Kalau kita masih terikat dengan kodrat dosa, maka hal itu akan melahirkan perbuatan-perbuatan yang mendukakan hati Allah. Maka, masalahnya bukan sekadar terkoreksinya dosa-dosa yang telah kita lakukan, tetapi potensi dosa di dalam diri kita yang harus diselesaikan. Agar lembar hidup kita ke depan adalah lembar-lembar yang indah, yang baik dan yang menyenangkan hati Allah. Merupakan lembar hidup yang menghormati Tuhan, mencintai Tuhan, menyenangkan hati Tuhan. Kalau kita tidak serius menyelesaikan kodrat dosa, maka dosa itu tidak tersalibkan. Sebaliknya, dosa itu masih dihidupi. Jika demikian, tentu kita tidak layak masuk surga. Akhirnya, orang-orang seperti ini terbuang ke dalam Api Kekal.
Dosa yang tak terampuni adalah kodrat dosa dalam diri kita yang tidak diselesaikan sehingga melahirkan perbuatan-perbuatan yang tidak indah, yang tidak membuat catatan atau Buku Kehidupan yang baik. Karenanya, jika kita mengaku sebagai pengikut Tuhan, maka kita harus belajar dan mau berubah. Jangan merasa sudah mengerti lalu berhenti belajar. Sebaliknya, kita harus selalu mempertanyakan, apa yang kita harus lakukan selanjutnya? Jika kita mau berubah, maka Tuhan mengoreksi dosa-dosa kita, catatan hidup masa lalu kita. Tidak bisa tidak. Ini pengalaman yang pasti dialami oleh setiap orang Kristen yang sungguh-sungguh, di mana Roh Kudus mengoreksi kesalahan kita. Dan kalau kita akui, kita minta ampun, Tuhan menghapus dosa-dosa kita dan menganggapnya tidak pernah terjadi. Namun, nanti dulu. Jangan berbuat dosa lagi!
Sekarang masalahnya, bagaimana kita mengisi lembar-lembar hari hidup kita ke depan. Lembar-lembar hari yang Tuhan berikan, harus kita hargai. Kita tidak bisa menambahkan sehasta saja umur hidup kita. Tidak usah satu tahun, satu bulan pun kau tidak sanggup. Jangankan satu bulan, satu hari pun kita tidak sanggup. Jangankan satu hari, satu jam pun tidak sanggup. Jangankan satu jam, satu menit engkau tidak bisa tambahkan umurmu. Jadi kalau Tuhan memberikan satu hari yang baru, betapa berharganya lembar itu. Maka, jangan isi dengan rekam jejak hidup yang busuk di hadapan Allah. Jangan isi dengan kisah hidup yang tidak bernilai, tidak berharga di mata Allah. Buatlah catatan hidup yang bernilai, dan Tuhan memerintahkan; “Simpan catatan ini.”
Jadi dosa yang tidak diampuni adalah kodrat dosa yang melahirkan perbuatan-perbuatan yang melukai Tuhan. Darah Yesus ditumpahkan untuk menyelesaikan dosa-dosa yang telah kita lakukan, perbuatan-perbuatan salah kita. Tetapi kodrat dosa, sifat dosa di dalam diri kita, harus diselesaikan dengan serius supaya tidak melahirkan perbuatan-perbuatan yang melukai hati Tuhan. Tetapi perbuatan-perbuatan yang indah, yang tercatat dalam Kitab Sejarah Hidup kita masing-masing, akan dilestarikan di kekekalan. Setiap lembar itu berharga. Bayangkan kalau suatu hari kita meninggal, dan kita tidak pernah punya kisah hidup yang baik, maka kita tidak layak masuk Kerajaan Surga.
Sering kali orang mengajar doktrin yang salah; “Pokoknya kalau sudah selamat, mau apa pun yang terjadi, akhirnya kamu selamat.” Itu adalah catatan doktrin yang salah berabad-abad, membuat kekristenan menjadi bangkrut dan mati. Alkitab jelas mengatakan, “kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Maka orang harus melihat aspek ini: dikuduskan oleh darah Yesus, tetapi juga dikuduskan oleh firman. Tentu, pertama, Roh Kudus akan menuntun kita supaya firman itu kita pahami. Kedua, Roh Kudus pasti menuntun kita bagaimana firman itu kita kenakan. Sehingga pada akhirnya, perbuatan kita itu merupakan petualangan Roh Kudus dan kita. Catatan petualangan Tuhan bersama kita, yang tentu diwakili oleh Roh Kudus.
Jadi catatan hidup kita itu kolaborasi perjalanan bersama dengan Tuhan. Kalau tidak bersama dengan Tuhan, tidak layak dicatat. Betapa indah hidup ini, sebagai orang percaya yang diperkenan berjalan dengan Tuhan. Kalau kita menganggap ini penting dan berharga, kita bisa melepaskan apa pun. Dan Tuhan Yesus memang berfirman, “kalau kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, kamu tak dapat jadi murid-Ku.” Pertanyaannya, apakah kita mau serius ikut Tuhan?