Skip to content

Sentuhan Kemesraan

 

Ada waktu di mana kita bersama-sama berkumpul di hadapan Tuhan, memuji dan menyembah Tuhan, atau berurusan dengan Tuhan secara massal. Namun, ada pula waktu di mana kita harus memiliki perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi, seperti halnya kita memiliki teman hidup. Bagaimana khusus dan eksklusifnya hubungan dengan dia, demikian pula seharusnya eksklusivitas itu kita miliki dalam hubungan kita dengan Tuhan. Sebab sebagaimana kita datang sendiri, kita pun akan pulang sendiri, tanpa siapa pun. Seperti yang dikatakan dalam Ayub 1:21, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya.”

Itulah sebabnya kita datang ke gereja untuk mengenal satu-satunya Teman Abadi, Kekasih Abadi, Pasangan Abadi, yang tidak dapat digantikan oleh siapa pun atau apa pun. Kita harus menemukan kemesraan dengan Tuhan, dan hubungan ini tidak dapat dijalin dalam waktu singkat. Sebab untuk menemukan frekuensi dengan Allah—dengan Tuhan sebagai Sahabat, sebagai Kekasih—dibutuhkan waktu. Secara teori mudah saja mengatakan: “Tuhan Kekasihku,” atau mengutip Mazmur, “Seperti rusa merindukan sungai yang berair.” Mudah bagi mulut kita mengucapkan kalimat itu. Namun, untuk menemukan sentuhan sebagai sahabat, sebagai kekasih, diperlukan waktu dan perjalanan.

Sebagaimana ketika kita membangun hubungan dengan seseorang, kita tidak langsung terikat, melainkan melalui kebersamaan. Sampai akhirnya kita mencintai, merasa rindu jika tidak bertemu, dan terjalin kemesraan. Nah, demikian pula dengan Tuhan—harus ada kemesraan. Kita akan sangat menyesal jika sejak di bumi ini kita tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan sampai menemukan sentuhan kemesraan itu. Allah sanggup menciptakan hubungan asmara antara pria dan wanita, dan itu adalah hal yang sesungguhnya sulit dimengerti. Maka Tuhan berkata, “Cinta lebih kuat dari maut.” Orang bisa mengakhiri hidup demi cinta, atau karena cinta. Maka, jika dalam keadaan ideal, cinta itu memang luar biasa—lebih kuat daripada maut.

Mengapa kita dengan Tuhan tidak bisa sampai pada level seperti yang dikatakan pemazmur: “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Oleh sebab itu, mau tidak mau, kita harus mencari Tuhan dan memiliki perjumpaan pribadi dengan-Nya setiap hari. Jangan sampai kita abaikan, sebab jika tidak dilakukan, kita tidak akan pernah menemukan frekuensi tersebut. Bila kita tidak membangun perjumpaan itu hingga usia tua, maka kita akan merasa asing terhadap-Nya.

Setiap orang memiliki hubungan yang subjektif dengan Allah. Subjektif artinya berdasarkan pengalaman pribadi—apa yang dipandang dan dirasakan oleh individu tersebut—yang tidak bisa dimengerti atau dirasakan oleh orang lain. Masing-masing dari kita memiliki keanekaragaman kepribadian. Allah tidak berubah, tetapi setiap orang membangun relasi yang subjektif dengan-Nya.

Kita dapat mendengarkan khotbah, membaca Alkitab, dan mempelajari banyak kisah tentang tokoh-tokoh dalam Alkitab—seperti Abraham, Ishak, Yakub, Musa, Yusuf, Daniel, Sadrakh, Mesakh, Abednego, Daud, Elia, dan Elisa—yang memiliki hubungan yang unik dan istimewa dengan Allah. Kita juga dapat mendengar kesaksian orang-orang yang telah mengalami perjumpaan dan hubungan pribadi dengan Allah. Namun semua itu tidak dapat serta-merta menjadi milik pribadi kita. Kita hanya bisa belajar dari pengalaman mereka, sebab hubungan mereka dengan Allah bersifat khusus, memiliki warna tersendiri.

Jika hubungan itu diibaratkan sebagai kode, maka setiap orang diberi kode khusus yang tidak mungkin sama. Di jagat raya ini tidak ada dua kode yang sama dalam menggambarkan hubungan individu dengan Allah. Oleh karena itu, kita harus menemukan kode itu, kita harus menemukan warna itu—yang bukan hanya dapat kita nikmati, tetapi juga Allah nikmati. Sebelum kita lahir ke dunia ini, sebagaimana tertulis dalam Efesus 1, nama kita telah ada dalam pikiran Allah. Bahkan sebelum dunia dijadikan, Allah telah menempatkan kita dalam rancangan-Nya. Bahwa suatu hari, seorang manusia akan lahir dari keluarga tertentu—keluarga X—dengan gen dan karakteristik yang khusus. Betapa luar biasa!