Kalau kita mengekspresikan Dia, Bapa menemukan diri Anak-Nya dalam diri kita—itu baru memuaskan. Dalam posisi apa pun kita, jika itu hanya perasaan kita sendiri, ekspresi perasaan kita, pasti ada motif-motif tertentu yang belum murni. Kecuali perasaan Kristus—baru itu murni dan memuaskan hati Allah.
Suatu hari, di pengadilan Tuhan, kita akan tahu siapa orang yang telah memiliki perasaan Kristus, yang seluruh tindakannya didorong oleh, menerjemahkan, dan mengejawantahkan pikiran serta perasaan Kristus. Dan itu memuaskan hati Allah. Itu bukan hasil sekolah teologi, meskipun sekolah teologi punya kesempatan membentuk orang seperti ini. Itu bukan hasil dari sinode, meskipun sinode memiliki peluang untuk mendidik para pendetanya mengenal dan mengenakan kebenaran ini. Namun, hal tersebut harus didapat melalui pergaulan pribadi seseorang dengan Tuhan.
Maka, mari kita bergumul dengan Tuhan. Setiap pagi, doa pagi—itu sangat powerful. Itu akan mendidik kita. Gereja harus melahirkan hal ini. Jadi bukan hanya membuat orang tidak bertengkar dengan suami, istri, atau sabar dan tabah menghadapi kesulitan. Gereja yang benar adalah gereja yang fokus utamanya adalah hal ini. Maka kita harus berubah. Dan untuk berubah, tidak cukup hanya bertemu pendeta. Kita harus berjumpa dengan Tuhan secara pribadi.
Memang tidak dapat disangkal, ada orang-orang yang perlu bertemu pendeta untuk didoakan atau dikonseling. Namun kita harus mengerti bahwa Tuhan itu berbicara. Ada Roh Kudus diam di dalam diri kita, yang berbicara 24 jam tanpa henti, jika kita mau mendengarkan. Firman Tuhan katakan, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, binasa. Tetapi barangsiapa kehilangan nyawa karena Aku, ia akan memperolehnya.” Dan ketika seseorang berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup dalam aku,” dia akan hidup. Sebab yang masuk Kerajaan Surga, yang menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, adalah mereka yang serupa dengan Kristus. Jika tidak, tidak akan masuk. Jadi, jika kita kehilangan kesenangan, kehilangan harga diri, kehilangan martabat di mata manusia—tidak apa-apa, asalkan kita tidak kehilangan kekekalan bersama dengan Tuhan.
Maka dikatakan selanjutnya, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” Artinya: binasa, lenyap, terpisah dari Allah. Memperoleh seluruh dunia pun tidak ada artinya jika pada akhirnya kita binasa. Jadi, meskipun kita miskin secara materi, terhina, tercampakkan, bahkan keadaan hidup kita benar-benar terpukul—yang terpenting adalah kita tidak dicampakkan oleh Tuhan. Selama kita masih bersama Tuhan di kekekalan, maka yang lain tidak menjadi soal.
Lalu firman Tuhan berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya. Pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Perbuatan seperti apa yang Tuhan balas? Yaitu perbuatan dengan standar Kristus, seperti yang tertulis dalam Kolose 3:3–4:
“Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
Jadi, yang akan dimuliakan adalah mereka yang hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Siapa mereka? Mereka yang berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Luar biasa—kesempatan yang tidak ternilai. Tapi ini sangat sulit. Namun, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan.
Selagi ada kesempatan—jangan sombong. Sekalipun kita adalah orang bijaksana, hebat, berpengalaman, bergelar tinggi—jangan sombong. Matikan daging kita. Pisahkan manusia roh kita. Biarlah roh kita bertambah kuat.