Skip to content

Tidak Merasa Memerlukan Tuhan

 

Tanpa disadari, banyak orang Kristen bersikap bermusuhan terhadap salib Kristus. Firman Tuhan menyatakan: “Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi” (Filipi 3:19).  Jika fokus hidup seseorang hanya tertuju kepada perkara duniawi, maka berkat-berkat berharga yang Tuhan sediakan setiap hari tidak akan dikenali, bahkan akan diinjak-injak, dicampakkan, dan direndahkan. Puji Tuhan, karena Ia panjang sabar. Sekalipun kita tidak setia, Dia tetap setia. Namun, kesabaran Allah bukan alasan untuk terus-menerus hidup dalam ketidaktaatan. Akan tiba satu titik di mana kesempatan untuk bertobat bisa hilang. 

Iblis, dengan kecerdikannya, berusaha mengalihkan perhatian kita dari Tuhan. Ia membuat kita sibuk dengan berbagai persoalan: masalah ekonomi, anak, mertua, dan lain sebagainya. Bahkan bagi mereka yang tidak memiliki banyak masalah, Iblis menyesatkan mereka dengan kesenangan duniawi yang terus berganti. Padahal, salah satu ciri kedewasaan rohani adalah ketika seseorang makin sadar bahwa dunia ini tidak dapat memberikan kebahagiaan sejati. Sebaliknya, orang yang belum dewasa secara rohani akan terus mengejar hal-hal duniawi, merasa bahwa hidupnya akan lebih bahagia, lebih lengkap, dan lebih sempurna jika ia bisa mencapai sesuatu yang masih ia kejar. 

Sungguh patut disyukuri apabila Tuhan mengizinkan kita menghadapi kesulitan, penderitaan, dan kekecewaan. Melalui semua itu, kita dituntun untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Bersyukurlah apabila kita dibawa kepada kondisi di mana satu-satunya jalan adalah memandang kepada Tuhan, hingga kita bisa berkata, “Tuhan, aku menaruh hatiku kepada-Mu. Aku ingin memiliki tempat di hati-Mu.”  Namun, ada pula orang yang, meskipun sudah menghadapi situasi seperti itu, tetap tidak mau bertobat. Akibatnya, mereka menjadi stres, depresi, bahkan mengalami kemunduran jiwa. Ketika usia semakin menua, mereka menjadi pemarah, cepat tersinggung, dan hidup dalam kekecewaan karena harapan atau impian masa mudanya tidak tercapai. Jiwanya sakit.

Sebaliknya, jika hidup kita terasa baik-baik saja dan tidak menghadapi banyak masalah, justru kita perlu lebih berhati-hati. Bisa jadi, kita tidak merasa memerlukan Tuhan. Alkitab sendiri menyatakan bahwa “Orang kaya sukar masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 19:23). Ketika seseorang hanya berpikir tentang hal-hal duniawi, ia tidak akan mengenali berkat kekal yang Tuhan sediakan—yaitu pembentukan-Nya untuk menjadikan kita mulia.  Tuhan ingin agar nurani kita menjadi seperti nurani-Nya, yaitu nurani yang ilahi. Firman Tuhan menyatakan bahwa roh manusia (Ibr. neshamah) adalah pelita Tuhan (Amsal 20:27). Dalam bahasa Ibrani, kata “roh” bisa diterjemahkan sebagai ruakh—yang menunjuk pada unsur kehidupan—dan juga sebagai neshamah, yang lebih mengacu pada unsur kesadaran.

Jadi, apabila jiwa seseorang dipenuhi dengan hal-hal yang buruk, maka nuraninya juga akan rusak. Rohnya tidak akan menjadi roh yang layak untuk menerima tubuh kemuliaan kelak.  Untuk membentuk nurani yang ilahi, diperlukan proses. Allah memiliki “kurikulum” untuk membawa manusia kembali kepada kodrat ilahi—yakni moralitas dan karakter Allah. Ini adalah bagian dari cara Allah menangani kerusakan akibat dosa warisan Adam. Melalui berbagai peristiwa hidup, Allah bekerja sampai kita menjadi serupa dengan Kristus (lih. Roma 8:28). 

Yesus sendiri menegaskan pentingnya kesetiaan dalam hal-hal kecil dan duniawi. Dalam Lukas 16:11 tertulis: “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapa yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?”  Ini berarti bahwa jika seseorang masih berfokus pada hal-hal duniawi, ia tidak akan dapat mengenal kebenaran. Tanpa pengenalan akan kebenaran, nuraninya pun tidak akan terbentuk. Oleh karena itu, sungguh luar biasa bila kita dapat menjadi bagian dari umat pilihan Allah.  Yesus berkata, “Kamu harus sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48). Bila Yesus menyampaikan hal ini, maka pastilah Ia sendiri telah mengalami dan lulus dalam proses tersebut. Ia harus berjuang hingga mencapai kesempurnaan, dan setelah itu Ia menjadi Aitios—pokok keselamatan—bagi semua orang yang taat kepada-Nya (lih. Ibrani 5:9).