Jika kita sungguh-sungguh ingin berurusan dengan Tuhan, maka Tuhan pun sungguh-sungguh ingin berurusan dengan kita. Sebaliknya, jika kita ingin berurusan dengan seorang pejabat, belum tentu pejabat tersebut bersedia berurusan dengan kita. Mereka kerap kali mempertimbangkan untung dan ruginya. Jika tidak menguntungkan, mereka tidak akan bersedia berurusan dengan kita. Namun, apabila dianggap menguntungkan, maka pejabat itu akan membuka diri untuk menjalin hubungan. Dengan demikian, sifatnya spekulatif—untung-untungan (gambling), bisa ya bisa tidak, belum pasti.
Tetapi jika kita berurusan dengan Tuhan, hal itu sudah pasti. Tuhan pasti bersedia berurusan dengan kita. Bukan berdasarkan spekulasi atau untung-untungan, melainkan sebuah kepastian. Mengapa? Yang pertama, karena kita memang diciptakan oleh-Nya. Kita tidak hadir dengan sendirinya, tetapi dikehendaki untuk ada. Orang tua atau keluarga memang dapat memberikan nama kepada kita, tetapi mereka tidak memiliki kuasa untuk menghadirkan kita jika Tuhan tidak menghendakinya. Jadi, keberadaan kita adalah hasil dari kehendak dan rancangan Allah.
Yang kedua, karena kita adalah anak-anak Allah. Manusia pada hakikatnya adalah anak-anak Allah, sebab ketika manusia diciptakan, Allah menaruh Roh-Nya di dalam diri kita. Maka roh yang ada dalam diri kita sejatinya berasal dari Allah, meskipun bukan Roh Allah itu sendiri.
Dalam Yakobus 4:5 tertulis, “Janganlah kamu menyangka bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: ‘Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!’” Oleh karena itu, dalam Ibrani 12:9–11 dikatakan: “Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Namun kemudian, ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.” Jadi, keberadaan kita berasal dari Bapa segala roh, yaitu Allah Bapa, Allah Elohim, YAHWEH. Karena kita diciptakan oleh-Nya, maka kita berstatus sebagai anak-anak Allah.
Yang ketiga, karena Allah mengetahui bahwa kita tidak dapat hidup tanpa-Nya. Selama kita hidup di dunia ini, tanpa kehadiran Tuhan, maka berkat-berkat jasmani—seperti makanan, minuman, rumah, dan sebagainya—dapat menjauhkan kita dari persekutuan dengan Allah, apabila kita tidak menikmati kehadiran-Nya.
Firman Tuhan menyatakan bahwa orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga. Sebab apabila seseorang memiliki kesempatan untuk menikmati kekayaan dunia, hatinya akan cenderung terikat pada dunia, bukan pada Tuhan. Namun, ini bukan berarti bahwa orang miskin otomatis masuk surga. Orang miskin yang serakah pun tetap sukar masuk surga. Secara psikologis, kekayaan memang membuat seseorang merasa tidak memerlukan Tuhan.
Melalui berbagai pengalaman pahit dan menyakitkan, marilah kita belajar untuk tidak menginginkan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Prinsip ini memang berat untuk dipegang, sebab jiwa kita telah telanjur terikat dengan berbagai kesenangan duniawi—materi, hiburan, dan lain sebagainya. Namun, jika kita memaksakan diri, kita pasti bisa. Sejatinya, orang yang berani hanya menginginkan Tuhan adalahlah pribadi yang benar-benar merdeka. Dan yang mengherankan, orang seperti ini tidak menjadi miskin. Jika Tuhan memberkatinya dengan materi dan hal-hal lainnya, ia tidak akan menjadi pelit. Ia pasti akan menolong keluarganya yang besar, bahkan juga orang-orang yang tidak memiliki hubungan darah dengannya. Ia tidak terikat pada harta dunia.