Tuhan sering kali tidak membuat jalan hidup kita mulus dan lancar, supaya kita terdorong untuk mencari Dia. Melalui persoalan-persoalan hidup, kita justru bisa mengagumi Tuhan. Keagungan dan kemuliaan Tuhan, keindahan serta keelokan-Nya, kualitas dan nilai dari Allah yang kita pahami, semakin hari makin bertambah dan terakumulasi. Akhirnya, dari akumulasi itu, kita sampai pada suatu keputusan radikal, seperti kesaksian Rasul Paulus dalam Filipi 3:7–8: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Kata sampah di sini dalam teks aslinya adalah skubalon, yang berarti kotoran hewan, yang biasa digunakan sebagai pupuk. Dibuang, tetapi tidak dibuang sia-sia.
Banyak orang mungkin tidak menyadari satu hal penting dalam perumpamaan tentang Kerajaan Surga. Dikatakan bahwa: “Hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara.” Pedagang ini bukan berdagang untuk mencari uang, tetapi mencari mutiara. Maka, ketika ia menemukan mutiara itu, ia menjual seluruh miliknya. Prinsip ekonomi umum ditanggalkannya—yakni menggunakan modal sekecil mungkin untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya. Sebaliknya, ia mengorbankan semuanya demi satu mutiara. Demikian pula peladang yang awalnya tidak bermaksud mencari harta, tetapi menemukan harta terpendam dalam bejana tanah liat yang tertutup. Tanpa dipecahkan, harta itu tidak terlihat. Ketika ia menyadarinya, ia menjual segalanya—rumah, ladang lainnya, ternak-ternaknya—demi ladang itu. Yang mahal bukan ladangnya, tetapi harta yang terpendam di dalamnya.
Begitu juga hidup kita. Kita berdoa, belajar firman, berbisnis, bergaul—dan semua itu mengakumulasi pengenalan akan Allah. Sampai akhirnya, bukan gereja tujuan kita, melainkan Tuhan itu sendiri. Maka, tidak mungkin orang yang makin mengenal Tuhan sebagai mulia dan agung, namun hidupnya makin buruk. Karena kemuliaan Tuhan yang dia pahami itu juga akan mengangkat dan mengelevasi dirinya. Kita mengaktualisasi diri bukan di dunia, bukan pada pangkat atau gelar, tetapi pada Tuhan, yang menjadi prototipe dan model utama hidup kita. Dia menjadi harta kita. Seperti kesaksian pemazmur: “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” (Mazmur 73:25)
Namun hari ini, banyak orang percaya masih terikat pada dunia dan dosa. Selama kondisi ini berlangsung, mereka tidak akan masuk Kerajaan Surga—karena mereka tidak berani melakukan barter. Semakin kita melihat keindahan Tuhan, semakin kita bersedia menanggalkan beban dan dosa. Itulah tindakan barter. Rasul Paulus berkata: “Apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku…” Artinya, yang dahulu dianggap mulia dan bernilai, sekarang dianggap rugi. Paulus bukan orang biasa—ia terhormat, sarjana, tokoh penting dalam Yudaisme, bahkan mungkin anggota Sanhedrin. Namun semua itu menjadi tidak berarti setelah ia mengenal Kristus.
Lalu, sejauh mana kita mengenal Dia? Bukan hanya mengenal secara nalar, tetapi mengalami perjumpaan nyata dengan Dia. Jangan sampai kita memiliki banyak harta, hidup terhormat, tetapi ketika mati, dibuang ke neraka—karena tidak pernah melakukan barter. Sebab Tuhan menantang: “Kamu pilih Aku atau yang lain?”