Skip to content

Nurani Ilahi

 

Ayat ini menunjukkan bahwa jika fokus hidup kita masih tertuju pada hal-hal duniawi, maka kita tidak akan mampu mengenal kebenaran. Karena tidak dapat mengenal kebenaran—sebab telah mencampakkan dan menginjak-injaknya—maka nurani kita tidak akan terbentuk sebagaimana mestinya. Sejatinya, betapa agung menjadi umat pilihan Allah. Meskipun kita memiliki begitu banyak pengetahuan tentang Alkitab, kiranya kita tetap memiliki sikap hati yang merasa miskin secara rohani—merasa belum cukup—yakni dalam hal bagaimana roh kita disempurnakan agar memiliki nurani ilahi.

Paulus mengatakan dalam Kisah Para Rasul bahwa “Bukankah kita ini keturunan Allah?” Bukan dalam pengertian bahwa kita menjadi sama dengan Elohim YAHWEH, melainkan serupa dalam karakter dan sifat-sifat-Nya. Sebab Yesus yang mulia sendiri berkata: “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga adalah sempurna.”

Dan perkataan Yesus ini bukanlah sesuatu yang Dia sendiri tidak jalani. Justru karena Ia telah melewati ujian, berhasil mencapai kesempurnaan, maka Ia berhak menyampaikan hal itu. Yesus sendiri harus berjuang sampai mencapai kesempurnaan. Setelah itu, Ia menjadi αἰτίος (aitios)sumber atau pokok keselamatan. Kita dijadikan anak-anak Allah agar roh kita menjadi roh yang sempurna, dalam arti memiliki nurani yang cerdas, seperti nurani Allah sendiri.

Perlu diingat, roh kita tidak berasal dari tempat lain, tetapi berasal dari dalam diri Allah. Ketika Allah menciptakan Adam, Ia menaruh roh-Nya ke dalam manusiabukan Roh Allah itu sendiri, melainkan roh yang berasal dari dalam diri-Nya. Oleh karena itu, dalam Yakobus 4:5 tertulis: “Bukan tanpa alasan jika Kitab Suci berkata: ‘Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita diingini-Nya dengan cemburu.'” Kecemburuan ini menunjuk pada keberhakan Allah atas roh kita. Ia menghendaki roh itu kembali kepada-Nya, karena memang roh tersebut berasal dari dalam diri-Nya.

Kita disebut anak-anak Allah, dan itu bukan sekadar istilah. Paulus juga menegaskan, “Bukankah kita adalah keturunan Allah?” Kita diminta untuk menjadi sempurna seperti Allah, bukan berarti kita menyamai-Nya, tetapi kita dipanggil untuk memiliki kecerdasan rohyakni kemampuan untuk berpikir dan berperasaan selaras dengan pikiran dan perasaan Allah. Ciri-ciri orang yang memiliki kecerdasan roh, antara lain; tidak melukai sesama, tidak membanggakan apa yang dimilikinya, justru sebaliknya, suka berbagi atas apa yang dimilikinya dan akan menangis bersama orang yang menangis.

Sejujurnya, sebagian besar dari kita termasuk orang yang telah menyia-nyiakan banyak kesempatan dan melakukan kesalahan di masa lalu. Oleh sebab itu, kita harus mengejar ketertinggalan tersebut. Jangan sampai kita kembali kehilangan kesempatan. Bersyukurlah bagi anak-anak muda yang sejak usia dini telah mengenal kebenaran.

Dalam Lukas 11:34 dikatakan bahwa “mata adalah pelita tubuh; jika matamu gelap, maka gelaplah seluruh tubuhmu.” Ini menunjuk pada pengertian tentang kebenaran. Jika pengertian kita terhadap kebenaran gelap, maka seluruh hidup kita pun akan berada dalam kegelapan. Hidup kita hanya memiliki satu tujuan, yakni Tuhan. Maksudnya; pertama, menyenangkan hati Tuhan; kedua, menjadi serupa dengan Tuhan Yesus. Selain itu, semuanya bersifat relatif dan tidak wajib—entah menikah atau tidak, memiliki anak atau tidak, dan sebagainya. Namun untuk menjadi serupa dengan Yesus, yang memiliki kecerdasan rohani, itu mutlak.

Betapa agung manusia. Dalam Roma 8:17 dikatakan: “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, yaitu ahli waris Allah dan yang akan menerima janji-janji-Nya bersama-sama dengan Kristus.” Bersama Tuhan Yesus, kita menerima janji-janji Allah. Namun, janji itu tidak diberikan kepada sembarang orang, melainkan hanya kepada mereka yang memiliki kemampuan berpikir dan berperasaan seperti Allahyakni mereka yang dapat menjadi hakim dan memerintah dalam kelas kesempurnaan seperti Yesus. Hal ini bergantung pada apakah sepanjang hidup kita memberikan diri untuk diproses, sehingga pada akhirnya kita menjadi pribadi yang layak dimuliakan bersama Kristus atau tidak.

Oleh karena itu, jangan sampai berkat-berkat kekal yang Allah sediakan setiap hari terlewati hanya karena kita tidak benar-benar memberikan fokus kepada hal tersebut. Jangan berhenti berjuang sampai kita menutup mata.