Skip to content

Harta di Surga

 

Kita dijadikan sebagai anak-anak Allah agar roh kita menjadi roh yang sempurna, dalam arti memiliki nurani yang cerdas seperti nurani Allah. Maka perlu diingat, roh kita bukan berasal dari tempat lain, melainkan dari dalam Allah sendiri. Ketika menciptakan Adam, Allah menaruh roh-Nya ke dalam manusia. Oleh karena itu, dalam Yakobus 4:4 dikatakan, “Bukan tanpa alasan jika Kitab Suci berkata, roh yang ditempatkan di dalam diri kita diingini dengan cemburu.” Kecemburuan ini menunjuk pada hak Allah atas roh itu, karena Allah menghendaki agar roh tersebut kembali kepada-Nya. Maka, sebutan “anak-anak Allah” bukanlah sekadar gelar formalitas, melainkan memiliki makna yang mendalam.

Roh yang disempurnakan memiliki nurani yang cerdas (spiritual quotient), di mana tindakannya presisi dan tepat. Kita dipanggil untuk menjadi sempurna seperti Bapa di surga. Namun, hal ini tidak berarti kita menyamai Allah. Salah satu ciri orang yang memiliki kecerdasan rohani adalah tidak pernah melukai sesama. Ciri lainnya, ia tidak membanggakan diri atas apa yang dimilikinya dan justru gemar berbagi. Ia juga akan turut menangis bersama orang yang menangis, hatinya dapat melebur dengan siapa saja tanpa dipengaruhi oleh orang lain. Oleh sebab itu, Tuhan membentuk kita melalui berbagai peristiwa hidup, agar nurani kita menjadi sempurna. Proses ini tentu tidak mudah dan tidak dapat dicapai dalam waktu singkat, melainkan memerlukan perjuangan yang berat. Namun, penyempurnaan ini hanya dialami oleh umat pilihan dalam Perjanjian Baru.

Dalam Perjanjian Lama, standar kehidupan diukur berdasarkan pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Namun, dalam Perjanjian Baru, tolok ukurnya adalah pikiran dan perasaan Allah sendiri. Oleh karena itu, jika kita melewati satu hari tanpa menyadari berkat kekal yang Tuhan sediakan, kita pasti tidak akan mencapai kesempurnaan. Maka, kita harus mengejar ketertinggalan tersebut. Jangan sampai kesempatan itu hilang begitu saja. Bersyukurlah bagi anak-anak muda yang sejak dini telah mengenal kebenaran. Ketika mereka tua kelak, mereka pasti akan lebih sempurna dibandingkan kita hari ini.

Pada hakikatnya, hidup akan terasa bermakna apabila kita memiliki tujuan dan target yang jelas. Target utama kita adalah kekekalan. Setiap hari kita harus mengumpulkan harta di surga. Harta ini bukan diperoleh secara instan, melainkan merupakan hasil akumulasi proses hidup. Sesungguhnya, harta di surga merupakan kesempurnaan dalam Tuhan. Oleh sebab itu, dikatakan bahwa mata adalah pelita tubuh; jika matamu gelap, maka gelaplah seluruh tubuhmu. Yang dimaksud di sini adalah pengertian kita terhadap kebenaran. Jika kita hanya menjadi orang Kristen yang baik secara moral saja, iblis justru akan merasa tenang dan senang, sebab standar kekristenan bukan hanya menjadi orang baik, melainkan menjadi anak-anak Allah yang memiliki kodrat ilahi.

Roh kita berasal dari Allah, dan Allah menghendaki agar roh yang ditempatkan-Nya dalam diri kita memiliki nurani dan kesadaran seperti Allah. Yesus dipenuhi oleh Logos, yang juga merupakan kepenuhan Allah, sehingga Ia berpikir dan bertindak seperti Allah. Oleh karena itu, kepada-Nya diberikan kuasa untuk menghakimi dan memerintah. Bukankah orang percaya akan turut menghakimi dan memerintah bersama Yesus? Maka, kita harus melalui proses itu. Sungguh, kita memiliki panggilan yang mulia. Dalam Roma 8:17 dikatakan, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, yaitu ahli waris Allah, dan yang akan berhak menerima janji-janji Allah bersama-sama dengan Kristus.”

Namun, kemuliaan ini tidak diberikan kepada sembarang orang. Hanya mereka yang memiliki kemampuan berpikir dan berperasaan seperti Allah yang layak menjadi hakim dan turut memerintah dalam kesempurnaan seperti Yesus. Hal ini sepenuhnya tergantung pada kita masing-masing, apakah selama hidup ini kita sungguh-sungguh menyerahkan diri untuk diproses, agar pada akhirnya kita layak dimuliakan bersama Kristus. Oleh karena itu, jangan sampai berkat-berkat kekal yang Allah sediakan setiap hari terlewatkan hanya karena kita kurang fokus terhadap perkara kekal tersebut. Jangan berhenti sampai kita menutup mata.