Ada satu hal yang harus kita ingat, bahwa kekristenan itu adalah tindakan barter. Hal ini dikemukakan Tuhan Yesus sendiri dalam Injil Matius 13, ketika Ia menyampaikan perumpamaan tentang harta terpendam dan mutiara yang berharga. Matius 13:44–46: “Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya, lalu membeli mutiara itu.”
Kemungkinan besar kita melupakan bahwa langkah utama dalam kekristenan adalah tindakan barter ini. Setelah menjalani hidup kekristenan sekian lama, bahkan mungkin setelah sering mendengar khotbah dari ayat-ayat ini, kita bisa saja melupakan bahwa proses barter itu bukan satu langkah, bukan seperti satu titik, melainkan seperti sebuah garis panjang. Masalahnya adalah kesediaan kita untuk menerima pendidikan Tuhan atau ajaran Tuhan, supaya mata hati kita makin memahami kemuliaan dan keagungan Kerajaan Surga. Tentu, kemuliaan dan keagungan Kerajaan Surga tidak bisa dipisahkan dari kemuliaan dan keagungan Allah sendiri.
Pertama, kemuliaan dan keagungan Allah kita pahami melalui perjalanan waktu—melalui nalar kita terhadap kebenaran-kebenaran yang disampaikan. Baik lewat khotbah—yang kita dengar langsung maupun tidak langsung—melalui buku yang kita baca, percakapan, diskusi, atau seminar rohani, kita membangun pengertian dari nalar kita mengenai kebenaran.
Kedua, melalui perjumpaan pribadi dengan Tuhan dalam doa. Di situlah kita bisa merasakan kehadiran Tuhan. Dalam pengalaman ini, memang ada unsur adikodrati—dan hal ini sangat bersifat pribadi. Seperti halnya seseorang yang mengalami perjumpaan dengan roh jahat—itu bukan sesuatu yang bisa dijelaskan secara logis. Meski tidak rasional menurut akal, alam roh itu nyata.
Demikian pula dengan Allah yang hidup, nyata, dan Mahahadir—Dia dapat dijumpai, dan seseorang benar-benar bisa mengalaminya. Kalau tidak, maka Alkitab tidak pernah akan ada. Jika kita pergi ke Israel—di mana terdapat peninggalan sejarah dari masa lampau—kita akan menemukan jejak Tuhan. Bahwa peristiwa-peristiwa yang tertulis dalam Alkitab bukanlah dongeng, bukan fiksi, tetapi nyata. Dan jika peninggalan-peninggalan itu—termasuk artefak dan lainnya—benar-benar ditemukan, berarti sejarah itu memang pernah terjadi. Apa yang kita lihat itu bisa membuat kita seperti “kesetrum”.
Namun di dunia kita saat ini—khususnya di dunia Barat yang telah menjadi sangat sekuleristis—hal-hal semacam ini menjadi sulit dipahami. Dunia kita sangat dipengaruhi oleh pemikiran nihilistik, di mana Allah dianggap tidak ada atau tidak perlu ada. Dewa-dewa dianggap bohong. Segalanya ditolak. Tetapi kita percaya bahwa kisah dalam Alkitab itu benar. Filsafat-filsafat nihilisme dan sekularisme tidak lepas dari perkembangan kejahatan, dari manusia yang memuaskan nafsu daging, dan yang menolak keberadaan Allah. Maka jangan sampai atmosfer nihilistis ini memengaruhi kita!
Di negara kita—yang berdasarkan sila “Ketuhanan Yang Maha Esa”—kita menyaksikan kebejatan moral. Secara teori ber-Tuhan, namun secara praktik ateis. Dan hal ini bisa merusak keyakinan kita terhadap Allah yang hidup dan nyata. Sehingga, perjumpaan dengan Allah inilah yang akan membuat kita bisa menemukan kemuliaan dan keagungan Allah serta Kerajaan-Nya. Yang pertama, melalui pengertian nalar kita. Kita harus banyak mendengar kebenaran. Yang kedua, melalui perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Tetapi karena pengaruh nihilisme ini, orang menjadi malas berdoa—dan kalau pun berdoa, tidak sanggup lama, karena menganggap Tuhan itu tidak ada.