarah pada Kerajaan Surga.

Saat itu, tidak banyak orang yang berani menjadi Kristen. Namun, jika mereka berani, mereka benar-benar memenuhi maksud panggilan: menjadi kudus, tidak terikat pada dunia, merindukan Kerajaan Surga, dan memindahkan hatinya ke sana. Inilah kekristenan yang murni.

Sekarang, ketika seseorang bertanya kepada kita, “Apa agamamu?” kita menjawab, “Kristen.” Sejujurnya, kitalah yang memberi label itu kepada diri sendiri. Tapi apakah sebutan “Kristen” yang kita kenakan memiliki isi yang sesuai dengan maknanya? Ironisnya, saat ini istilah “Kristen” digunakan tanpa pertaruhan. Padahal, dulu seseorang baru disebut Kristen ketika hidupnya mencerminkan kehidupan Yesus. Maka, mari kita periksa: apakah status atau identitas Kristen yang kita kenakan sesuai dengan standar yang Tuhan kehendaki?

Jangan seperti ketupat yang tidak ada isinya, atau seperti dummy phone—tampilannya ada, tetapi tidak berfungsi. Luarnya tampak persis, tetapi isinya kosong. Banyak orang akhirnya menjadi “Kristen palsu”, Kristen gadungan, yang sebenarnya tidak layak menyandang nama itu.

Namun, hal ini jangan membuat kita takut. Kesucian bukanlah sesuatu yang membuat kita menjadi aneh atau kehilangan kebahagiaan. Keinginan manusia yang dipimpin oleh Roh Kudus justru akan membahagiakan hidup kita. Makan bersama keluarga, rekreasi, menikmati makanan dan minuman—semua itu tidak dilarang oleh Tuhan. Asalkan semua dilakukan dengan hati yang terikat kepada-Nya.

Dalam Keluaran 21 dikatakan: apabila seorang budak telah tiba waktunya untuk dibebaskan, namun ia berkata, “Aku mencintai tuanku, aku tidak mau menjadi orang merdeka,” maka ia akan menjadi milik tuannya seumur hidup.

Beranikah kita berkata, “Tuhan, aku bersedia menjadi orang yang tidak merdeka. Aku mau Engkau yang membelengguku. Aku mau masuk dalam penjara Tuhan, terikat oleh belenggu Tuhan.”

Inilah yang disebut sebagai merdeka yang sesungguhnya—yaitu ketika kita benar-benar merdeka dari dunia ini.