Skip to content

Harus Sengaja

 

Mencari Tuhan itu bukan berarti tidak mengenal Tuhan. Namun hal ini adalah soal kedalaman hubungan dan pengenalan akan Allah yang dicari itu. Allah itu tidak terbatas. Maka kita juga harus mengenal dan mengalami Dia secara tidak terbatas. Bersyukur, kita mempunyai akses untuk mengenal Allah semesta alam oleh karena kurban Yesus di kayu salib. Tapi jika kita tidak masuk ke kedalaman Tuhan, kita pasti akan sangat menyesal. Maka, tutup pintu, kunci dan berdialoglah dengan Dia, supaya kita semakin mengenal Dia dan mengerti kehendak-Nya.  Sejujurnya, kita sering kali salah memilih jalan, karena kita tidak bertanya dulu kepada Roh Kudus. Tuhan mau berurusan dengan kita dalam segala hal karena kita adalah milik-Nya, dan tubuh kita adalah bait-Nya. 

Berurusanlah dengan Tuhan sedalam-dalamnya. Masuklah di dalam hadirat Tuhan dan dengarlah suara-Nya, sampai kita jatuh cinta dan tidak bisa menarik cinta itu kembali. Ingat pesta di Kana ketika Yesus mengubah air jadi anggur, pemimpin pesta berkata, “Biasanya orang pesta itu memberi anggur yang baik dulu, baru yang kurang baik, tapi kenapa ada anggur sebaik ini di sini?” Itu Tuhan yang melakukan. Tuhan memberi yang terbaik belakangan. Semakin kita dekat Tuhan, semakin kita menerima yang terbaik, sampai kita tercandui dengan Tuhan. Kalau kita mencintai Tuhan sedalam itu, Tuhan pasti merasa, dan Tuhan juga pasti membalas cinta kita. Dan kalau sampai Tuhan merasakan cinta kita, Tuhan akan selalu beri jalan dan akan lindungi kita. 

Kita harus sengaja mencintai Tuhan dan merasakan Dia, jadi bukan mengalir saja. Dalam hal ini, kalau kita mengalir saja, maka kita akan diarahkan Iblis ke arah lain. Kita harus mempunyai ketetapan, “Aku mau mencari Tuhan.” Kalau sampai hati kita bisa pecah lalu kita mengatakan, “Aku mengasihi-Mu, Tuhan, dengan segenap hati, jiwa dan kekuatanku,” maka kita akan dicintai Tuhan. Tidak ada yang lebih hebat dari ini. Kalau sampai tangis cinta kita sampai ke takhta Tuhan, kita lebih berharga dari seluruh harta di dunia ini. Kalau sampai kita bisa berkasih-kasihan dengan Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, yang memiliki segala kuasa, Kerajaan, dan kemuliaan, apa lagi yang kurang? 

Adalah bodoh kalau kita tidak membangun cinta dengan Sang Pribadi Agung. Mungkin di antara kita ada yang tidak mengerti, kenapa tidak bisa membangun cinta yang demikian? Itu karena hati kita terlalu jauh, tidak pernah merasakan dan mengenali Allah yang hidup. Namun ingatlah, waktu kita singkat. Kita hanya mempersiapkan diri pulang ke surga, tidak ada jurusan lain kecuali Kerajaan Surga. Percaya Tuhan itu hidup dan Dia mau memberi yang terbaik. Tuhan ingin kita berkeadaan baik-baik. Namun harganya itu mahal. Tapi kalau orang jatuh cinta, dia tidak pernah kenal lelah. Lalu mengapa untuk Tuhan kita membatasi diri? Padahal Tuhan selalu menghitung apa yang kita lakukan untuk-Nya. 

Teruslah menanti Tuhan membuka pintu untuk kita, dan rasakan Tuhan memeluk kita. Genggam tangan Tuhan, dan Dia tidak akan melepaskannya. Ketika kita mengerti kehendak Allah, dan kita mencintai Tuhan lebih dari segalanya, di sanalah kita merasakan damai sejahtera-Nya, itu indikator bahwa kita lewat jalan lain. Jadi saat kita hendak mengambil keputusan, tetapi damai sejahtera kita hilang, maka jangan ambil keputusan dulu. Masalahnya, kalau kita masih dibahagiakan oleh materi dunia, maka kita tidak mempunyai ukuran yang presisi. Oleh sebab itu, kita harus memacu hasrat kita untuk mencintai Tuhan. Sekalipun kita dipandang konyol, karena kita akan dipandang semakin berbeda dengan dunia sekitar. Selama masih ada kesempatan, Tuhan membuka tangan-Nya untuk menerima kita. Berlarilah ke dalam pelukan-Nya, atau kita akan kehilangan kesempatan yang tak ternilai ini.