Skip to content

Pengalaman Hidup

 

Kalau kita tidak mengalami perjumpaan dengan Allah, maka kita tidak akan menemukan keindahan, keelokan, keagungan, dan kemuliaan Tuhan serta Kerajaan-Nya. Dan akhirnya, kita tidak pernah mengadakan barter dengan Allah.  Masalahnya, jika kita tidak mengadakan barter, maka kita pasti akan binasa, terbuang dari hadirat Allah, terpisah dari Tuhan. 

Yang ketiga, kita bisa melihat keagungan dan kemuliaan Allah melalui pengalaman hidup. Dari pengalaman hidup inilah kita menemukan jejak Tuhan dalam perjalanan kita. Maka kita harus melatih diri untuk memiliki “sayap sendiri”, untuk terbang sendiri, dan untuk menjumpai Allah secara pribadi.  Kita harus mandiri secara rohani—independen dari manusia, tetapi dependen kepada Tuhan. Jangan bergantung kepada manusia, bergantung pada pendeta, namun lepas dari Tuhan.  Perjumpaan dengan Tuhan harus kita alami sendiri, sebab jika tidak, kita tidak dikenal oleh Tuhan. Tidak mungkin seseorang berkenan kepada Allah tanpa pernah mengalami perjumpaan pribadi. Jadi, jangan berpikir bahwa yang perlu berdoa itu hanya pendeta. Setiap kita membutuhkan Tuhan.

Karena itu, bangunlah doa pribadi—berdialoglah dengan Tuhan sampai kita menemukan bagaimana berdialog dengan Tuhan yang tidak kelihatan itu. Berdoalah sampai tahu bagaimana berdoa, sampai mengerti cara menjalin relasi.  Untuk mengenal seseorang dan membangun koneksi dibutuhkan waktu—terlebih lagi Tuhan, yang tidak kelihatan.  Kita akan mengalami Tuhan dalam kehidupan nyata, ketika kita sudah memiliki perjumpaan pribadi dengan-Nya. Perjumpaan dengan Tuhan akan menginspirasi kita dalam menjalani hidup sehari-hari.

Apa yang dialami oleh tokoh-tokoh iman dalam Alkitab, bisa juga kita alami—tentu dengan kasus yang berbeda, tetapi dengan subjek Allah yang sama. Dia hadir—dan itu seharusnya membahagiakan.  Begitu kita membuka mata di pagi hari, kita bisa berkata: “Aku akan berjalan dengan Tuhan. Aku hidup di hadirat-Nya.”  Itu adalah sukacita, itu membahagiakan hati kita. Meskipun banyak masalah hidup belum selesai, kita tetap mengandalkan Tuhan.  Tuhan yang sama: yang membelah Laut Teberau (Kolsom), yang merobohkan tembok Yerikho, yang mengeringkan sungai Yordan, yang memberi tulah kepada Mesir, yang menurunkan api membakar korban Elia, yang melindungi Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dari api dapur perapian,      dan yang membungkam mulut singa ketika Daniel di gua singa—  Itu Allah yang sama, dan Dia juga ada dalam hidup kita sekarang!

Kita harus mengalami jejak Tuhan dalam hidup kita secara spesifik. Seandainya sejarah hidup pribadi kita ditulis, maka harus tampak di situ jejak Tuhan.  Kalau sejarah hidup Abraham ditulis, di dalamnya kita melihat campur tangan Tuhan.  Jangan hanya menalar Allah. Banyak teolog yang hebat dalam bicara, tapi tidak mengalami Tuhan. Maka, perkataan mereka bisa kejam, bengis, bahkan lebih jahat daripada orang awam.  Kita bisa berhubungan dengan Tuhan sampai kita memiliki kepekaan rohani. Roh Kudus akan memimpin kita untuk bisa menilai dengan bijaksana.

Kenalilah Tuhan melalui pengalaman hidup. Dari pengalaman itulah kita bisa mengerti betapa berharganya Tuhan itu.  Jadi, kemuliaan dan keagungan Allah kita kenali: melalui nalar—dengan mendengar dan merenungkan firman-Nya, melalui perjumpaan pribadi, melalui pengalaman hidup.  Jangan sampai kita tidak melihat jejak Tuhan dalam hidup kita. Jangan sampai kita tidak mengagumi apa yang terjadi dalam hidup kita.  Tapi kalau kita berjalan bersama Tuhan, maka kita pasti bisa melihat dan mengagumi jejak Tuhan—dan kita akan berkata, “Tuhan itu hidup!”  Percuma datang ke gereja, ikut kebaktian, kalau kita tidak mengalami Allah yang hidup dalam perjalanan hidup sehari-hari.  Kita harus sampai pada tingkat mengagumi Allah, melalui pengalaman pribadi yang nyata.  Dan jangan heran, jika karena itu Tuhan membawa kita kepada pergumulan-pergumulan yang berat— supaya kita melihat jejak-Nya, mengalami kehadiran-Nya, dan sungguh mengenal Dia yang hidup.